Rabu, 15 Oktober 2014

Perbudakan Kontemporer



Perbudakan Kontemporer
Abdullah Muadz


Ganti Nama dan Atribut  
                                                                                                     
Budak, kuli, orang upahan, jongos, hamba sahaya adalah sebutan penghinaan kepada manusia sebagai sebuah setatus atau profesi yang dianggap paling rendah, sehingga tidak disukai manusia pada umumnya. Namun faktanya hingga hari ini masih banyak ditemukan manusia yang bermental dan berprilaku seperti Budak. Walaupun bentuk, Istilah, symbol, atribut dan namapun berbeda dari masa kemasa, antara satu peradaban dengan peradaban lainnya.      
                 
Zaman dahulu budak-budak dibelenggu dengan rantai, dipekerjakan dan diperas tenaganya habis-habisan, dan diberi upah ala kadarnya sekedar penyambung hidup saja. Biasanya budak-budak ini diperolah dari tawanan perang atau melalui transaksi jual beli. Ada juga budak-budak itu didapat dari hasil perburuan. Persis seperti memburu hewan, para pemburu mengejar sampai dipedalaman hutan-hutan Afrika dan Amazon, kemudia hasil buruannya dijual dipasar perbudakan.                                       
                                                                                      
Tujuan membeli budak memang untuk dipekerjakan, dengan upah murah hasil optimal, diperlakukan seperti hewan saja, tidak mengenal prikemanusiaan. Jika budak itu hasil dari transaksi atau tawanan perang, mungkin masih terasa bahwa dirinya sedang diperbudak. Namun apabila budak itu mempunyai anak dan tidak sempat mendidik anaknya karena harus bekerja keras sepanjang hari, maka anaknya nanti akan bermental budak pula, namun tidak lagi merasa terpaksa, bahkan merasa bangga dirinya diperbudak. Apalagi majikannya mempunyai kedudukan dimasyarakatnya, maka si budak tadi akan merasa bangga menjadi pengabdi majikannya.   

Sekarang cara berburu dan membelenggu perbudakan modern sudah berbeda, tidak lagi dengan perburuan dihutan, juga membelenggunya tidak lagi dengan rantai. Apabila yang sangat diperlukan perbudakan Intelektual maka berburunya di sekolah dan dikampus-kampus. Senjatanya melalui media informasi terutama internet, kemudaian rantai belenggunya melalui beasiswa, tugas belajar, pertukaran pelajar, SK penghargaan, piagam, anugrah gelar kehormatan, sampai di iming-iming pekerjaan dengan salary yang menarik. Jangan heran budak-budak zaman modern kini ada yang bergelar Doktor.               
                                        
Terkadang ada juga perburuannya dengan cara-cara yang kotor, yaitu dengan menjebak para pemuda yang punya potensi luar biasa, dengan berbagai bentuk kemaksiatan, yang apabila diketahui masyarakat, akan menanggung aib yang sangat memalukan. Akhirnya si pemuda tadi tidak berdaya, karena kartu turf dirinya sudah ditangan majikan. Sewaktu waktu loyalitasnya luntur apalagi berani melawan, maka tidak segan-segan sang majikan untuk membongkar kartu truf itu. Jadilah pemuda yang tertawan.             
                                                                 
Persamaan budak zaman dahulu dan sekarang adalah pada mentalitas budaknya itu. Loyalitas, ketundukan, kepatuhan, serta ketaatan mutlak pada majikan, adalah sikap yang selalu melekat pada manusia yang bermental budak. Walaupun memiliki serenceng gelar, bagi yang bermental budak tetap sama saja akan sangat patuh kepada sang majikan yang telah member beasiswanya.
 
Perbudakan zaman sekarang sudah berganti, baik nama, baju, lambang, simbol, atribut dan cara kerjanya. Tetapi apapun sebutan yang digunakan kita masih bisa melihat ciri-cirinya yang begitu jelas.

Kehilangan Kendali Diri     
                                                                                                      
        Ciri pertama yang disebut budak adalah dia tidak memiliki kontrol dan kendali atas dirinya sendiri. Ada majikan yang mengendalikannya. Dengan belenggu yang cukup kuat, budak itu ditakdirkan tidak bisa melawan majikan. Berbagai jenis belenggu saat ini adalah berupa hutang budi, cuci otak, kebebasan mengumbar nafsu syahwat dan sebagainya.     
                       
          Hutang budi adalah berbagai macam fasilitas dan penghargaan yang diterima oleh orang-orang yang terpilih dan dipastikan  bisa menjadi loyalis majikan. Para majikan mempunyai data base jejak rekam para calon-calon budak yang mempermudah seleksi, siapa saja yang nantinya akan bisa menjadi pendukung sekaligus loyal terhadap majikannya.      
                                        
          Hidup dizaman matrialisme seperti sekarang ini tidak ada yang gratis, semua serba ada harganya. Walaupun disebut bantuan itu hanya politik pencitraan. Apalagi waktu kampanye, omong kosong banget kalau ada bantuan murni tidak mengharap imbal balik.       
                        
