Senin, 25 Agustus 2014

Korupsi

Definisi Korupsi

Korupsi adalah persoalan klasik yang telah lama ada. Sejarawan Onghokham menyebutkan bahwa korupsi ada ketika orang mulai melakukan pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan umum. Menurut Onghokham pemisahan keuangan tersebut tidak ada dalam konsep kekuasaan tradisional. Dengan kata lain korupsi mulai dikenal saat sistem politik modern dikenal.
Konsepsi mengenai korupsi baru timbul setelah adanya pemisahan antara kepentingan keuangan pribadi dari seorang pejabat negara dan keuangan jabatannya. Prinsip ini muncul di Barat setelah adanya Revolusi Perancis dan di negara-negara Anglo-Sakson, seperti Inggris dan Amerika Serikat, timbul pada permulaan abad ke-19. Sejak itu penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi, khususnya dalam soal keuangan, dianggap sebagai tindak korupsi.

Demokrasi yang muncul di akhir abad ke-18 di Barat melihat pejabat sebagai orang yang diberi wewenang atau otoritas (kekuasaan), karena dipercaya oleh umum. Penyalahgunaan dari kepercayaan tersebut dilihat sebagai penghianatan terhadap kepercayaan yang diberikan. Konsep demokrasi sendiri mensyaratkan suatu sistem yang dibentuk oleh rakyat, dikelola oleh rakyat dan diperuntukkan bagi rakyat.
Konsep politik semacam itu sudah barang tentu berbeda dengan apa yang ada dalam konsep kekuasaan tradisional.  Dalam konsep kekuasaan tradidonal raja atau pemimpin adalah negara itu sendiri. Ia tidak mengenal pemisahan antara raja dengan negara yang dipimpinnya. Seorang raja atau pemimpin dapat saja menerima upeti dari bawahannya atau raja menggunakan kekuasaan atau kekayaan negara guna kepentingan dirinya pribadi atau keluarganya. Perbuatan tersebut tidak dianggap sebagai korupsi, kekuasaan politik yang ada di tangan raja bukan berasal dari rakyat dan ia rakyat sendiri menganggap wajar jika seorang raja memperoleh manfaat pribadi dari kekuasaannya tersebut.
Pengertian korupsi dalam arti modern baru terjadi kalau ada konsepsi dan pengaturan pemisahan keuangan pribadi dan sebagain pejabat sangat penting, sebab seorang raja tradisional tidak dianggap sebagai koruptor jika menggunakan uang negara, karena raja adalah negara itu sendiri.
Namun secara tidak sadar sebenarnya konsepsi tentang  anti korupsi sudah ada sejak lama, bahkan sebelum pemisahan kekuasaan politik secara modern dikenal. Justru dimana tidak adanya pemisahan antara keuangan dari raja/pejabat negara dengan negara itulah yang memunculkan konsepsi anti korupsi.
Dengan demikian korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara.
Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi.
Definisi ini hampir sama artinya dengan definisi yang dilontarkan oleh pemerintah
Indonesia baru-baru ini. Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Menko Wasbang tentang menghapus KKN dari perekonomian nasional, tanggal 15 Juni 1999, pengertian KKN didefinisikan sebagai praktek kolusi dan nepotisme antara pejabat dengan swasta yang mengandung unsur korupsi atau perlakuan istimewa. Sementara itu batasan operasional KKN didefinisikan sebagai pemberian fasilitas atau perlakuan istimewa oleh pejabat pemerintah/BUMN/BUMD kepada suatu unit ekonomi/badan hukum yang dimiliki pejabat terkait, kerabat atau konconya. Bentuk fasilitas istimewa tersebut meliputi:

  1. Pelaksanaan pelelangan yang tidak wajar dan tidak taat azas dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah atau dalam rangka kerjasama pemerintah/BUMN/BUMD dengan swasta.
  2. Fasilitas kredit, pajak, bea masuk dan cukai yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku atau membuat aturan/keputusan untuk itu secara eksklusif.
  3. Penetapan harga penjualan atau ruislag.
     
