Kamis, 18 Desember 2014

Renungan Akhir Tahun by : Abdullah Muadz

Renungan Akhir Tahun : Abdullah Muadz

Renungan Akhir Tahun

       Setiap tahun berganti berarti umur berkurang. Bagi akal dan jiwa yang sehat jika umur dikurangi tentu akan bersedih, merenung, introspeksi, evaluasi, prihatin serta lebih berhati-hati dalam melangkah. Sangat aneh jika seseorang yang tahu umurnya berkurang malah kegirangan, jingkrak-jingkrak, jogged-joged, meniup trompet sambil bakar kembang api.  Kalau perlu kita periksa kesehatan akal dan jiwa, sehingga selalu terjaga dari segala perbuatan dan tindakan yang irrasional.

Allah berfirman :
“ Janganlah kamu ikut-ikutan  terhadap segala sesuatu yang belum kamu miliki pengetahuannya, karena sesungguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati  akan diminta pertanggung jawabannya..
                                                                                                       ( Q.S. Al-Isra’ (17) ayat : 36 )

     Ada beberapa hal yang menjadi bahan renungan setiap mengakhiri tahun, agar kita mampu mempertanggung jawabkan akal fikiran serta jiwa kita dihadapan Allah SWT.

Pertama,
        Allah SWT senantiasa menyuruh kita berbuat dan bertindak Rasional, mengembangkan kreatifitas positif. Segudang kalimat perintah untuk mengaktifkan akal fikiran kita dalam Al-Qur’an bisa kita jumpai, misalnya “apakah mereka tidak berfikir”,  “ apakah kamu tidak memakai otak” , “ apakah kamu tidak memperhatikan”, “ apakah kamu tidak mentadabburkan” , “ apakah kamu tidak berjalan dimuka bumi kemudian perhatikan “ dan sebagainya.

        Prilaku Irrasional yang bertentangan dengan akal dan jiwa yang sehat,  tetapi jika dikemas sedemikian rupa dengan gebyar iklannya serta dilakukan banyak orang, bisa mematikan akal sehat. Sekedar contoh mengekspresikan kegembiraan lulus sekolah dengan corat-coret baju, jelas-jelas irrasional dan jaka sembung naik ojek. Faktanya dilakukan oleh hampir seluruh siswa, bahkan ada oknum guru yang ikut menandatangi di baju muridnya dengan spidol. Begitu juga kalo ada orang dewasa meniup lilin pada kue ulang tahun, kemudian diberikan tepuk tangan..? dimana hebatnya, ? biasanya tepuk tangan mengiringi prestasi, terus hebatnya dimana orang dewasa niup lilin..? kalo dijadikan symbol batas bertambahnya usia, lalu apa hubungannya batas usia dengan lilin..? nahloh makin banyak kebingungan jika kita mau bertanya kepada akal dan jiwa yang sehat.

        Sebentar lagi kita akan menyaksikan dipenghujung akhir tahun tengah malam orang-orang yang secara masal melakukan perbuatan dan tindakan irrasional, mulai dari jingkrak-jingkrak, menyanyi, berjoged, bakar kembang api, trek-trekan, konvoi malam, sampai kepada pergaulan bebas. Saat itu akal dan jiwa yang sehat semakin terkekang karena gebyar malam tahun baru didukung oleh media informasi yang sedemikian meriahnya. Jika akal dan fikiran sehat sudah terkekang maka yang terjadi adalah nafsu semakin liar, buas, ganas, semakin tak terkendali. Larisnya berbagai macam merek Kondom satu indikator bahwa perayaan malam tahun baru adalah malam mengumbar nafsu.

Kedua,
          Allah SWT telah menjadikan kita makhluq yang paling sempurna (Q.S Attiin (95) ayat : 1 ), Makhluq paling mulai serta dilebihkan dari semua makhluk yang lain (Q.S Al-Isra’ (17) ayat 70 ), serta memberi kedudukan manusia sebagai Khalifatullah fil Ardh ( Q.S Al-Baqarah(2)   ayat : 30). Diantara keistimewaan yang diberikan kepada manusia lagi lagi Akal dan fikiran. Dengan akal dan fikiran ini  manusia menjadi makhluq yang berbudaya, makhluq yang berkembang, makhluq yang mempunyai Visi , misi serta orientasi serta tujuan hidup yang sangat jauh berbeda dengan binatang.

          Aktifitas hari-hari binatang adalah makan, tidur, kawin, buang air terus beranak, anaknya bisa makan lagi, tidur, kawin, buang air dan seterusnya. Apabila akal fikiran manusia tidak dikembangkan untuk menjaga visi, misi serta orientasi yang jelas berbeda, maka fungsinya hanya akan berkembang untuk mempercanggih sarana aktifitas kehewanan, budayanya berkembang hanya untuk melengkapi serta memfasilitasi nafsu hewannya, makan dengan piring, tidur dengan kasur, buang air dengan toilet dan seterusnya, tujuannya tetap sama makan, tidur, kawin, buang air, beranak, anaknya bisa makan, tidur, kawin, buang air dan seterusnya .

