Rabu, 13 Agustus 2014

Mencari Makna "Krisis"  by : Abdullaah Muadz


” Begitu Jelas kerusakan yang terjadi didaratan dan dilautan, yang smua itu disebabkan oleh ulah tangan manusia, maka sengaja Kami timpakan siksa dari sebagian akibat perbutan mereka, agar mereka mau kembali kepada Allah SWT.”   ( Surah Ar-Ruum (30) ayat : 41 )

Menjelang kejatuhan Soeharto hingga hari ini kata ”Krisis” terus dikumandangkan. Berbagai seminar diskusi dan workshop telah digelar. Sampai kepada Presiden pun membentuk team penanggulangan krisis. Tetapi ternyata kita makin terpuruk, makin mundur kebelakang. Jangankan untuk bisa menyelesaikannya, mengerti arti krisis saja masih harus dipertanyakan.

          Apakah Mereka yang sering bicara krisis, sampai berbusa itu mulut, sudah mengeri apa arti krisis?. Apakah sudah terinternalisasi dalam jiwa dan hatinya. Apakah kita siap membangun negara ini dengan paradigma krisis. Apakah kita siap menyusus APBN dan APBD dengan asumsi bahwa negara kita sedang Kere.

          Ternyata  semua masih dipertanyakan. Kalo kita lihat gaya hidup dan prilaku masyarakat sehari-hari tidak mencerminkan sedikitpun bahwa kita sedang krisis. Yang antri beras bisa pegang HP, yang di Tenda pengungsian masih bisa joged. Begitu juga acara-acara di Televisi kita lihat sama persis dengan negara-negara maju, bahkan lebih glamour dan lebih norak dari negara yang sudah maju.
          Jadi yang perlu kita sepakati lebih dahulu adalah benar atau tidak sih kita sedang krisis...? Kok yang beli BMW bisa Indent, Real Estate laku keras, villa mewah kaya kacang goreng, jual motor di tenda pinggir jalan sama dengan jual pecel lele, apalagi yang jual HP cukup dengan lapak-lapak. Mall-mall, ITC tumbuh subur kaya jamur dimusim hujan. Sekali lagi apanya yang krisis…?

          Melihat pemandangan itu sepertinya negara kita sudah sangat makmur dan sudah sangat maju..??? apa sebenarnya terjadi pada bangsa ini. Disisi lain orang sedang banyak yang teriak-teriak krisis. Jadi apa yang krisis..? diamana krisis itu ada...? kaya apa sih sebenarnya kalo kita sedang krisis.. dan pertanyaan lainnya.

          Aneh tapi nyata kita sering mendengar berita orang yang antri beras miskin, bahkan sampai ada yang mati terjepit, ada antri minyak tanah, ada sudah biasa makan tiwul dan gaplek, ada yang sudah sering makan nasi aking, seorang petani bisa makan dengan lauk pauk hanya tiga gari setelah panen. Setelah itu biasa makan dengan sambal dan lalapan. Bahkan baru-baru ini kita mendengar seorang ibu dan seorang anak meninggal karena kelapran di Sulawesi Selatan, lumbungnya padi. Angka kelaparan, busung lapar, kurang gizi terus bertambah. Bellum lagi pengemis, pengamen, copet, pencurian, perampokan dan  sebagainya ada dimana mana.

     Dalam kondisi kere seperti ini kita melihat pola tingkah laku anak bangsa dengan gaya hidupnya yang tidak sama sekali mencerminkan bahwa negara ini sedang krisis.

          Lebih jelas lagi bisa kita lihat dalam penyusunan APBD dan APBN, sama sekali tidak mencerminkan negara kita sedang krisis. Inefisiensi masih terus ada. Anggaran untuk simbol kemewahan, ceremonial, gagah-gagahan, pamer gengsi, atribut upacara, sampai kepada proyek fiktif masih terus berlangsung. Bisa kita banyangkan jika anggaran sepak bola berpuluh kali lipat dari pada anggaran Kesra. Ada daerah anggaran sepak bola 17 miliyar sementara anggaran Kesra 100 Juta. Ada juga sepak bola 7 miliyar anggaran pembinaan UKM (Usaha Kecil Menengah) Cuma 25 juta..??? Alhamdulillah sekarang sudah ada Keputusan Mendagri tetang penggunaan APBD.