Suatu analisa menarik dilontarkan oleh John Girling bahwa korupsi sebenarnya mewakili persepsi yang normatif dari ekses kapitalisme, yaitu kulminasi dari proses yang sistematik dari parktekpraktek kolusi yang terjadi diantara elite politik dan pelaku ekonomi, yang melibatkan kepentingan publik dan kepentingan pribadi (swasta). Dengan kata lain, korupsi terjadi pada saat pelaku ekonomi mencoba memanfaat kekuasaan yang dimiliki oleh elite politik untuk mengejar keuntungan (profit), di luar proses yang sebenarnya. Sementara elite politik sendiri memanfaatkan hubungan tersebut untuk membiayai dirinya sendiri atau bahkan membiayai praktek politik yang dilakukannya.
Konsep demokrasi modern dan kapitalisme telah melahirkan kontradiksi antara kepentingan birokrasi pemerintahan yang harus melayani kepentingan umum dengan perkembangan dan intervensi kepentinngan pasar. Di satu sisi, dengan mandat atas nama rakyat yang diperoleh oleh sistem pemerintahan demokratik, maka ia harus mengedepankan kepentingan rakyat secara umum. Sementara perkembangan kapitalisme, yang juga berkepantingan terhadap birokrasi modern, berbanding terbalik dengan kepentingan umum. Akumulasi modal yang menjadi logika dasar dari kapitalisme mengharuskan adanya kontrol pasar dan jalur distribusi. Maka untuk meraih kepentingan tersebut tak jarang para pengusaha menggunakan jalur birokrasi publik untuk kepentingan mereka. Inilah yang dikenal sebagai kolusi, yang merupakan bentuk akomodasi normal antara kepentingan politik dan ekonomi. Kolusi merupakan bentuk pra-kondisi dari korupsi.
Sudah barang tentu pelaku ekonomi memperoleh manfaat keuntungan ekonomi dari hubungan tersebut. Sementara para elite politik memperoleh keuntungan untuk membiayai kepentingankepentingan politik yang akan mereka raih.
Lantas bagaimana korupsi itu dipraktekkan?
Menurut Onghokham ada dua dimensi dimana korupsi bekerja. Dimensi yang pertama terjadi di tingkat atas, dimana melibatkan penguasa atau pejabat tinggi pemerintahan dan mencakup nilai uang yang cukup besar.
Para diktator di Amerika Latin dan Asia Tenggara misalnya berhasil mengumpulkan uang jutaan dollar dari sumber alam dan bantuan luar negeri.
Sementara itu dalam dimensi yang lain, yang umumnya terjadi di kalangan menengah dan bawah, biasanya bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat atau orang banyak. Korupsi yang terjadi di kalangan menengah dan bawah acap menghambat kepentingan kalangan menengah dan bawah itu sendiri, sebagai contoh adalah berbelitnya proses perizinan, pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), proses perizinan di imigrasi, atau bahkan pungutan liar yang dilakukan oleh para polisi di jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan bisnis, dan lain sebagainya. Sejarah sendiri mencatat bahwa Perang Diponegoro, yang terjadi pada tahun 1825-1830, muncul akibat protes rakyat terhadap perbuatan pejabat-pejabat menengah, seperti Demang atau Bekel, dalam soal pungutan pajak, pematokan tanah untuk jalan tol, dan khususnya pungutan-pungutan yang dilakukan oleh para pejabat yang bertanggungjawab terhadap pintu gerbang tol.

PENGERTIAN KORUPSI,KOLUSI,DAN NEPOTISME by: asrihandayani



PENGERTIAN KORUPSI,KOLUSI,DAN NEPOTISME
 
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sbb:
perbuatan melawan hukum;
penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya:
memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
penggelapan dalam jabatan;
pemerasan dalam jabatan;
ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).
Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan.
Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Kolusi

Di dalam bidang studi ekonomi, kolusi terjadi di dalam satu bidang industri disaat beberapa perusahaan saingan bekerja sama untuk kepentingan mereka bersama. Kolusi paling sering terjadi dalam satu bentuk pasar oligopoli, dimana keputusan beberapa perusahaan untuk bekerja sama, dapat secara signifikan mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Kartel adalah kasus khusus dari kolusi berlebihan, yang juga dikenal sebagai kolusi tersembunyi.
kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar

Nepotisme

Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori.
Sebagai contoh, kalau seorang manajer mengangkat atau menaikan jabatan seorang saudara, bukannya seseorang yang lebih berkualifikasi namun bukan saudara, manajer tersebut akan bersalah karena nepotisme. Pakar-pakar biologi telah mengisyaratkan bahwa tendensi terhadap nepotisme adalah berdasarkan naluri, sebagai salah satu bentuk dari pemilihan saudara.
Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Pada Abad Pertengahan beberapa paus Katholik dan uskup- yang telah mengambil janji “chastity” , sehingga biasanya tidak mempunyai anak kandung – memberikan kedudukan khusus kepada keponakannya seolah-olah seperti kepada anaknya sendiri. Beberapa paus diketahui mengangkat keponakan dan saudara lainnya menjadi kardinal. Seringkali, penunjukan tersebut digunakan untuk melanjutkan “dinasti” kepausan. Contohnya, Paus Kallistus III, dari keluarga Borja, mengangkat dua keponakannya menjadi kardinal; salah satunya, Rodrigo, kemudian menggunakan posisinya kardinalnya sebagai batu loncatan ke posisi paus, menjadi Paus Aleksander VI. Kebetulan, Alexander mengangkat Alessandro Farnese, adik kekasih gelapnya, menjadi kardinal; Farnese kemudian menjadi Paus Paulus III. Paul juga melakukan nepotisme, dengan menunjuk dua keponakannya (umur 14 tahun dan 16 tahun) sebagai Kardinal. Praktek seperti ini akhirnya diakhiri oleh Paus Innosensius XII yang mengeluarkan bulla kepausan Romanum decet pontificem pada tahun 1692. Bulla kepausan ini melarang semua paus di seluruh masa untuk mewariskan tanah milik, kantor, atau pendapatan kepada saudara, dengan pengecualian bahwa seseorang saudara yang paling bermutu dapat dijadikan seorang Kardinal.

Rabu, 13 Agustus 2014

Pekikan Merdeka by Abdullah Muadz

(Abdullah Muadz)

Masihkah kau sanggup teriak merdeka
Ketika bangsa ini tak mampu berbuat apa apa
Sekedar mempertahankan harga darah dan nyawa manusia
Jangan sampai dibawah Bra nya Artis punya…
Bandingkanlah gebyar beritanya, di televisi anda …
Berita nyawa hilang, cukup 3 menit saja..
Tayangan barang nya artis,  30 menit belum cukup rasanya…

Masihkah kita sanggup bersuara lantang
Memekikan suara merdeka ke semua ruang..
Ketika uang hanya beredar di sekitar orang curang
Yang pandai loby sana sini sambil begadang..
Membuat skenario jalannya sidang
Agar para perampok berubah dipandang,
Sperti layaknya para pahlawan dan pejuang…
Padahal isi kepalanya tipu muslihat penuh segudang..
Hanya satu tujuan, menghisap, menguras doang..
sampai negeri ini kering kerontang..

Masihkah kita bisa berdiri tegar
Unjuk gigi  kemerdekaan ke dunia luar…
Ketika pengemis di trotoar memandang  jaguar
Gedung-gedung tinggi berjajar, menutupi  gubuk-gubuk liar..
Lapangan golf lebar lebar, tempat lobby raja dan saudagar..
Agar Monopoli  semakin  gahar menggelegar..
Walau rakyat semakin lapar, tepar dan terkapar…

Masihkah kita berwajah cerah,,
Mengucapkan kata merdeka dengan sumringah..
Ketika negeri ini sudah terengah-engah
Menahan beban hutang  dua ribu trilyun sudah…
Buat bancakan si raja dan kroninya yang pongah
Tinggal rakyat mendapat warisah getah
Tanpa pernah merasakan manis dan enaknya buah…

Masihkah kita percaya diri…
Mengulang kata merdeka berkali-kali..
Ketika pemandangan sudah jijik dan geli..
Rebutan kue pembangunan untuk kepentingan pribadi
Perlombaan yang tak mati dan berhenti
Seperti si buta dan tuli yang tidak punya  peduli
Harta, tahta, wanita, Toyota …tujuan sejati..
Mendengar halal haram tertawa geli
Dengan bungkus dan kemasan tipu yang rapi sekali
Hanya bisa dibaca oleh fikiran yang bersih dan hati nurani..nan suci..