Allah SWT berfirman :
     “Orang-orang kafir kerjanya Cuma bisa bersenang-senang, dan mereka hanya memikirkan makan dan minum persis sama dengan makan dan minumnya hewan…                                            (Q.S. Muhammad(47) ayat : 12 )

         Menjaga harga diri kita sebagai manusia, berarti menjaga akal dan fikiran kita agar tidak terkekang oleh hawa nafsu, agar terpelihara dari segala tindakan dan aktifitas yang tidak masuk akal, agar kita melangkah dengan penuh kepastian, agar kita mampu menatap masa depan dengan tajam sampai ke negeri akhirat, agar kita tidak melakukan aktifitas dan tindakan murahan, amoral serta harus berbeda dengan binatang dan makhluq lainnya. Mudah-mudahan main Facebook nya kita juga bukan hanya mencari kesenangan dan kenikmatan.
.
Ketiga
         Allah SWT, menyuruh kita agar memelihara dari segala perkataan dan perbuatan jangan sampai ada yang sia-sia (Q.S Al-Mu’minuun(23) ayat : 3 ). Ukuran perbuatan seseorang itu sia-sia atau tidak, sangat jelas, apabila seluruh aktifitas kita dalam rangka zikir dan fikir (dalam arti luas), maka itulah aktifitas yang bermanfa’at (Q.S Ali Imran (3) ayat : 190-191)

         Bagaimana jika suatu acara terdapat pemandangan mengumbar aurat, goyang bokong, syair serta lirik lagu-lagu murahan, sperti goyang dombret, wakuncar, kucing garong, bang toyyib, sms dan sebagainya, lawakan tidak berbobot... jadi sering kali bukan saja acaranya sia-sia, tetapi sudah banyak unsur kamaksiatannya. Padahal ciri masyarakat modern adalah sangat menghargai waktu, mereka akan sangat sensitive terhadap segala aktifitas yang tidak menambah Iman, Ilmu dan Income.

        Percayalah tidak akan bisa membawa ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki jika hanya memenuhi keinginan nafsu. Yang ada cuma kesenangan dan kenikmatan, semakin dipenuhi semakin haus, semakin menuntut, tak akan berakhir, tak berujung, tak akan puas, kalaupun terjadi kepuasan itu hanya ada pada detk-detik pertama saja selanjutnya akan muncul tuntutan yang jauuuh... lebih besar lagi.. Begitulah sifat nafsu manusia.

Keempat :
         Terjadi pemborosan/mubazzir yang luar biasa, dengan segala atribut dan perlengkapan termasuk pembakaran kembang api besar-besaran. Allah SWT berfirman bahwa Mubazzir/Pemborosan itu adalah saudaranya syaithan. Dan syaithan itu selalu mengajak ke Neraka. (Q.S Al-Israa’ (17) ayat : 27). Pemborosan yang paling besar dan banyak adalah kerugian  Sumber Daya Manusia, berupa  menghambur-hamburkan waktu, tenaga, fikiran, perasaan dengan rela menuggu sampai tengah malam hanya untuk pesta-pesta, menyanyi, jingkrak-jingkrak, jogged, meniup trompet, bakar kembang api dan sebagainya.

         Sekian banyak orang terlibat dari rakyat jelata sampai para pemimpinnya, menampilkan gaya hidup jetset, gelamor, hedonis, seolah-olah Negara kita sudah makmur dan maju. Padahal fakta berbicara sebaliknya, bahwa Negara dalam keadaan kere, pengangguran semakin banyak, pengamen dan pengemis bertambah sesak, yang tidur di tenda pengungsian belum dapat rumah, gembel, gelandangan ada dimana-mana, belum lagi yang makan nasi aking, gaplek semakin biasa. Sementara hutang Negara semaking bertumpuk, rakyat banyak yang pada ngamuk, kerusuhan terjadi dimana-mana, bencana alam datang silih berganti, dan seterusnya.

        Belum lagi pemborosan material, berupa penghamburan uang untuk membeli atribut, perlengkapan, serta sarana hiburan yang digelar dimalam harinya, tak terhingga jumlahnya, catatan impor bahan-bahan untuk kembang api saja  menunjukan angka yang sangat fantastis, sekaligus ironis. Satu sisi Negara kita sedang dalam keadaan terpuruk, miskin, kere, sisi lain gaya hdup masyarakatnya tidak menunjukan hal demikian.

        Terjadi kesenjangan yang semakin melebar. Ada yang dengan mudahnya mengluarkan uang sekian besar hanya untuk hura-hura, ada kehidupannya semakin tercekik, terhimpit dan semakin sempit tinggal menunggu ajal dari langit. Hati semakin keras, hilang rasa sensitive, bantuan-bantuan bencana hanya menjadi lift servis atau komoditas politik untuk menarik simpatik, tetapi tidak pernah tuntas penyelesaiannya. Bahkan tega-teganya masih ada yang berani menilep dana bantuan.

Kelima :
         Sudah menjadi “Pengetahuan Umum” bahwa malam tahun baru dan valentine day adalah malam yang paling laris penjualan peralatan Sex. Memang tidak semuanya orang melakukan kebebasan seks malam tahun baru, tetapi kalau tidak kita antisipasi dari sekarang, kejadiannya akan bisa sama dengan corat-coret baju ketika lulus ujian, awalnya memang dianggap aneh, tetapi lama-lama kelamaan sekarang menjadi lumrah, bahkan seolah menjadi ceremony wajib bagi yang lulus ujian.