          Rupanya banyak pejabat yang nyaman, kerena sudah merasakan nikmatnya berpuluh-puluh tahun kebobrokan negara ini. Sebaliknya mereka merasa terancam jika terjadi reformasi yang sesungguhnya, mareka takut terhenti kenikmatannya kalau negara ini menjadi lebih baik. Sehingga bagaikan narkoba, dipakai terus makin membayakan, ditinggalkan susah karena sudah kecanduan. Atau pepatah mengatakan "Mengambil kesempatan dalam kesempitan".

Perlunya Diagnosa Tuntas

          Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi krisis ini, mulai dari wacana sampai pada tindakan nyata. Tapi sangat disayangkan masih bersifat Arifisial, Belum sampai kepada yang lebih subtsansial. Seringkali kesalahan dimulai dari diagnosa yang tidak tuntas, baru menemukan gejala sudah disebut penyakit. Misal seseorang batuk, itu gejala penyakit, bukan nama penyakit, penyakitnya mungkin saja atsma, radang tenggorakan, TBC dan lain lain. Begitu juga panas dingin itu bukan penyakit. Penyakitnya mungkin demam, flu, typus dan sebagainya.

          Kalau sudah ditemukan penyakit dengan tepat baru bisa dicari obat yang pas buat penyakit tersebut. Begitu juga nasib bangsa yang sedang sakit seperti sekarang ini butuh diagnosa yang mendalam, sampai ketemu pangkal persoalannya, atau akar masalahnya. Baru nanti di tentukan kebijakan dan tindakan apa yang tepat untuk menanggulanginya.

          Sebagai contoh kemacetan lalu-lintas yang sering terjadi terutama di Jabodetabek, sebagian besar kesalahan ada pada perencanaan dan tatakota, tapi  yang sering disorot biasanya polisi atau kedisiplinan masyarakat. Ambil kasus Depok, jalan Margonda yang cuma 4 Kilometer didirikan 6 buah pusat keramayan dan perbelanjaan setingkat Mall atau ITC. Belum lagi yang menengah dan toko kecil memenuhi kiri kanan margonda raya. Polisi mana yang sanggup mengatasi dampak kemacetannya. Tetapi mengapa tidak ada yang mempersoalkan tatakota.

          Begitu juga kalau kita bicara korupsi, selalu saja yang jadi sorotan penegakan hukum. Siapa pejabat penegak hukum yang belum pernah mencicipi Kue Korupsi Negara..?. Kalau ada berapa jumlahnya...? Berapa perbandingan antara aparat penegak hukum yang dianggap masih bersih dengan jumlah kasus yang antri untuk diselesaikan. Ada yang berpendapat kita mulai dari menyeret koruptor kelas kakap dulu. Kalau begitu kita butuh penegak hukum berkelas Paus atau Hiu setidak-tidaknya. Harus disiapkan aparat yang bermental baja, berhati malaikat, berkacamata yang sanggup menyensor deretan angka nol dalam gepokan uang, sehingga tidak gemetar ketika mlihatnya.  Akhirnya belunder lagi.

Jarang sekali dibahas mulai dari akar budayanya. Sampai acara ruatanpun masih dipertahankan bahkan dilestarikan, padahal jelas-jelas ritual sogok dan KKN, Irrasional, karena kita disuruh takut dengan tokoh fiktif dalam dongeng yaitu Batarakala. Kita diancam kalau punya anak tunggal laki-laki, anak kembar, di tengahnya laki-laki dan sebagainya. Supaya selamat dari ancaman kita harus mempersembahkan sesuatu dengan acara ritual ruatan.

          Sekarang kita tidak hanya sedang berhadapan sistem yang bobrok, tetapi juga kita behadapan dengan sebuah budaya peradaban serta peradigma yang sangat buobrok. Maka seharusnya tindakan dan kebijakan yang dibuat mengarah bagaimana merubah kultur dan budaya. Harus memikirkan perangkat apa yang harus dipersiapkan merubah budaya yang sudah seperti ini. Bukan kebijakan yang tambal sulam, jangka pendek apalagi kebijakan prgamatis untuk modal bertarung pada pemilu yang akan datang.