          Hebatnya lagi orang-orang yang bermental budak tidak memandang status dan pendidikan. Bisa saja orang yang punya kedudukan tinggi dan pendidikan tinggi dijadikan budak. Para majikan sudah memiliki tools yang sangat canggih untuk menilai siapa saja orang yang punya bakat dijadikan budaknya. Jika hasil penilaian seseorang punya potensi bisa dijadikan budak/boneka, maka bantuan siap digelontorkan berapapun yang diperlukan. Jika ia berpotensi jadi pejabat politis, maka bantuan kampanye akan segera digulirkan unlimited untuk memenangkan calon bonekanya. Sudah tentu dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh si budak boneka itu setelah memagang jabatan.                
                                                                            
Fikirannya Sebatas Upah.    
                                                                                                
            Karena sudah kehilangan kendali diri maka sepenuhnya di berikan kepada majikan untuk dapat mengendalikan dirinya. Para budak merasa tidak punya kemampuan dan tidak bisa apa-apa kecuali hanya menggantungkan hidupnya kepada sang majikan. Mengganggap hanya majikanlah yang memiliki pemikiran, solusi, sistem untuk memperbaiki dan mempertahankan diri sibudak tersebut.                          
                                                                                                             
          Bagi para budak hanya satu konsentrasi fikirannya yaitu bagaimana bisa bertahan hidup, dengan cara menerima pemberian dari majikan, setelah itu siap mengikuti titah perintah sang majikan. Persis seperti  sirkus pertunjukan binatang, si pawang selalu saja membawa makanan untuk merangsang insting binatang agar mengikuti apa yang diinginkan sang pawang. Selalu saja makanan itu diberikan sebagai upah setelah si binatang itu berhasil melaksanakan pertunjukannya.    
                                                                                                                   
            Fir’aun juga memberi upah kepada tukang sihirnya agar bisa membela kepentingannya dari ancaman keberadaan Nabi Musa. : “Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: " Apakah kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang (atas Musa) ?, Fir'aun menjawab: "Ya tentu saja sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." ( Q.S Surah Al ‘Araaf (7) ayat : 113 – 114 )        
                          
           Jangan heran kalau kemudian si budak menjadi pembela dan sangat loyal terhadap majikannya. Fikiran dan prasaannya sudah terbelenggu oleh berbagai fasilitas yang membuatnya nyaman. Sudah tidak sanggup lagi berfikir kemerdekaan, harga diri, kemandirian, serta pembelaan terhadap bangsanya sendiri.       
                                                                                                 
Cuci Otak                
                                                                                                                  
            Bagi calon budak dari kalangan intelektual sang majikan tahu bahwa kebutuhannya bukan sebatas perut atau dibawah perut. Maka upah yang diberikan juga bukan sebatas dengan uang saja, tapi ada kompensasi lain berupa berbagai macam penghargaan. Karena mereka sangat membutuhkan status sosial dimasyarakatnya, agar memiliki kedudukan yang terhormat.    

           Majikan akan menyeleksi  kaum terpelajar yang masih memiliki mentalitas budak, untuk diberi penghargaan agar bisa menjadi pendukung dan loyalis majikan. Apalagi untuk mereka yang terbukti sudah menghasilkan pemikiran nyeleneh, destruktif, dan pro imprialis, akan sangat mudah mendapatkan fasilatas, beasiswa, gelar dan berbagai bentuk penghargaan.  
               
          Hasil dari proses cuci otaknya sangat jelas terlihat. Walaupun sudah sampai gelar S3 akan lumpuh daya analisanya ketika melihat kepentingan majikan. Pembelaan habis-habisan, sampai membabi buta jika sang majikan dikritik. Sedemikian jelas, terang benderang aksi-aksi kejahatan impreialis, tidak mampu dilihatnya, karena status si imperialis itu sebagai majikan.  Seperti apapun tingginya pendidikan tetap saja budak ya budak juga alias jongos.    
                  
            Pembentukan mentalitas budak dari kaum terpelajar ini tentu memakan waktu lebih lama di banding dari penguasa, politikus, artis dan golongan lainnya. Biasanya melalui proses beasiswa untuk studi terlebih dahulu. Diharapkan setelah menjadi sarjana pola fikirnya sudah tercuci dan sekaligus terwarnai menjadi pembela Imprialisme sejati.    
                                                      
Alat Exploitasi                                           
                                                                               
             Sejak dahulu hingga sekarang yang namanya budak, apapun  namanya atau modelnya tetap sama saja fungsinya, yaitu sebagai alat mengeruk kekayaan untuk si majikan. Dalam bentuk makro Budak itu dijadikan alat eksploitasi kekayaan suatu negara untuk kepentingan negara-negara imperialis.           
                                                                                                                         
              Berbagai istilah seperti, komprador, kaki tangan, tentara bayaran, pemimpin boneka, antek-antek, dan sebagainya adalah nama-nama fungsi dan tugas si budak. Ketika dikemas dengan nama yang berbeda, simbol dan atribut yang keren, disertai dengan penghargaan dan gelar, maka status budak kini sudah menjadi supermasi. Apalagi budaya feodal ditengah-tengah masyarakat belum hilang, maka keadaan bisa berbalik, orang berlomba-lomba untuk menjadi jongos-jongon imperialisme. Tidak ada sedikitpun perasaan berkhianat, hina atau minder, malah sebaliknya merasa pahlawan, terhormat dan bangga.     
                                                                            
           Berapa kekayaan alam kita seperti emas, uranium, minyak, gas, batu bara hasil laut, hutan dan sebaginya, yang tersedot untuk kepentingan asing dengan bagi hasil yang tidak adi?. Berapa nilai produk Import yang bukan kebutuhan primer, hanya untuk gengsi anak bangsa?.  Berapa fee management dan waralaba dari produk-produk asing?. Berapa uang para keluarga pejabat yang dihabiskan untuk shoping keluar negeri?.  Berapa uang hasil korupsi yang disimpan diluar negeri?.  Berapa milyar uang yang keluar keluar cuma pertunjukan musik 2 jam ?, belum lagi kerusakan moral yang ditimbulkan, sudah tidak bisa dinilai dengan materi seberapapun !!!.  
                         