         Begitulah kehebatan syaithan menggiring manusia dalam menciptakan budaya maksiat. Di salah satu sudut kota Sidney setiap tahunnya ada festival homo sedunia, orang homo bisa melakukan apa saja, dimana saja di sekitar sudut kota tersebut. Jadi perbuatan segila apapun, sejijik bagaimanapun kalau terus-menerus diiklankan dengan gebyarnya, maka nanti akan menjadi biasa dan lumrah.

        Syaithan punya strategi secara bertahap, kalau sekarang belum semua melakukan, paling tidak opini umum terbentuk lebih dahulu, bahwa dibalik acara tahun baru ada acara kebebasan yang sangat menyenangkan dan penuh kenikmatan biologis. Lama-lama kelaman akan bisa sama seperti di Negara-negara lainnya, kebebasan tanpa batas. Nauzubillah min zaalik

        Mudah-mudahan kita masih punya akal sehat, jiwa  bersih, fikiran  kritis, sehingga kita mampu menangkap fenomena dan fakta apa yang sedang terjadi sesungguhnya. Mudah mudahan pula kita masih punya kekuatan untuk bisa berkorban apa saja dari segala yang kita miliki, demi keutuhan rumah tangga dan keselamatan anak-anak kita. Amiiien…

Rabu, 10 Desember 2014

Surat Terbuka untuk Anies Baswedan

Yang Saya Hormati Bapak Menteri Pendidikan Republik Indonesi 
              
Saya merasakan selama ini toleransi antar ummat beragama sudah kondusif. Saya sering diundang acara silaturahim setelah Iedul fitri, ada yang menyebut Halal bi Halal, selalu saja dihadiri orang-orang non muslim dengan kesadaran bukan diajak. Begitu juga acara buka bersama ramadhan tidak sedikit orang non muslim ikut hadir. Acara hari hari besar Islam di kantor atau di sekolah juga sama halnya. Sama halnya ketika acara ceremoni 17 Agustusan di kampung, saya sering diminta taushiyah dan banyak rangkaian acaranya memakai ajaran Islam.                                                                                                         
Kalaupun ada kejadian rusuh, biasanya itu permaianan elit politik orang pusat yang mendompleng agama, makanya kejadiannya  jauh dari pusat kota. Di kota kota besar sangat jarang terjadi. Kitapun sepakat harus diusut sampai tuntas keakar akarnya supaya kejadian tidak terulang.
                                          
Akhir-akhir ini kami merasa terusik kedamaian dan ketentraman yang sudah kami rasakan dengan ulah wacana para petinggi negeri ini, termasuk sebagian dari para menterinya. Sepertinya lidah ini begitu saja lepas keluar kalimat yang tidak difikirkan dalam dalam dampak dan pengaruhnya terhadap kehidupan beragama.                                                                                                        
Kami juga merasakan adanya pemaksaan secara halus, agar kami meninggalkan keyakinan yang kami anut. Dengan mudahnya tuduhan bahkan vonis  “Intoleransi” kepada orang-orang yang ingin mentaati ajaran agamanya. Apakah kalo kami ingin menghormati agama nasrani harus pakai baju natal.? Apakah jika kami tidak hadir natalan atau tidak pakai baju natal berarti kami tidak toleransi.?.  Padahal tolerasi yang kami fahami adalah kita saling menghormati “Adanya Perbedaan”.  Justru karena kami menghormati perbedaaan keyakinan maka kami tidak akan datang, supaya tidak saling merusak keyakinan masing-masing.  
                                                                           
Kami juga merasakan ada kerancuan Istilah yang dipaksakan antara “Kebebasan Berfikir” dengan “Pembajakan Agama”. Kita menghargai kebebasan berfikir, tapi kita mengutuk Pembajakan Agama. Sebagaimana kita juga mendukung adanya Hak Paten, Haki dan sebagainya. Kita menghargai aliran, mazhab apapun dalam Islam, sepanjang tidak keluar dari Mainstream, pokok-pokok ajaran yang tertuang dalam kitab suci. Tetapi jika sudah berbeda 180 derajat dari kitab suci tapi masih mengaku Islam itulah yang namanya PEMBAJAKAN AGAMA, yang harus kita kutuk.                                        
Untuk itu saya ingin menyampaikan sedikit fakta-fakta secara yang terang benderang, yang menujukna bahwa Ummat Islam sudah terlalu banyak mengalah. Karena itu jangan diusik-usik lagi ketenangan yang sudah kita rasakan bersama. Jika terjadi pemberontakan sebagian ummat yang merasa terusik akibat kebijakan yang tidak bijak, maka sebenarnya yang menciptakan Intoleransi, kekerasan dan terorisme adalah akibat dari kebijakan itu sendiri. Jangan salahkan anak sekolah mencari Ilmu agama diluar sekolah yang sulit kita kontrol, jika mereka tidak puas mendapatkan pelajaran agama disekolahnya.
                                                                                                 
Sedikit fakta sejarah berikut ini mudah-mudahan kita akan mendapatkan gambaran. Bahwa Ummat Islamlah yang paling banyak tolerasi, mengalah serta paling mengerti masyarakat hetoregen dan majemuk.  
                              