          Belum terlihat figur-figur yang betul-betul serius memperjuangkan nasib rakyat dan bangsa. Yang paling menonjol sekarang ini adalah perlomba’an untuk mempersiapkan pemilu demi pemilu. Persaingan untuk mendapatkan kursi-kursi empuk dan basah. Perebutan sarana-sarana penunjang untuk mendokrak suara. Sampai pada melirik bokong-bokong bahenol untuk diajak ngebor dipanggung kampanye agar bisa menyedot massa yang lebih banyak.

Rabu, 16 Juli 2014



Catatan I’tikaf 1 : Pengertian I’tikaf

Catatan I’tikaf 1 : Pengertian I’tikaf

Catatan I’tikaf 1 : Pengertian I’tikaf
16 September 2009 pukul 22:59
Adalah Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, selalu menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari Siti ‘Aisyah).
Hadis dari Siti ‘Aisyah tersebut memberi isyarat tentang adanya sunnah Rasul yang khusus dalam menghadapi sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Pada hari-hari itu, Rasul biasa menghidupkan malam dan mengisinya dengan berbagai macam kegiatan ibadah yang menunjukkan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Rasul juga mengajak istri dan keluarganya serta para sahabat untuk melakukan kegiatan yang sama. Inilah yang disebut dengan kegiatan I’tikaf Asyrul – Awahir.
I’tikaf, seperti dijelaskan didalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 187, adalah berdiam diri di masjid melakukan kegiatan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Selain itu, dalam beri’tikaf, kita diharapkan melakukan kegiatan muhasabah (introspeksi diri) terhadap hal-hal yang lalu, melihat kekurangan dan kelemahan diri, untuk kemudian berusaha memperbaiki diri, meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Dalam kegiatan i’tikaf ini diharapkan ada dialog internal dengan diri sendiri secara intensif, ada proses pengenalan diri dan penyadaran diri secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya, masihkah kita secara konsisten menjadi hamba Allah SWT, atau telah bergeser menjadi hamba perut, hamba seksual, hamba materi, hamba kedudukan atau jabatan?
Untuk sampai pada proses tersebut, dalam i’tikaf kita ”dipandu” dengan kegiatan-kegiatan taqarrub seperti berdoa’, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, membaca dan mentadabburi ayat-ayat Alquran. Kita pun dianjurkan untuk membawa dan mempelajari Sunnah Rasul-Sirah Nabawiyyah, salat sunnah seperti tahajjud, taubat, hajat, ataupun mendengarkan ceramah dan nasihat agama. Ada doa yang dianjurkan dibaca ketika kita melakukan i’tikaf seperti dikemukakan dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Ahmad, Ibn Majah dan Nasai dari Siti ‘Aisyah, bahwa Rasulullah menganjurkan membaca doa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni (Ya Allah, sesungguhnya engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun, ampunilah kami dari segala dosa dan kesalahan).
Dalam beri’tikaf kita boleh melakukan kegiatan-kegiatan tambahan yang memperkuat kesadaran diri kita kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia, misalnya berdiskusi tentang problematika ummat, membicarakan konsep-konsep Islam tentang masalah-masalah kehidupan atau hal-hal yang situasional dan kondisional yang berhubungan dengan jamaah masjid di lingkungan kita. Pendeknya memperkuat komitmen keimanan dan ketakwaan yang terjabar dalam semua aktifitas yang akan kita lakukan. Dengan demikian, maka tujuan i’tikaf adalah sama dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri, yaitu mudah-mudahan menjadi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah ayat 183).
ADAB I’TIKAF
Secara harfiyah, I’tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, I’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Penggunaan kata ‘’tikaf di dalam Al-Qur’an terdapat pada firman Allah Swt yang artinya: Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa (QS 2:187).
Ayat lain yang menyebutkan kata I’tikaf dan ini dikaitkan dengan keharusan membersihkan masjid yang menjadi tempat I’tikaf adalah firman Allah yang artinya: Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, I’tikaf, ruku dan sujud” (QS 2:125).
Di dalam Islam, seseorang bisa beri’tikaf di masjid kapan saja, namun dalam konteks bulan Ramadhan, maka dalam kehidupan Rasulullah Saw, I’tikaf itu dilakukan selama sepuluh hari terakhir. Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan ( dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah I’tikaf. I;tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam memelihara dan meniingkatkan keislamannya, khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer
Hukum I’tikaf
Para Ulama telah berijma’ bahwa I’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari . A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “ adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan “ (HR. Bukhori dan Muslim)
Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian pula halnya dengan para shahabat dan istri Rasulullah Saw senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: “Sepengetahuan saya tak seorangpun ulama mengatakan I’tikaf bukan sunnat”.
Keutamaan Dan Tujuan I’tikaf
Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah anda hadits yangmenunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad Menjawab: tidak kecuali hadits lemah.Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para Shahabat, para Istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.
I’tikaf disyariatkan dalam rangka mensucikan hati dengan berkonsentrasi semaksimal mungkin dalam beribadah dan bertaqorrub kepada Allah pada waktu yang terbatas tetapi teramat tinggi nilainya. Jauh dari rutinitas kehidupan dunia, dengan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kholik ( Pencipta ). Bermunajat sambil berdo’a dan beristighfar kepadaNya sehingga saat kembali lagi dalam aktivitas keseharian dapat dijalani secara lebih berkualitas dan berarti.