              Kenapa semua itu bisa terjadi dan berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya?. Jawabannya adalah karena ada diantara anak bangsa ini yang mau dijadikan budak-budak atau jongos-jongos Negara-negara Imperialis. Cukup dengan pengakuan Jhon Perkin sebagai wakil dari Kaum Imperialisme, seharusnya para budak menyadari akan keberadaan dirinya selama ini, sebagai agen asing yang menghancurkan negaranya sendiri.. atau malah belum baca?.

Selasa, 14 Oktober 2014

Neo KNIL



Belanda Hitam
                                                                 Abdullah Muadz     

   Dalam setiap penjajahan selalu ada dari orang-orang bumi putera yang membantu dan melayani sang penjajah, termasuk di Indonesia. Tidak mungkin Belanda negara yang begitu kecil dan sedikit penduduknya bisa menjajah Indonesia ratusan tahun, tanpa bantuan pribumi. Termasuk pasukan Militernya seperti KNIL, banyak menggunakan orang-orang Indonesia sendiri yang menjadi anggotanya dan siap bertempur melawan saudaranya sendiri. Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai sedemikian hebatnya sang penjajah menggunakan tenaga manusia yang berasal dari negara jajahannya sendiri.?                                                                                   

KNIL  Singkatan dari Koninklijk Nederlands Indische Leger  adalah tentara kerjaan Hindia Belanda yang melayani dan membantu Pemerintahan Hindia Belanda. Walaupun demikian banyak anggota-anggota nya bumi putra bukan orang-orang belanda. Tahun 1936 jumlah pribumi yang menjadi tentara KNIL mencapai 33 ribu orang atau sekitar 77%. Tentu tidak mudah begitu saja diterima sebagai tentara KNIL karena akan ditugaskan berperang melawan saudara sebangsanya sendiri. Karena itulah harus melalui proses cuci otak dan seleksi yang ketat, agar tidak terjadi senjata makan tuan.

Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi lapuk. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming materi, gengsi dan kehormatan, mereka yang hari ini mentalitasnya Budak Penjajah justru merasa bangga menjadi “Londo Ireng” (Belanda Hitam). Di Negeri yang budaya feodalis belum hilang seperti ini, atribut materi, pangkat, jabatan dan kedudukan menjadi supermasi. Jangan heran kalau para budak penjajah menempati kedudukan yang terhormat ditengah-tengah masyarakat feodal seperti ini.

Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu sekarang..:

1.      Inferior
Diantara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental Rendah Diri. Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa, tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka, hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya sendiri penuh dengan kehinaan. 

Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya,  sehingga tidak bisa mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti  dan keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis, terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari berbagai bentuk penjajahan.

Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang Majikan kaum Imprialis sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari muka. Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalaha hasil rampasan dari berbagai kekayaan Negara si Jongos tersebut. Tapi yang namanya sudah mental Budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang bantuan dari majikan.

Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si Majikan bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang haram keluar dari mulut si Jongos tadi adalah kata “Tidak”. Apa saja yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”

2.      Shock Culture
Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi beku, kreatifitas mandeg, yang ada Cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek seperti kerbau yang Negara-negara imperialis semakin merasa tidak berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya, ditarik kemana saja mau ikut.

Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”. Kalau perlu anak dijadikan obyek untuk meningkatkan status social orang tuanya melalui pesta pernikahan tersebut. Belum lagi hari-hari yang dianggap besar, seperti tahun baru, valentine day, april mop dan pesta-pesta lainnya, maka berlomba-lombalah si Belanda  Hitam untuk memamerkan atraksi ke”Norak”annya dengan sangat PD nya.

Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang tidak lain Cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil karyanya sendiri. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya. 

3.      Komprador Volunteer
Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol, lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.

Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini   isinya 2/3 lautan tapi garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.

Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa dihitung lagi dampak kerugiannya.

Diantara ciri seni dan budaya Negara-negara Imprialis adalah Kebebasan berekspresi kebinatangan atau mengumbar syahwat. Atas nama Hak Asasi dan Kebebasan, ekspresi mereka tidak bisa dilarang. Karena nanti akan dituduh Anti HAM dan akan diadukan kemajikannya. Sekarang ini organisasi atau club-club yang menjadi kaki tangan Imprialis berada di papan atas. Dengan pongah, sombong serta bangganya mereka terus menjajakan barang dagangan milik majikannya ke tengah-tengah masyarakat pribumil.

Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri, akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak mengerti HAM dan sebagainya. Ribuan orang pribumi tewas mereka akan seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu orang bule saja mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media gempar, rame-rame si jongos Impralis itu juga ikut teriak-teriak, sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.

4.      Raja Tega
Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri. Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan Istilah Extrimist. Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana Negara yang semakin hancur lebur ini.

Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis, tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi” dengan “PIL Syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.

Dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, maka setiap orang yang memberikan Pil Candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Disitulah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan mengumbar Nafsu Syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM, akan siap berhadapan dengan majikannya. 

Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan SAKAU pula orang bisa nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat malunya.

Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan. 

Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si Majikan bagaimana bisa terus menjajah, si Neo KNIL  yang sudah SAKAU berkeinginan bagaimana roti dan keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa terancam kepentingannya.

Paranoid kaum liberal



Paranoid kaum liberal
Abdullah Muadz



Emosional Menurunkan Fungsi Otak

Membaca tulisan  para liberalis akhir-kahir ini tentang pergerakan Islam, penulis dapat berkesimpulan bahwa banyak diantara mereka yang mengidap penyakit paranoid. Mungkin karena studi di barat yang cukup lama sehingga penularan paranoid itu terjadi. Indikator yang paling mudah kita lihat adalah tulisan mereka yang mengandung emosional yang sangat tinggi, terutama tulisannya tentang pergerakan Islam, sehingga menurunkan fungsi akal sehatnya. 

Ketika akal sehat sudah menurun, maka sudah tidak mampu lagi mengikuti kaidah-kidah metodologi Ilamiyah. Bicara ngejeblak, asal bunyi, kemudian muncul halusinasi, plus info sepihak yang didapat, menghasilkan anilisa murahan, layaknya sampah yang harus dibuang. Walaupun ada diantara mereka lulusan  luar negeri, tetapi cara berfikirnya mirip metodologi Warung Kopi.

Diantara motode Warung Kopi adalah ketidak mampuan berfikir mana yang bisa digeneralisir, mana yang kasus, mana yang mainstream mana yang sempalan. Semua dipukul rata untuk menilai setiap kelompok pergerakan. Mungkin karena kebenciannya terhadap pergerakan sudah mendarah daging, dan bertulang sumsum, atau sudah sampai ke ubun-ubuh sehingga merusak cairan otaknya, sehingga penulis melihat seperti agak “rada-rada” . Mudah-mudahan tidak sampai katagori  Ideot.

Pentingnya menjaga stabilitas emosional agar kita masih tetap mampu mengendalikan fikiran dan akal sehat.  Eksploitasi perasaan yang berlebihan, termasuk Marah, benci serta rasa dendam, akan menganggu kerja organ tubuh terutama kerja akan fikiran kita. Ketidak mampuan kerja akal sehat itu sangat dipengaruhi oleh dominasi perasaan. Seorang yang lagi panik akan bisa berbuat nekat apa saja karena sudah tidak sempat minta pertimbangan akal. Seorang yang lagi proses KPK, minta pertolongan bukan saja kepada pengacara, tapi lari keberbagai dukun.

Begitu juga seorang liberalis mengamati fenomena permukaan gejolak sosial, tidak mau lagi berfikir lebih jauh untuk menggali ada apa dibalik gejolak tersebut, terus sudah kebelet ngomong, keluarlah statement-statement sampah. Bisa dianalog seperti mendiagnosa penyakit, jika kita “batuk” itu bukan nama penyakit tetapi itu baru gejala. Penyakitnya mungkin radang tenggorokan, atsma, paru-paru, TBC dan lain lain.

Menjadi persoalan adalah ketika kualitas masyarakat kita dan insan Media juga sebagian masih sangat memprihatinkan, maka statemen murahan itu sangat laku dijual, dan cukup berperngaruh di masyarakat awam. Justru disitulah Hoki nya kaum liberalis, dari situ mereka mendapatkan julukan kaum Intelektual, Pemikir, Pengamat dan sebagainya.

Analisa Kekerasan dan Pembunuhan

Inilah yang paling meragukan penulis, apakah kaum liberalis ini orang akademisi.? Atau aktifis warung kopi? Koq dangkal banget ketika melihat fenomea kekerasan atau pembunuhan. Pertama Ketidak mampuan melihat sekian banyak fenomena kekerasan dan pembunuhan, sperti kacamata kuda yang bisa melihat sebagian kecil saja yang ada di depannya. Kedua ketidak mampuan menelurusuri siapa dalang yang sesungguhnya, apa motif dibaliknya, terus siapa yang paling dirugikan ketika ada expose pemberitaan kekerasan dan pembunuhan dan seterusnya.

Ketika Afganistan diintervensi  oleh Uni Soviet selama 9 tahun lamanya kemudian lanjutkan Amerika, belasan tahun dengan jumlah korban sipil sudah jutaan orang, tidak ada yang berani mengutuk, atau memberi lebel teroris, atau pura-pura tidak tahu, atau karena majikannya yang berbuat.?  Tetapi ketika Thaliban membalas serangan dengan jumlah korban satu dua orang itupun korbannya militer, maka dunia kebakaran jenggot, rame-rame angkat bicara.  