 Fakta-fakta itu sebagai berikut :   
                                                                      
1. Penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta, karena ada isue ancaman dari Indonesia timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Hingga saat ini isue itu masih misterius siapa oknum yang mengancam itu. Ummat Islam pun menerima.                                                                                                             
2. Kalender Nasional dan Kalender Pendidikan memakai kalender Masehi (Nashrani), bukan kalender Islam (Hijriyah) sehingga sangat susah dan ribet ketika menentukan libur ramadhan dan libur hari raya... terutama mengatur liburan sekolah,  ummat Islampun dapat menerima...  
                                      
3. Hari libur pekanan hari Minggu (Nashrani), bukan hari besar Islam (Jum'at ) Ummat Islam Mengalah....  
                                                                                
4. Tahun Baru Imlek dan Tahun baru Masehi peraayaannya jauuuh lebih besaaarr dan lebih gebyaaaarrrr. dari pada tahun baru Islam. lagi lagi ummat Islam tidak iri hati.                                                                                                 
5. Pemaksaan asas tunggal terhadap organisasi apapun pada zaman orde baru, yang di rekayasa oleh kelompok "Tanah Abang" otak utamanya non Muslim, lagi lagi Ummat Islam yang sangat terpojok pada saat itu, sampai terjadi meletusnya pristiwa priok....para aktifis HAM bungkam.... (karena korbannya Ummat Islam)  
                                                                                                   
6. Pemecatan siswi berjilbab, dari SLTA Negeri selama 12 Tahun, ( 1980 - 1992 ) sampai banyak  korban gadis berjilbab yang di usir dari sekolah negeri. Dan kita tahu siapa Dirjen Dikdasmen waktu itu yang mengeluarkan surat edaran pelarangan, seorang non muslim. Orang-orang tidak ada yang teriak HAM, termasuk  aktifis HAM nya juga cicing wae..
                                                     
7. Nama-nama gedung gedung besar terutama di Jakarta, sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non Muslim. ( Contoh : Arthaloka, Graha Purna Yudha, Manggala Wana Bhakti dsb ) 
                                                                
8. Lebih dari 30 Jenis-jenis Penghargaan oleh Presiden, semuanya memakai nama-nama yang juga sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non Muslim. Berikut ini sebagian contoh kecil penghargaan di Bidang Militer
a.     Bintang Kartika Eka Pakçi, terdiri atas tiga kelas:
1.     Bintang Kartika Eka Paksi Utama
2.     Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
3.     Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
b.     Bintang Swa Bhuwana Paksa, terdiri atas tiga kelas:
1.     Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
2.     Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama
3.     Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya
 Ummaat Islam pun tidak pernah mempermasalahkannya...
                              
9. Pristiwa ambon yang sangaat Jelas, pembantaian terhadap orang orang yang baru selesai sholat Ied,, saksinya jutaaan manusia, tetapi sampai  diluar negeri beritanya jadi sangat terbalik, bahwa Ummat Islamlah yang mendahului.. ( sudah jatuh, tertiban tangga pula) sudah dibantai, difitnah pula.... 
                  
10. Komposisi PNS dan Pejabat berdasarkan Agama di beberapa provinsi tidak proposional jika dibanding dengan komposisi agama penduduknya. ummat Islam tidak mempermasalahkan... 
                                                                     
11. Bicara Korban Pembantaian apalagi, siapa yang banyak korban..? Pristiwa Priok, Lampung, Cisendo, woyla, aceh ambon, dan lain lain... Memang Ummat Islam sudah terbiasa jadi Korban Pembantaian.. lagi-lagi kemana para aktifis HAM.?  
                                                                                                             
12. Rekayasa global dengan Isue Terorisme, yang sangat memojokkan Ummat Islam, sangat berimbas di Indonesia, sampai-sampai pesantrenpun ada yang menjadi korban tuduhan. Kita harus menerima bahwa seolah olah kalau bicara terorisme itu konotasinya Ummat Islam.... jadi Teroris sama dengan Ummat Islam, begitulah berita...Betapa baik hati dan tolerannya Ummat Islam di Indonesia. Ternyata masih dianggap kurang, masih dianggap intoleran, jadi apa sih yang sebenarna diinginkan..?

Saya mendo’akan Bapak Menteri semoga Allah SWT memberikan kemudahan tugas-tugas Bapak, serta bisa menghasilkan kebijakan yang semakin membawa keapada penyelesaian masalah. Semoga para petinggi di negara ini membuat keputusan yang tidak membuat suasana semakin  kisruh, sumpeg dan meresahkan.

Salam Hormat

abdullah muadz

Selasa, 11 November 2014

Pahlawan atau Penjahat by : Abdullah Muadz



Siapa Pahlawan Siapa Penjahat


Westerling adalah tokoh yang dianggap pahlawan oleh masyarakat Belanda, sebaliknya ia adalah penjahat besar untuk bangsa  Indonesia.  Gorge  W  Bush adalah pahlawan, setidaknya bagi 85% rakyat Amerika, tetapi dianggap penjahat oleh sebagian rakyat Irak, setidaknya 900.000 keluarga korban tewas akibat pembantaian.. Xanana Gusmao adalah seorang tokoh pahlawan bagi masyarakat  Timor Leste, sebaliknya pernah dipenjara oleh pemerintah Indonesia.  Begitu pula  Presiden pertama RI Bpk Ir. Soekarno.  adalah  tokoh proklamator sekaligus pahlawan, tetapi oleh Belanda telah berkali-kali dipenjarakan.  