Ibnu Qoyyim berkata : I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, berkhalwat denganNya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.
Macam-Macam I’tikaf
I’tikaf yang di syari’atkan ada dua macam :
1. I’tikaf sunnah yaitu I’tikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah seperti I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan.
2. I’tikaf wajib yaitu yang didahului dengan Nadzar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf di masjid selama tiga hari“, maka I’tikaf tiga hari itu menjadi wajib hukumnya.
Waktu I’tikaf
Untuk I’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan I’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat, minimal dalam madzhab Hanafi: sekejap tanpa batas waktu tertentu, sekedar berdiam diri dengan niat. Atau dalam madzhab Syafi’I; sesaat, sejenak (yang dikatakan berdiam diri ), dan dalam madzhab Hambali, satu jam saja.
Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tadi, waktu I’tikaf yang paling afdhal pada bulan Ramadhan ialah sebagaimana dipraktekkan langsung oleh Baginda Nabi SAW yaitu 10 hari terakhir bula Ramadhan.
Syarat-Syarat I’tikaf
Orang yang I’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Muslim
2. Ber-akal
3. Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas
Oleh karena itu I’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu mebedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.
Rukun I’tikaf
1. Niat yang ikhlas, hal ini karena semua amal sangat tergantung pada niatnya.
2. Berdiam di masjid (QS Al-Baqoroh : 187)
Disini ada dua pendapat ulama tentang Masjid tempat I’tikaf . Imam Malik membolehkan I’tikaf disetiap Masjid Sedangkan ulama Hanabilah mensyaratkan agar I’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai untuk shalat jama’ah dan atau shalat jum’at, sehingga orang yang I’tikaf dapat selalu melaksanakan shalat jama’ah dan tidak perlu meninggalkan tempat I’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu I’tikaf di Masjid jami’, karena Rasulullah SAW I’tikaf di Masjid jami’. Lebih afdhol lagi bila dilaksanakan di salah satu dari tiga masjid; masjid al-Haram, masjid Nabawi atau masjid Aqsho.
Awal Dan Akhir I’tikaf
Bagi yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW denga beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke-21 sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang ingin I’tikaf dengan aku, hendaklah ia I’tikaf pada 10 hari terakhir”.
Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, yaitu setelah terbenam matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menunggu sampai akan dilaksanakannya shalat ied.
Hal-Hal Yang Disunnahkan Waktu I’tikaf
Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, do’a dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah – ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Malik, meninggalkan segala aktivitas ilmiah lainnya dan berkosentrasi penuh pada ibadah – ibadah mahdhah.
Dalam upaya memperkokoh keislaman dan ketaqwaan, diperlukan bimbingan dari orang-orang yang ahli, karenanya dalam memanfaatkan momentum I’tikaf bisa dibenarkan melakukan berbagai kajian keislaman yang mengarahkan para peserta I’tikaf untuk membersihkan diri dari segala dosa dan sifat tercela serta menjalani kehidupan sesudah I’tikaf secara lebih baik sebagaimana yang ditentukan Allah Swt dan Rasul-Nya.
Hal-Hal Yang Diperbolehkan.
Orang yang beri’tikaf bukan berarti hanya berdiam diri di masjid untuk menjalankan peribadatan secara khusus, ada beberapa hal yang dibolehkan:
1. Keluar dari tempat I’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Bukhori Muslim).
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
3. Keluar ke tempat yang memang amat diperlukan seperti untuk buang air besar dan kecil, makan, minum, (jika tidak ada yang mengantarkan), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya.
4. Makan, minum dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid
Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaf
1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan meninggalkan masjid berarti mengabaikan salah satu rukun I’tikaf yaitu berdiam di masjid.
2. Murtad (keluar dari agama Islam).
3. Hilang Akal, karena gila atau mabuk
4. Haidh.
5. Nifas.
6. Berjima’(bersetubuh dengan istri), tetapi memegang tanpa nafsu (syahwat), tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan Istri-istrinya.
7. Pergi shalat Jum’at (bagi mereka yang membolehkan I’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)
I’tikaf Bagi Muslimah
Sebagaimana disunnahkan bagi pria, i’tikaf juga disunnahkan bagi wanita. Sebagaimana istri Rasulullah Saw juga melakukan I’tikaf, tetapi selain syarat-syarat yang disebutkan diatas, I’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat sbb:
1. Mendapatkan persetujuan (ridho) suami atau orang tua. Dan apabila suami telah mengizinkan istrinya untuk I’tikaf, maka ia tidak dibolehkan menarik kembali persetujuan itu.
2. Agar tempat dan pelaksanaan I’tikaf wanita memenuhi tujuan umum syari’at . Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syari’at I’tikat adalah berdiam di masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dipakai wanita untuk beri’tikaf. Tetapi yang lebih afdhol –wallahu a’lam- ialah I’tikaf di masjid (tempat shalat) di rumahnya. Manakala wanita mendapatkan manfaat dari I’tikaf di masjid, tidak masalah bila ia melakukannya.
Demikian adab i‘tikaf yang menjadi panduan praktis, semoga pada Ramadhan tahun ini, kita dapat menghidupkan kembali sunnah I’tikaf sebagai bekal kita meraih nilai taqwa yang maksimal.