Masihkan kita bangga..
Menyimpan kata merdeka di dalam dada
Ketika kreatifitas mandeg, beku dan itu itu juga
Hingga kini balap karung juga masih ada
Paling banter panjat pinang, terus masih dijaga
Padahal sudah 68 tahun Indonesia merdeka
Seperti waktu sia sia tak nambah apa apa
Kecuali nambah TKI yang terus ribut dengan Saudi Arabia.
Lomba buat Nuklir, rasaya masih khayalan belaka..
Apalagi buat 1001 stasiun televisi pendidikan, ah itu ide gila..
Stop Impor kedele, masih takut dengan amerika
Padahal tempe makanan rakyat katanya.
Negeri ini dua pertiga laut faktanya..
Tapi Impor garam belum merasa gila..
Bikin rakyat makmur apalagi, mimpi saja belum ada
Buat tanah subur, asal bukan untuk pertanian bisa saja…
Subur buat pabrik pabrik kepunyaan korea..
Yang penting rakyat tidak boleh tahu apa apa…
Kecuali balap karung, panjat pinang, makan kerupuk dan sejenisnya.

Masihkah kita bisa tersenyum..
Mengalunkan lagu kemerdekaan ke khalayak Umum.
Ketika anak bangsa sudah kebanyakan minum
Minuman keras, atau memakai opium..
Hingga teller sempoyongan seperti binatang meraum
Keinginannya hanya mesum
nongkrong di taman mesum
tidur di hotel mesum
cari teman, yang bisa diajak mesum
warung remang remang apalagi, menjadi rahasia umum
selesai studi banding, makan daging mentah mbak sum.
Turun dari panggung pertunjukan harap dimaklum,
segera mencari sekuntum bunga yang masih ranum,
agar bisa diminum, karena racun sudah  ke tulang sumsum
jadilah manusia sampah layak masuk drum..

Sanggupkan pekikan teriakan merdeka
untuk menunjukkan kepada dunia
Bahwa kita bangsa yang mulia
ketika hutang numpuk tak terkira
pengamen dan pengemis ada dimana mana
antrian BLT dan Raskin makin merata
pengungsi ditenda belum selesai urusannya
PHK dan pengangguran semakin banyak jumlahnya..
kerusuhan dan nyawa melayang jadi biasa.
kelaparan dan busung lapar merajalela
tiwul, gaplek dan nasi aking jadi santapan hariannya.
Peminum, Pelacur dan penjudi banyak pembekingnya.
Ketiak Idol, bokong Idol serta ngebor Idol banyak penggemarnya..
Selingkuh dan Sekandal jadi gizi berita
agar banyak pembaca pendengar dan pemirsa.
Tawuran remaja siswa sekolah, jadi agenda rutinnya.
Pornografi narkoba jadi konsumsi hariannya..
mati karena over dosis bukan dianggap celaka,
tapi resiko biasa untuk si pengguna..
siperokok dimana-mana, pajaknya jadi primadona..
Penjahat bisa duduk disingasana
Bandar narkoba dan judi bisa bangun istana,
Mafia merangsek liar, ganas, masuk kesemua
tak terkecuali di penegak hukum juga ada..
pasal demi pasal ada harganya..
bisa ditawar sesuai dengan keinginan dan selera..
yang penting semua aman katanya...