Perbedaan  pandangan itu karena memakai kacamata Nasionalisme masing masing. Nasionalisme itu bersumber dari sebuah padangan masyarakat kumpulan manusia yang pasti punya cara pandang masing-masing, maka hasilnya menjadi relative.

Pahlawan Dalam Arti Sempit

Bagi seorang yang sedang  sakau maka pahlawan bagi mereka adalah para pemasok dan pengedar narkoba. Bagi seorang pemabuk, maka boss yang mentraktir minuman itulah yang jadi pahlawan. Bagi orang-orang miskin maka orang semodel Robinhood itu juga bisa manjadi pahlawan. Bagi para mucikari/germo, juga pengusaha diskotik, maka para pembacking  yang biasanya terdiri dari aparat itu sebagai pahlawan.  Seorang pemuda yang menampung uneg-uneg seorang gadis ketika terjadi masalah keluarga, sehingga sang gadis bertambah dendam terhadap orang tuanya dan semakin sejuk dengan sang pemuda, itu bisa dianggap pahlawan bagi si gadis (lihat status-status di BBM).

Maka pengertian pahlawan disini adalah siapa saja yang menjadi pembela kepentingan seseorang itulah dia, terlepas bentuk kepentingan apa saja, tidak perlu lihat halal haram lagi.
 Sebaliknya perbuatan sebaik apapun jika ada orang lain yang merasa kepentingannya terancam, akan ada saja yang memusuhi bahkan dianggap  penjahat atau lebih dari itu. Sebaik apapun akhlaq yang telah ditunjukan oleh Rasulullah SAW, sampai sampai pujiannya langsung datang dari Allah SWT : “Sesunggguhnya Engkau (wahai Muhammad) memang memiliki akhlaq yang sangat Agung “, tetap saja ada yang memusuhi, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri. Karena ada orang yang merasa kepentingannya terancam.  Apalagi kita yang bukan nabi, lebih wajar  kalau yang membenci itu lebih banyak lagi.

Resiko yang dihadapi oleh Rasulullah SAW adalah berbagai teror mental, dituduh orang gila, tukang sihir sampai upaya penganiyaan fisik. Berbagai ujian cobaan, tantangan, rintangan, hambatan, gangguan, silih berganti bertubi-tubi silih berganti tak pernah berhenti  menimpa diri Nabi. Mulai dari peleparan kotoran unta, penimpaan batu besar, pengeroyokan, upaya pemboikotan, sampai upaya-upaya pembunuhan.

Soal Kepentingan dan Standar Nilai

Kalau ukuran berjasa, membantu dan menolong menurut kepentingan perorangan, kelompok, suku, sampai pada bangsa dan negara, bisa dipastikan akan menemukan hasil yang relatif. Sehingga harus ada standar yang universal. Sementara sentdar universal itu biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Lagi-lagi jika pendangan kemunisaan itu menurut pribadi, kelompok dan golongan pasti akan berbeda lagi. Sehingga tidak akan pernah menemukan kebenaran yang hakiki dalam memandang nilai kemanusiaa.

Bagi akal yang sehat seharusnya berfikir bahwa yang paling pantas membuat standar nilai kemanusiaan adalah Sang Pencipta Manusia itu sendiri. Maka nilai kemanusiaan tidak bisa dilepas dengan setandar yang dimiliki oleh Allah SWT sebagai Pencitpta manusia. Selanjutkan kita bisa menentukan ukurang berjasa atau tidak seseorang jika dia berhasil ikut mengangkat nilai-nilai kemanusian dan nilai-nilai kebenaran.

Jadi Pahlawan itu Siapa ?

"Pahlawan" adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata "pahlawan" berasal dari bahasa Sanskerta "phala", yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.
Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.
Jika kita memakai kata kunci “ Kebenaran dan Pahala” maka tidak mungkin ada standar lain keculai tata nilai yang bersumber dari Sang Pencipta (Khalik) sebagai sumber kebenaran. Akal sehat kita menuntut bahwa Sang Pencipta pasti yang paling tahu barang ciptaanya senidri, maka Dialah yang paling pantas dan berhak menurutkan sumber tata nilai untuk makhluq manusia sebagai ciptaannya.
Seorang pejuang dan pahlawan dalam Islam, adalah seorang  yang hanya ingin cari muka  dihadapan Allah SWT, hanya ingin perhatian dan penilaian dihadapan Allah SWT,  jika hanya pandangan manusia akan sangat relative sifatnya. Satu bilang si fulan pahlawan semantara yang lainnya bilang si fulan itu penjahat. Bararti seorang pejuang harus tegar  “tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela” (Q.S Al-Maidah (5) ayat : 54.