Catatan I’tikaf 2 : Sembilan Wasiat

Catatan I’tikaf 2 : Sembilan Wasiat

Catatan I’tikaf 2
10 September 2009 pukul 22:41
Catatan I’tikaf ku
The Propehet Said : God bestowed me Nine Commandments,
and I am commanding you to obey them :
1. He commanded me with sincerity in private and public,
2. With justice during happiness or anger,
3. With moderation during richness or poverty
4. That I shall forgive those who inflicted injustice upon me,
5. That I shall give those who denied me,
6. That I shall visit those who boycott me,
7. And that my silence shall be contemplation,
8. My speaking shall be remembrance (of Allah),
9. And my seeing (thing) shall be lessons.
( Reported by Ruzain )
Rasulullah Bersabda : Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan 9 perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya) :
Tuhanku berwasiat :
(1). agar aku berlaku “ikhlas’ baik secara tersembunyi atau terang-terangan,
(2). agar bersikap “adil” baik pada saat ridho atau marah
(3). agar bersikap “sederhana” baik dalam keadaan kaya atau miskin
(4). agar aku “memaafkan” orang yang dholim kepadaku,
(5). agar aku “memberi” kepada orang yang mencekalku
(6). agar aku “menyambung silaturrahim” dengan orang yang memutuskannya
(7). agar aku menjadikan “diam”ku untuk berpikir
(8). agar menjadikan “bicara”ku sebagai dzikir
(9). dan agar menjadikan “pandangan” ku untuk mengambil i’tibar. (pelajaran)
(HR. Razin)
Islamic Teaching :
1. Knowledge of God is my Capital,
2. reason is the Root of my Faith,
3. Love is my Foundation,
4, Enthusiasm is my Horse,
5. Remembreance of God is my Frend
6. Firmness is my Treasure
7. Soorow is my Companion
8. Science is my Instrument
9. Patience is my Mantle,
10. Contentment is my Prize
11. Poverti is my Pride
12. Devotion is my Art
13. Conviction is my Power
14. Truth is my Redeemer
15. Obedience is my Sufficiency
16. Struggle is my Manner, and
17. My pleasure is my Prayers