Ketika Intervensi Amerika di Irak tahun 1992 delapan bulan pertama saja korban sudah lebih 700.000 orang kebanyakan sipil. Tidak disebut itu aksi pembunuhan, tidak pula disebut aksi penjajahan ketika minyak Iraq dikuras. Sama ketika Rezim di Suriah membantai ribuan rakyatnya sendiri tidak ada yang bilang teroris, tetapi ketika ada 3 orang warga Barat yang dibunuh, maka dunia kebakarang jenggot lagi.

 Ketika bombardir Israel yang terakhir terhadap GAZA dengan koban lebih dari 2000 orang sipil banyak yang cicing wae. Tetapi ketika ditelaviv kena serangan roket mengakibatkan satu anak kecil meninggal geger lagi dunia....

Sekedar pertanyaan untuk kaum Leberalis, semoga bisa membuka mata hati mereka. Beriktu ini adalah kasus-kasus dan berbagai motif dalam pembunuhan di masyarakat sebagai berikut :
Dalam diskusi di kantor PKBI Jateng Jl Jembawan Semarang, Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dokter Hartono Hadisaputro SpOG menyatakan di Indonesia diperkirakan terdapat ” 2,5 juta kasus aborsi setiap tahunnya”. Artinya diperkirakan ada “6.944 s/d 7.000 wanita melakukan praktik aborsi dalam setiap harinya.”

Pertanyaannya adalah : “Apakah pembunuhan 2,5 juta bayi-bayi tak berdosa itu atas nama agama”?

Disampaing kasus Pembunuhan model Aborsi; model minum Pil KB, atau menggunakan suntikan, pembunuhan janin karena malu akibat hamil di luar nikah, masih banyak lagi kasus-kasus pembunuhan sebagai berikut :

 -Pembunuhan karena perampokan, pencurian,
-Pembunuhan karena tawuran dan perkelahian,
-Pembunuhan karena rebutan lahan parkir atau karena Narkoba dan Miras,
-Pembunuhan karena dendam cinta,dan cemburu,
-Pembunuhan karena persaingan bisnis,
-Pembunuhan karena menghilangkan, jejak,penghilangan barang bukti serta pelenyapan saksi,
-Pembunuhan karena mempertahankan kekuasaan,(contoh Kasus Rumania dan Tiananmen)
-Pembunuhan karena rekayasa politik/permainan elit pusat pemerintahan, (berbagai kerusuhan di tempat kita, salah satu contohnya tokoh HAM, Munir),
-Pembunuhan massal oleh negara karena merebut kekayaan dan minyak di Negara lain,(Lihat sepak terjang Amerika dan Barat),
-Pembunuhan massal karena etnik (lihat kasus Bosnia tahun 1995 dll),  dan lain lain.

Jika kita lihat berita sehari-hari tentang kasus pembunuhan, manakah yang paling banyak model dan motif pembunuhan tersebut ??? Pernakah si “Liberais Intelektual” itu membandingkan jumlahnya motif apa pembunuhan itu yang lebih banyak?

Masyarkat Heterogen, Majemuk dan Pluralisme.

Seperti anak-anak masih usia TK yang masih menonjol egoismenya seolah-olah hanya dia yang punya, hanya dia yang tahu. Orang-orang Pergerakan Islam dianggap orang yang tidak mengertii bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang Heterogen dan Majemamuk. Lebih jauh lagi kadang sampai menuduh syari’at Islam yang selalau dibenturkan dan dianggap tidak sesuai dengan masyarakat Heterogen dan Majemuk.

Sedemikian benci dan dendamnya kepada aktifits Pergerakan sampai tidak tahan lagi isi perutnya keluar melalu ucapan “Kaum Islamis di negeri ini patut bersyukur, karen kita tidak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka dibunuh dan dinistakan,”

Sedikit fakta sejarah berikut ini mudah-mudahan kita akan mendapatkan fakta-fakta sebaliknya. Bahwa Ummat Islamlah yang paling banyak tolerasi, mengalah serta peling mengerti masyarakat hetoregen dan majemuk. Fakta-fakta itu sebagai berikut :  

1. Penghapusan tujuh kata dalam piagam Jakarta, karena ada isue ancaman dari Indonesia timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Hingga saat ini isue itu masih misterius siapa oknum yang mengancam itu. Ummat Islam pun menerima.

2. Kalender Nasional dan Kalender Pendidikan memakai kalender Masehi (Nashrani), bukan kalender Islam (Hijriyah) sehingga sangat susah dan ribet ketika menentukan libur ramadhan dan libur hari raya... terutama mengatur liburan sekolah,  ummat Islampun dapat menerima...

3. Hari libur pekanan hari Minggu (Nashrani), bukan hari besar Islam (Jum'at ) Ummat Islam Mengalah....

4. Tahun Baru Imlek dan Tahun baru Masehi peraayaannya jauuuh lebih besaaarr dan lebih gebyaaaarrrr. dari pada tahun baru Islam. lagi lagi ummat Islam tidak iri hati.