Hari ini para pejuang akan berhadapan dengan nafsu liar manusia yang dibacking oleh penguasa dan pengusaha yang terus mengeksploitasi nafsu jalang  dan liar manusia, sambil terus dikipas-kipas oleh syaithan laknatullah, kemudian dihias oleh sarana dan prasarananya, serta dipercantik oleh ilmu pengetahuan dan teknologinya. Makin banyak orang yang terkapar tidak berdaya, tidak sedikit juga para tokoh agama yang akhirnya ikut bungkam, entah karena takut atau karena gaptek.

Siapa yang berani mengatakan bahwa : “Kuis berhadiah melalui SMS yang tarifnya diatas normal itu Judi”..?  Siapa yang berani mengatakan bahwa acara pildacil itu ada unsur judinya..?  Siapa yang berani mengatakan bahwa sekarang ini hiburan sudah sangat Over Load..?  Siapa yang mampu melihat bahwa kondisi pelajar kita sudah sangat memprihatinkan, dari aspek orientasinya, motivasinya, visi misinya, akhlaqnya, pergaulannya, serta sikap dan keperibadiannya.

Pertanyaan tersebut diatas mempunyai resiko tinggi bagi siapa saja yang mau manjawab dengan jujur.  Sebab akan berhadapan dengan banyak orang dan kepentingan, juga mungkin tidak sedikit tokoh agama yang juga sudah terlanjur ikut menikmati, sehingga takut “Kaburo Maqtan” ( Q.S Asshaaf (61) ayat : 2-3.

Seorang ayah yang telah memelihara anak dari bayi, begitu menyayangi dan mencintai anaknya, hanya karena latar belakang pendidikan yang kurang,  maka cara mengekspresikan kasih sayang dan cintanya berbeda dengan keinginan anak. Banyaknya perintah dan larangan membuat  sianak salah faham, timbulah kebencian kepada orang tuanya. Saat itulah datang pemuda ganteng yang  menampung semua uneg-unegnya,  menawarkan berbagai kebebasan, serta  membuka jendela hatinya sambil bersedia menjadi soulmate nya. Jadilah pemuda itu sebagai pahlawan dimata gadis tersebut.

Padahal tidak sedikit laki-laki yang hanya menginginkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Pertolongan yang diberikannya pun hanya alokasi khusus kepada orang-orang tertentu yang menjadi sasaran tembaknya. Kepincutlah si anak jadilah si Pemuda yang tidak pernah ngasih makan dan merawat dari kecil menjadi  pahlawan serta arjuna bagi si gadis yang merasa nyaman terhadap pemuda tadi. Pilu hati si ayah ketika anaknya lebih percaya kepada orang lain dari pada orang tuanya sendiri.

Tak kalah pilunya nasib guru, terlebih-lebih guru agama. Dari segi urgensi tidak begitu dianggap oleh pemerintah terlihat dalam implementasi kurukulum, membawa dampak pelajaran agama diremehkan oleh para siswa.  Sisi lain jam pelajaran yang kurang, sehingga berdampak kurangnya pelajaran aqidah yang begitu penting dalam membentuk pandangan hidupnya. Sisi lain lagi pelajaran agama lah yang banyak berbenturan dalam  realitas kehidupan sehari-hari, karena apa yang ditampilkan di Televisi misalnya lebih banyak pertentangannya. Sementara masih ada sebagaian guru agama dengan keterbatasannya belum menguasi metode mengajar yang menarik. Maka guru agamalah yang dianggap paling banyak perintah dan larangan. Paling cerewet, ngebetein, menyebalkan dan paling banyak mengekang.

Sementara ada guru lain atau karyawan yang punya pandangan agak permisif, mempunyai kemempaun berkomunikasi dengan baik, menjadi tempat  bernaungnya anak-anak,  tempat yang dianggap menyejukan. Jika tidak ada lingkungan yang kondusif serta tidak ada upaya perbaikan kualitas dan keterampilan guru-guru agama, maka jadilah guru agama seolah seolah sperti penjahat dan guru lain yang menganut kebebasan seperti pahlawan, di mata para siswa..

Saat inilah dibutuhkan para pejuang bermental baja, yang punya ketegaran jiwa, kekokohan mental, berani tampil, tidak takut celaan manusia, karena takunya hanya kepada Allah SWT, dan hanya ingin menjadi Pahlawan hanya di hadapan Allah SWT.

Jumat, 24 Oktober 2014

Sampah Pemuda



Sampah Pemuda
Abdullah Muadz

Sangat  tidak adil jika kita menyebut istilah “Sampah Masyarakat”  kepada  gelandangan, pengemis, pemulung dan sebagainya.  Karena boleh jadi keadaan mereka akibat system Negara yang bobrok,  sehingga merekalah diantaranya  yang  menjadi  korban. Tulisan ini bukan ingin membahas opini umum seperti itu.  Tetapi ingin menunjukkan bahwa  ada manusia yang suka dengan sampah, yang hobi makan sampah, hobi nonton sampah, mendengar sampah, ada yang berteman dengan sampah, segala pekerjaan dan aktifitasnya hanya menghasilkan sampah maka sangat layak disebut manusia sampah. Loh..? memang  ada..?  huu… buanyak…!