Catatan I’tikaf 3 : Manfaat Dzikir

Catatan I’tikaf 3 : Manfaat Dzikir

Catatan I’tikaf 3 : Manfaat Dzikir
10 September 2009 pukul 22:32
MANFAAT DZIKIR
MENURUT IBNUL QOYYIM AL JAUZI
1. Membuat Allah ridha
2. Mengusir setan, menundukkan, dan mengenyahkannya
3. Menghilangkan kesedihan dan kemuraman dari hati
4. Mendatangkan kegembiraan & kesenangan di dalam hati
5. Menguatkan hati dan badan
6. Membuat hati dan wajah berseri
7. Melapangkan rizki
8. Menimbulkan rasa percaya diri dan kharisma
9. Menumbuhkan rasa cinta pada Islam, menjadi inti agama, poros kebahagiaan dan
keselamatan
10. Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi sehingga mendorongnya untuk
selalu berbuat bajik
11. Membuahkan ketundukan (kepasrahan) pada Allah
12. Membuahkan kedekatan dengan Allah
13. Membuka pintu yang lebar ke arah ma’rifat
14. Membuang keengganan dari jiwa manusia dan berbalik mengagungkan-Nya
15. Membuatnya selalu diingat oleh Allah (QS.2:152)
16. Menghidupkan hati (seperti air yang tak lepas dari kehidupan ikan)
17. Mengenyangkan hati dan ruh (menjadi santapan rohani bagi para pelakunya)
18. Membersihkan hati dari karatnya
19. Menyingkirkan kesalahan dan mengenyahkannya
20. Menghilangkan kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah
21. Lafadz dzikir selalu mengingatkannya saat ditimpa bencana
22. Mengingatkan saat para pelakunya menghadapi kesulitan
23. Menyelamatkan dari azab Allah
24. Mengundang ketenangan, rahmat, dan doa malaikat
25. Mengalihkan lidah dari ghibah, adu domba & dusta
26. Dzikir adalah pekerjaan para malaikat
27. Pelakunya merasa bahagia, demikian pula dengan orang-orang di sekitarnya
28. Memberi rasa aman dari penyesalan hari kiamat
29. Terlindung dari siksa padang mahsyar karena dinaungi oleh ‘Arsy Allah
30. Nikmat dan karunia Allah menjadi lebih terasa dan disyukuri oleh para pelaku dzikir
31. Ibadah dzikir adalah ibadah yang paling mudah, tapi paling agung dan paling utama
32. Dzikir merupakan tanaman syurga
33. Kontinuitas dzikir membuat pelakunya tidak melalaikannya sedetikpun dari
penjagaan Allah
34. Kalimat dzikir itu mengikuti pelakunya kapan pun dan di mana pun
35. Menjadi cahaya kehidupan di dunia, di alam kubur, dan di perjalanan ash shirat hari
kiamat kelak. Tidak ada cahaya yang menerangi alam kubur selain dari kalimat
dzikir.
36. pembuka jalan manusia kepada solusi penyelesaian dan peluang kekuasaan (simak doa robithoh)
37. Di dalam hati manusia ada celah yang tidak dapat ditembus kecuali dengan dzikir
38. Dzikir m’himpun segala suasana hati dari pengaruh setan
39. Mengaktifkan hati dari rasa kantuk dan ingin tidur (pasif)
40. Dzikir adalah jalan mendapat hidayah dan petunjuk Allah
41. Akan selalu terasa kebersamaan dengan Allah
42. Dzikir itu sama dengan memerdekakan budak wanita, menafkahkan harta, dan
mengangkat pedang fii sabiilillah
43. Dzikir itu adalah pangkal syukur. Maka orang yang tidak bersyukur pada Allah tidak