5. Pemaksaan asas tunggal terhdap organisasi apapun pada zaman orde baru, yang di rekayasa oleh kelompok "Tanah Abang" otak utamanya non Muslim, lagi lagi Ummat Islam yang sangat terpojok pada saat itu, sampai terjadi meletusnya pristiwa priok....para aktifis HAM bungkam.... (karena korbannya Ummat Islam)

6.. Pemecatan Siswi jilbab, dari SLTA Negeri selama 12 Tahun, ( 1980 - 1992 ) sampai banya korban gadis berjilbab yang di usir dari sekolah negeri.. orang2 tidak ada yang teriak HAM, termasuk  aktifis HAM nya juga cicing wae.. 

7. Nama-nama gedung gedung besar terutama di jakarta, sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non Muslim. ( Contoh : Arthaloka, Graha Purna Yudha, Manggala Wana Bhakti dsb ) 

8. Lebih dari 30 Jenis-jenis Penghargaan oleh Presiden, semuanya memakai nama-nama yang juga sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non Muslim. 

Berikut ini sebagian contoh kecil penghargaan di Bidang Militer
a.       Bintang Kartika Eka Pakçi, terdiri atas tiga kelas:
    1. Bintang Kartika Eka Paksi Utama
    2. Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
    3. Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
  1. Bintang Swa Bhuwana Paksa, terdiri atas tiga kelas:
    1. Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
    2. Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama
    3. Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya
 Ummaat Islam pun tidak pernah mempermasalahkannya...

9. Pristiwa ambon yang sangaat Jelas, pembantaian terhadap orang orang yang baru selesai sholat Ied,, saksinya jutaaan manusia, tetapi sampai  diluar negeri beritanya jadi sangat terbalik, bahwa Ummat Islam lah yang mendahului.. ( sudah jatuh, tertiban tangga pula) sudah dibantai, difitnah pula....

10. Komposisi PNS dan Pejabat berdasarkan Agama di beberapa provinsi tidak proposional jika dibanding dengan komposisi agama penduduknya. ummat Islam tidak mempermasalahkan, walaupun secara proporsional dipertanyakan...

11. Bicara Korban Pembantaian apalagi, siapa yang banyak korban..? Pristiwa Priok, Lampung, Cisendo, woyla, aceh ambon, dan lain lain... Memang Ummat Islam sudah terbiasa jadi Korban Pembantaian..

12. Rekayasa global dengan Isue Terorisme, yang sangat memojokkan Ummat Islam, sangat berimbas di Indonesia, sampai sampai pesantrenpun ada yang menjadi korban tuduhan. Kita harus menerima bahwa seolah olah kalau bicara terorisme itu konotasinya Ummat Islam.... jadi Teroris sama dengan Ummat Islam, begitulah berita...

Kesimpulan betapa baik hati dan tolerannya Ummat Islam di Indonesia. Ternyata kaum Liberalis jongos Imprialis masih tidak puas juga. Sudah dikasih hati masih minta rempelo.

Isue Terorisme dan Kebodohan Liberalis    
Dampak dari isue terorisme yang sudah pasti pertama dirugikan adalah Ummat Islam, dan yang sangat di untungan negara-negara imprealis. Dimulai dari munculnya kercurigaan terhadapa aktifitas ke Islaman, tuduhan-tuduhan irasionial kepada sebagian ummat islam, pemblokiran berbagai rekening Bank Ummat Islam yang tuduh seracara serampangan, dan ini memang bagian dari target utama. 

Terhentinya berbagai penyaluran dana pembangunan sarna ibadah dan bantuan kemanusiaan dari dermawan timur tengah ke negara-negara miskin. Mereka ketakutan dituduh mensuplai logistik teroris. Termasuk terhentinya berbagai bantuan terhadap bencana alam. Kalau pun masih bisa sekarang dengan birokrasi yang sangat sulit, atau hanya tinggal orang-orang yang masih berani saja, itupun dengan perjalanan yang rumit uang itu bisa sampai kepada yang berhak menerima.

Sementara pemerintah Indonesia tidak melihat peluang ini, orang-orang yang dermawan betul-betul ingin membangun masjid di indonesia, karena di negara mereka sendiri sudah banyak masjid dan penduduknya sedikit. 

Tidak ada kebijakan yang bisa menolong mempermudah orang-orang yang ingin investasi akhirat, padahal membawa devisa negara yang tidak sedikit. Pemerintah lebih suka memfasilitas infestor asing yang akan mengeruk kekayaan Indonesia. Atau karena takut sama majikan yang lagi membuat Isue terorisme tersebut.

Sebegitu bodohkan para aktifis Islam mau dijadikan permainan Isue teroriseme... ?
Siapakah  dibalik Isue terorisme.? Siapakah yang terlibat didalamnya ? Siapakah orang yang bisa dijadikan jongos-jongos Imprealisme, untuk turut membantu membangun opini sekaligus memfitnah para aktifis.? Jadi pertnyaanya kita balik, sebegitu bodohkan mereka sampai bisa-bisanya menuduh Aktifis seperti itu..?

Pertanyaan Seputar ISIS

Semua kita menolak cara-cara kekerasan dan pemaksaan Ideologi dengan dengan alasan dan tujuan apapun. Tetapi kita dihadapkan dengan sekian banyak pertanyaan tentang ISIS, yang seharusnya bisa dijawab oleh para profesor Sosiologi, Psikologi Sosial, Sejarawan dan sejenisnya.