Sampah adalah sisa buangan manusia yang dianggap sudah tidak berguna. Kalaupun bisa berguna harus di daur ulang atau direkayasa sedemikian rupa baru bisa berguna lagi. Sampah itu kotoran, bau, busuk, jijik, suber penyakit, sebisanya dijauhkan dari kehidupan manusia. Bisa kita bayangkan kondisi kejiwaan manusia yang sangat menyukai  sampah, berkatifitas yang bernilai sampai, serta yang dihasilkan hanya sampah.

Makanan sampah adalah makanan yang  mengandung bahan-bahan yang tidak dibutuhkan tubuh, bahkan ada bahan yang membayakan tubuh, seperti  zat pengawet, pewarna, perasa, pemutih, penyedap rasa, pengenyal dan sebagainya. Bahan-bahan seperti ini banyak digunakan di rumah rumah makan siap saji. Bahkan boleh dikatakan menjadi resep wajib bagi tiap-tiap resotran harus menggunakan penyedap rasa.  Lidah masyarakat kita pun sudah tidak bisa lagi dipisahkan, sehingga menjadi kunci laku tidak lakunya sebuah tempat makan. Pemiliki warung nasi atau rumah makan tentunya tidak mau ambil resiko, dan agak susah membangun kreatifitas resep yang aman tapi punya rasa yang enak. Maka jalan pintasnya adalah harus memakai penyedap rasa….

Diantara kasus yang pernah terjadi adalah seseorang anak remaja tidak mampu mengendalikan libidonya terhadap lawan jenis, meskipun ditempat umum atau keramaian. Setelah ditanya makanan hari harinya adalah fast food berupa fried chiken, dan tidak pernah makan sayur dan buah-buhan. Padahal makanan di Indoneisa yang masih dianggap bergengsi  ini, adalah makanan sampah di Negara-negara maju. Hormon yang terus menerus di suntik, atau makanan yang mengandung konsentrat tinggi agar ayam cepat besar dan berat tidak alami. Bayangkan kalau itu terus menerus di konsumsi oleh anak-anak tanpa diimbangi buah dan sayur akibatnya anak anakpun akan cepat pertumbuhan biologisnya tetapi  jauh meninggalkan pertubuhan mental dan intelktualnya. Terjadilah ketidak seimbangan.

Belum lagi kita bicara rokok, narkoba, miras dan sebagainya. Kehebatan syaitan dalam menghias dan menipu bersinergi keinginan nafsu kotor, semakin banyak orang yang mengkonsumsi sampah. Hukuman berat bagi si pengedar tidak membuat orang menjadi jera. Ketika keimanan kekpada Allah SWT tidak ada lagi, maka orang tidak lagi berfikir dan berupaya bagaimana cara menghentikan atau mengobati, tetapi berbagaimana caranya bisa lolos dari intaiaan polisi atau bebas dari jeratan hukum.  Sebagaimana zina orang tidak lagi berfikir takut dengan pengawasan Allah, siksa neraka, tetapi yang difikirkan bagaimana zina dengan aman dari HIV, AIDS, dan resiko duniawi lainnya.

Ada lagi manusia Pemakai bangkai manusia, itulah julukan yang Allah SWT berikan kepada orang yang suka menggunjing orang lain, dalam surah Al-Hujuraat (49) ayat : 12 ). Tayangan gossip-gosip selebritis menjadi acara yang paling laris, terbukti stiap stasiun TV punya banyak acara ghibah yang hukumnya sama dengan memakan bangkai manusia ini. Tak kalah larisnya juga Koran dan majalah-majalah gossip. Menjadi santapan nikmat berita berita gossip itu sambil minum kopi dipagi hari.

Masih berkisar mulut, ada yang suka celetukan tanpa bobot, bahkan menyebut istilah-istilah kotor, nama-nama binatang untuk menjudge orang lain, sumpah serapah, lawakan tak bermutu, celetukan porno, isilah yang artinya berupa penghinaan / bulliying namun karena keseringan diucpakan jadi hal biasa.Teriakan yang tanpa tujuan, komentar hanya sekedar mencari sensasi, provokasi  negative dan sebagainya.

Dari mulut , beralih ke mata sampah, berarti mata yang suka melihat sampah. Gambar-bambar sampah, tayangan-tayangan sampah, film-film sampah, pertunjukan sampah, acara-acara sampah. Diantara tayangan sampah adalah berbagai bentuk kemusyrikan dengan segala promosinya, tayangan kekerasan kebuasan serta keberingasan, tayangan kehidupan glamor, hedonism, kenikmatan, kemewahan dan sebagainya, tayangan seks, ekploitasi tubuh, serta nafsu birahi, tayangan horor, syithan, hantu, kuntilanak yang meracuni otak manusia. Berbagai bentuk hiburan, nyanyian, tarian, lawakan atau pertunjukan apapun yang tidak punya nilai edukatif, murahan, tanpa bobot, dan sejenisnya.

Kalau kita mau jujur mengamati keadaan, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan, suasana hidup dan gaya hidup masyarakat kita. Sudah sangat kecanduan dan kehausan dengan berbagai hiburan, sehingga boleh dibilang sudah sangat over dosis. Televisi sudah menjadi teman hidup yang harus 24 jam nonstop menyala. Ceremonial apa saja harus ada hiburannya, bahkan pernah ada usulan di Kantor Dewan pun harus ada ruangan karouke.