mungkin mengingat-Nya
44. Orang yang paling mulia di sisi Allah dari sisi ketaqwaan adalah orang yg lidahnya
selalu basah oleh kalimat dzikir
45. Ada kekerasan dihati yg hanya bisa ditaklukkan oleh dzikir
46. Penyembuh bagi hati dan obat bagi penyakitnya
47. Dzikir merupakan pangkal wala’ (loyalitas) pada Allah
48. sumber keikhlasan dan penghilang rasa duka, kegelisahan, dan segala pemicu stress
49. Dzikir mengundang shalawat Allah dan para malaikat-Nya (QS. Al Ahzab: 41-43)
50. Siapa yang kelak ingin berada di taman syurga, hendaklah berada di majelis-majelis
dzikir
51. Majelis dzikir adalah majelis para malaikat
52. Allah membanggakan orang-orang yang selalu berdzikir di hadapan para malaikat
Nya
53. Para pedzikir akan masuk syurga sambil tersenyum
54. Sesungguhnya seluruh jenis amal disyariatkan hanya untuk menegakkan dzikir
kepada Allah, maka hidupkanlah dzikir (QS. Thaha: 14)
55. Keutamaan orang-orang yang rajin beramal adalah yang paling banyak dzikirnya
kepada Allah
56. Kontinuitas dzikir bisa setara dengan kombinasi berbagai amalan lain, baik yang
bersifat fisik/harta.
57. Mengundang pertolongan Allah sebesar-besarnya untuk taat kepada-Nya
58. Memudahkan yang sulit & meringankan yang berat
59. Menyingkirkan segala ketakutan dalam hati dan mengundang rasa aman di dalam
diri manusia
60. Memberi kekuatan pada pelakunya untuk melakukan hal-hal bahkan yang
sebelumnya tak ia duga bisa ia kerjakan di saat-saat kritis.
61. Fastabiqul khoirat selalu dimenangkan oleh orang yang paling banyak dzikirnya
kepada Allah
62. Jadi sebab pembenaran Allah terhadap hamba-Nya
63. Istana-istana di syurga dibangun dengan dzikir
64. Dzikir menghalangi antara hamba dengan Jahannam
65. Para malaikat memintakan ampunan bagi pedzikir
66. Gugusan gunung-gunung dan lembah merasa bangga dan gembira karena ada orang
yg berdzikir kepada Allah swt.
67. Selamat dari sifat kemunafikan di dalam diri (QS. An Nisa’:142 & Al Munaafiquun: 9)
68. Dzikir di sela-sela pekerjaan adalah kenikmatan yang tak tergantikan dengan hal
apapun
60. Membuat wajah menjadi ceria dan mendatangkan cahaya saat menghadapi peristiwa
kiamat.
70. Senantiasa berdzikir di manapun (di gunung, di jalan, di rumah, di atas air, di udara,
di daratan, dll) akan memperbanyak saksi bagi seorang hamba pada hari kiamat
72. Mengalihkan pelakunya dari aktivitas lain yg tidak perlu
73. Membebaskan pelakunya dari kepungan & tipudaya setan
74. Menghindarkan diri dari penyimpangan aqidah
75. Membuat seorang hamba semakin mengenal asma’ wa sifat dari Allah dengan cara-
cara yang Dia sukai
76. Menjadi ingat segala perintah, larangan, dan hukum-hukum-Nya krn mempelajari itu
semua termasuk dzikir
77. Dzikir lebih baik daripada doa
78. Sebaik-baik keutamaan: membaca al Qur’an lebih baik daripada berdzikir, dan
dzikir lebih baik daripada do’a.
Dikutip dari kitab “Sahihul Wabil Ash Shayyib Minal Kalimith Thayyib”