Kalaupun  kejadian terakhir berupa pembunuhan terhadap warga asing kita sepakat itu adalah tindakan kejam dan sadis, pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa sampai sesadis itu ? Apa betul disebabkan oleh pemahaman keIslaman mereka ? bukan karena dendam ? atau tidak ada hubungan dengan tragedi sebelumnya, kekejaman rezim suriah Bashar al-Assad.? Mengapa para pakar Ilmu Sosial diam.? Atau mereka sudah menjadi bagian dari strategi global Imprialisme.?

Mengapa para pakar itu pada sakit gigi ketika peristiwa-peristiwa pendahuluannya yang menjadi tragedi kemanusian luar biasa dilakukan oleh Rezim Suriah ? Mengapa ketika terjadi pembantaian terhadapa anak-anak dan wanita sampai ribuan mereka diam.? Mengapa mereka tidak berani mengatakan itu teroris ? Mengapa perkembangan ISIS begitu cepat, ? Mengapa masyarakat Suriah dan Iraq banyak menyambut ISIS ?  jawaban dari pertanyaan itu sangat berkaitan erat dengan berbagai peristiwa sejarah yang mendahuluinya sebelum ISIS muncul kepermukaan. Sekali lagi mengapa sebelumnya mereka diam...?

Kalau ISIS yang membunuh 3 warga asing laki-laki dewasa, disebut teroris, lagi bagaimana dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya pembantaian terhadap anak-anak dan wanita yang jumlahnya sampai ribuan? Bukankan lebih pantas disebut “Embahnya Teroris” ? lalu kenapa waktu itu sipara pengamat dan parkar cicing wae.... Semoga kita masih mememilki satu pertanyaan lagi, “ Apakah fikiran saya masih sehat gak yaa “....

Rabu, 10 September 2014

Oknum Mahasiswa Membusuk

Metode Ilmiyah VS Metode Warung Kopi

Oleh: Abdullah Muadz
SEORANG mahasiswa seharusnya berfikir ilmiah. Secara sederhana ilmiah bisa diartikan  mengambil kesimpulan atau pendapat sesuai dengan fakta dan data yang akurat, valid dan lengkap.
Sekedar contoh seorang oknum mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Rahmad Sholehuddin mengatakan; “Sekarang tidak sedikit orang atau kelompok yang mengatasnamakan Tuhan membunuh orang lain,” katanya menjelaskan tema spanduk  ‘Tuhan Membusuk’ “Tuhan Membusuk” [Konstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan] dalam Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, seperti dikutip  beberapa media massa.

Ucapan itu menurut saya, mengalir begitu saja asal bunyi, tanpa data dan fakta disebutkan.
Pada pristiwa apa? Siapa pelakunya? Dan kelompok apa? Siapa korbannya? Apa motif sesungguhnya (dengan analisa yang akurat) sehingga orang bisa disebut ‘membunuh atas nama agama?’
Saya ingin memaparkan inilah calon intlektual yang sangat berbahaya karena metode berfikir seperti ini saya sebut “Metode Warung Kopi”. Metode ini meminjam kebiasaan sekumpulan orang awam yang sedang duduk di warung kopi sambil ngerumpi ngomong ngalor-ngidul ngetan-ngulon, tanpa juntrungan (tanpa ujung pangkalnya).

Penulis tidak tahu dari informasi apa si oknum mahasiswa tersebut itu bisa cepat berkesimpulan seperti itu, dengan ungkapan “tidak sedikit”  berarti maksudnya “banyak” orang atau kelompok yang mengatasnamakan Tuhan membunuh orang lain” Jangan-jangan hasil kesimpulannya itu karena kebiasaan menonton berita di media-media penggiring opini atau penyuka berita kriminal di koran kuning.

Contoh berikutnya adalah belajar dari model pemberitaan Pemilihan Presiden (PilPres) tahun 2014 dan model pemberitaan pergolakan di Timur Tengah, di mana kita begitu sulit mempercayai berita, karena kita tidak memiliki kemampuan mencari Informasi berita yang berimbang, akurat, valid dan lengkap.
Pilpres tahun 2014 mengajari kita, betapa media-media besar yang katanya dikenal netral rupanya juga pendukung utama salah satu calon presiden, bahkan dukungannya kelewat batas.

Dari Aborsi, Hiroshima sampe ISIS
Istilah ‘kekerasan atas nama agama’ atau ‘membunuh atas nama agama’ yang dikutip para mahasiswa Ushuluddin UIN-SA dan dijadikan tema besar “Tuhan Membusuk” maksudnya tak lain, bahwa kelompok yang dianggap suka membunuh adalah klompok yang selama ini dianggap oknum mahasiswa UIN itu adalah orang shalih. “Perilaku ini lazim dilakoni oleh kelompok yang mengklaim paling shaleh. Kelompok yang mengklaim paling islami,” demikian lagi-lagi si oknum mahasiwa ini mengatakan tanpa menyebut contoh dan fakta-faktanya dalam pristiwa apa? Kelompok mana dan seterusnya.

Dengan “Metode Warung Kopi” dan sampah seperti ini, bukan saja terjadi pembusukan pada mahasiswa itu sendiri tetapi bisa menyebabkan pembusukan di  masyarakat. Kalau nantinya mereka memegang tampuk kekuasaaan, maka akan terjadi pembusukan juga di tengah-tengah birokrasi dan negara.