Semakin lama berbagai tayangan edukatif semakin tidak diminati, lihat saja berubahnya orientasi TPI. Investor akan berfikir seribu kali kalau mau membuat televisi edukasi. Sudah sedemikian membusuk mata sampah, sehingga enggan menyaksikan acara-acara yang bermanfaat, punya nilai edukatif serta penambahan spiritual. Makanya acara yang berbobot  seperti santapan ruhani diletakkan di pagi hari pukul 05.00, waktu orang mulai sibuk bersiap untuk kerja ke kantor. Hampir tidak ada yang mau memasang iklan pada jam jam seperti itu. “Tuhan sangat miskin dan syaithan sangat kaya kalau dilihat dari tayangan-tayangan televise”. Celetuk seorang kru televisi swasta.

Telinga sampah adalah telinga yang senang dengan bunyi-bunyian sampah, lagu-lagu sampah, music-musik sampah, hiburan sampah, banyolan sampah, cerita sampah dan lain lain. Diantara persoalan serius lagu-lagu adalah lirik liriknya. Tanpa disadari banyak sekali uangkapan kemusyrikan, terutama lagu lagu cinta. Memuja muji kepada selain Allah SWT secara berlebihan  tidak proposional banyak sekali diungkapkan dalam nyanyian-nyanyian cinta. Seperti “Aku lahir hanya untukmu..”  “lebih baik aku mati ditanganmu” , “dihatiku hanya ada kamu..” atau “ Hidup ini terasa hampa tanpa ada kamu disisiku” dan berbagai ungkapan gombal lainnya…

Akhirnya kita juga banyak menyaksikan aktifitas sampah, seperti tongkrongan sampah, pesta sampah, pertunjukan sampah, ceremoni sampah, dan sebagainya. Isi acaranya hanya kemaksiatan dan kesenangan hewaniah. Mata, telinga, kaki dan tangan penuh kamaksiatan, Akal dan fikiran ngeres dan penuh  kotoran. Jiwa dan Hati keras dan kelam, sulit menerima masukan, sulit untuk diajak kebaikan.

Jika semua itu yang tersebut diatas dilakukan oleh seseorang secara terus menerus, apalagi dilakukan oleh seorang pemuda, maka bisa kita sebut “Pemuda Sampah”. Dan jika pemuda itu telah menjadi korban sampah sehingga hari-harinya tidak lagi produktif,  hanya menhasilakan aktifitas dan pekerjaan sampah, maka layak juga disebut “Sampah Pemudah”

Jadi Sampah Pemuda adalah sampah yang dihasilkan oleh berbagai aktifitas, kegiatan, pekerjaan, hoby para pemuda yang tidak membawa manfaat apa-apa kecuali kotoran, bau busuk, sumber penyakit dan sebagainya. Sementara Pemuda Sampah adalah pemuda hasil korban dari kedekatannya dengan sampai, sehingga hari-hari waktunya habis disibukan oleh berbagai macam aktifitas yang tidak ada manfaat bahkan banyak menumbulkan bahaya. Baik bahaya untuk dirinya maupun bahaya untuk lingkungannya.

Apabila pemuda sampah bertemu dengan program iblis laknatullah yang pekerjaanya menyesatkan manusia kemudian didukung oleh teknologi maka menjadi bahaya yang sangat serius. Membutuhkan penanganan yang serius pula agar tidak semakin banyak para pemuda yang menjadi korban sampah. Menjadi tanggung jawab kita semua bagaimana caranya mengolah sampai agar bisa berguna kembali. Pengolahan sampai sangat berbeda dengan pengolahan bahan biasa. Membutuhkan beberapa tahapan proses, sebelum di daur ulang. Mulai dari pemilahan berbagai jenis bahan, pencucian, peleburan dan pembentukan.

Begitu juga penanganan Pemuda Sampah akan sangat berbeda dengan pemuda yang biasa. Membutuhkan ekstra kerja keras kita untuk bisa menyelematkan generasi muda yang sudah tekena penyakit sampah. Karena itulah dibutuhkan kesadaran bersama dari seluruh komponen masyarakat, dimulai dari mengetahui dan sadar akan realitas apa yang terjadi sesungguhnya di sekitar kita. Karena tidak jarang orang yang tidak tahu apa-apa tentang lingkungannya sendiri, sehingga masih merasa tenang, tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi.

Semoga kita masih punya waktu sekedar untuk peduli mau tahu nasib anak bangsa terutama dikalangan pemudanya. Sehingga ada suhu dan motivasi yang sama untuk kita berjuang bagaimana caranya menyelamatkan pemuda kita dari berbagai ancaman yang menghadang di hadapan mereka.

Penulis :
Nama      :  Abdullah Muadz ( Bang Uwo )                               
Aktifit                        Aktifitas  :       

1.      Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang
2.      Pendiri Pesantren  Ma’rifatussalaam  Kalijati subang
3.      Pendiri, Trainer & Presenter di “Nasteco”
4.      Pendiri dan Trapis Islamic Healing Cantre
5.      Pendiri LPPD Khairu Ummah Jakarta