Seharusnya oknum mahasiswa itu mempunya data-data lengkap berbagai kasus pembunuhan dengan berbagai motifnya, setelah itu dibuat statistik, terus dianalisa manakah yang paling dominan, motif-motif pembunuhan yang terjadi? Mengapa demikian? Karena mereka mahasiswa bukan kuli bangunan.

Mari kita lihat kasus-kasus dan berbagai motif dalam pembunuhan di masyarakat sebagai berikut :
-Pembunuhan model Aborsi; model minum Pil KB, atau menggunakan suntikan,
-Pembunuhan janin karena malu akibat hamil di luar nikah;  pembunuhan karena perampokan, pencurian,
-Pembunuhan karena tawuran dan perkelahian,
-Pembunuhan karena rebutan lahan parkir atau karena Narkoba dan Miras,
-Pembunuhan karena dendam cinta,dan cemburu,
-Pembunuhan karena persaingan bisnis,
-Pembunuhan karena menghilangkan, jejak,penghilangan barang bukti serta pelenyapan saksi,
-Pembunuhan karena mempertahankan kekuasaan,(contoh Kasus Rumania dan Tiananmen)
-Pembunuhan karena rekayasa politik/permainan elit pusat pemerintahan, (berbagai kerusuhan di tempat kita, salah satu contohnya tokoh HAM, Munir),
-Pembunuhan massal oleh negara karena merebut kekayaan dan minyak di Negara lain,(Lihat sepak terjang Amerika dan Barat),
-Pembunuhan massal karena etnik (lihat kasus Bosnia tahun 1995 dll),  dan lain lain.
Pernahkan paha mahasiswa UIN SA itu membandingkan jumlahnya motif apa pembunuhan itu yang lebih banyak?

Jika berat berfikir, mari saya bantu. Sekedar satu contoh kasus saja pembunuhan model aborsi sebagai berikut :
Dalam diskusi bertajuk aborsi aman dan hak kesehatan reproduksi perempuan di kantor PKBI Jateng Jl Jembawan Semarang, baru – baru ini, Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dokter Hartono Hadisaputro SpOG menyatakan di Indonesia diperkirakan terdapat ” 2,5 juta kasus aborsi setiap tahunnya”. Artinya diperkirakan ada “6.944 s/d 7.000 wanita melakukan praktik aborsi dalam setiap harinya.”
Apakah pembunuhan 2,5 juta bayi-bayi tak berdosa itu atas nama agama?

Pernahkah oknum mahasiswa itu membedah kasus demi kasus seperti peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Lampung, Pristiwa Woyla, Peristiwa Cisendo, Peristiwa Ambon, Peritiwa Poso, Peristiwa Kerusuhan tahun 1998.

Atau kasus yang lebih mendunia  sejarah penjajah atas bangsa Palestina (lebih 66 tahun lamanya)? serangan Amerika dan sekutunya di Iraq dan Afghanistan? Bahkan yang terbaru keinginan Amerika dan Iran menyerang ISIS?
Mengapa oknum mahasiswa UIN itu tak pernah menyebut semua peristiwa yang saya sebutkan itu disimpulkan karena motif agama?
Atau yang paling mudah, pernahkah para mahasiwa itu mengenal lebih dekat kelompok-klompok yang selama selalu divonis media sebagai kelompok ‘Garis Keras’ seperti; FPI, ASWAJA dan kelompok-kelompok yang memakai kata-kata jihad untuk membela kehormatan Islam.
Mengenal dari dekat maksudnya bukan hanya dari informasi berita saja. Tapi berkenalan langsung denganpengurusnya, melihat dokumen AD/ART nya dan programnya, melihat langsung aktifitas hariannya dan seterusnya. Termasuk mengetahui program kemanusiaan yang begitu banyak yang tidak diliput oleh media?

Apakah oknum mahasiswa itu sedikit yang mau tahu bagaimana permaianan elit politik di pusat yang berhasrat merebut kekuasaaan atau mempertahankan kekuasaan sering membawa dampak sampai ke daerah, yang juga kadang membawa simbol agama?

Atau benar-benar tidak tahu bagaimana kekuatan global dunia dengan neo-imprialismenya menggunakan orang awam beragama dengan simbolnya yang tujuannya hanya menguras kekayaan alam negara jajahannya?

Sudah berapa orang korban mati dalam peristiwa Hirosima, Nagasaki, Vietnam, Somalia, Anggola, Mogadishu, Libya, Afganistan, Korea, Iraq, dan berbagai pembunuhan massal lain yang dilakukan negara bernama Amerika Serikat (AS)?

Atau mahasiswa juga jarang menonton film bertema intelijen, di mana isinya keahlian menghilangkan jejak,  atau membuat sebuah peristiwa akhirnya dialihkan ke fihak lain sebagai tersangka dan sang pelaku?

Jika semua contoh sederhana yang saya kemukakan tadi masih membuat Anda semua ngotot bahwa banyaknya pembunuhan hari ini itu disebabkan oleh motif agama, itu artinya Anda semua (meski sudah mahasiswa) sedang  beratraksi menunjukkan kebodohan Anda semua dan Andalah sesungguhnya yang sedang membuat ‘pembusukan’ di tengah-tengah masyarakat.