Tinggalah rakyat jelata, yang tak mengerti apa-apa
jadi korban dan mangsa karena kebodohannya
mengangkat mafia jadi raja dan tokoh idolanya
sambil lantang dengan terikannya
merdeka...!  merdeka...! merdeka...!
apanya yang merdeka...?
Tanah air fikirnya...
dari tanah kita bisa buat kendi katanya..
sementara air untuk mengisi di dalamnya...
merdeka....  merdeka...
hidup kendi... jawabannya...
rakyatnya mah tetap sengsara...
dari dulu sampai sekarang begitu-gitu juga..
malah makin menderita...
akibat dosa bersama....

Mitos “Indonesia Merdeka” selama 65 Tahun

Mitos “Indonesia Merdeka” selama 65 Tahun
Agustus 17, 2010 in berita tentang dunia
oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi*

Dalam hitungan hari, Indonesia akan mengalami babak baru. Pada tanggal 17 Agustus 2010. Genap sudah Kemerdekaan Indonesia dalam usia ke 65. Bendera merah putih beredar di seantero jagad. Hormat gerak para murid-murid sekolah menyingkapkan tangannya di sisi dahi. Para inspektur upcara akan semangat berapi-api menjelaskan kekaguman atas bangsanya yang terbebas dari belenggu negeri Kincir Angin Belanda yang menjajah bumi pertiwi selama 350 tahun. Stasiun-stasiun TV bergantian menayangkan prosesi kirab bendera di pucuk Istana. Lomba-lomba antara kampung menggelegar saling menyambung.

Setelah upacara itu selesai, para murid sekolah melewati kampung-kampung menuju rumah masing-masing. Di tengah jalan, tiba-tiba muka mereka berubah tegang dan sendu. Tanpa sengaja, mereka bertemu anak seusianya yang masih mengais benalu untuk menjadi bahan bakar memasak bambu karena tak sanggup membeli bahan baku. Sepulang dari Istana pun, para guru-guru sekolah terlihat menghentikan langkahnya di tengah jalan melihat seorang ibu berpakaian kumuh kesulitan mencari sesuap nasi di tong-tong sampah karena tak sanggup melewati kawat berduri untuk berkeluh kesah kepada para petinggi.

Terbang ke Papua, anak-anak sekolah ini, tidak tahu bahwa Amerika Serikat dengan senyum lebarnya sedang berjabat tangan kepada birokrat bangsa setelah berhasil merampok emas di Papua. Di pelajaran Geografinya, mereka tidak tahu bahwa Cepu, kekuatan Migas bangsanya sedang dikuasai Amerika. Belum lagi NAMRU. Belum lagi AMDOCS, perusahaan komunikasi berbasis Israel-Amerika yang menjalar di pusat kuasa. Dan lebih parah iman bangsanya juga sedang dijajah di atas sebuah meja makan siang bersama Kedubes Amerika. Anak-anak sekolah itupun kemudian berlarian kembali ke sekolahnya masing-masing dan bertanya kepada Kepala Sekolah, “Pak Guru, betulkah kita sudah Merdeka?”
Mendengar pertanyaan muridnya, sang Kepala Sekolah tertunduk lesu dan mata kepala Sekolah berusia renta itu tertuju pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemendiknas yang tergeletak di mejanya, yang juga impor buatan Amerika.

Peran Amerika Serikat dibalik Kemerdekaan Indonesia



Adayang menarik dalam suatu acara diskusi rutin di Kantor INSISTS. Tiar Anwar Bachtiar,Kandidat Doktor Sejarah Universitas Indonesia, dan juga Peneliti Sejarah diINSISTS, mengungkapkan bahwa sedikit banyak Amerika Serikat memiliki andildalam memuluskan kemerdekaan Indonesia. Ia mengungkapkan dalam suatu kajiannya, bahwa Belanda yang hancur lebur dalam PD II akhirnya menerima proposal bantuan recovery dari AS, dengan catatan Belanda harus berniat tulus untuk melepaskan Indonesia sebagai negara merdeka danmengalihkannya kepada Negeri Paman Sam.

Ternyata ucapan dari Tiar Anwar itu tidak berdiri sendiri. Adalah Francis Gouda, salah seorang Guru Besar Sejarah di jurusan Ilmu Politik Universitas Amsterdam dalam salah satu buku menariknya yang berjudul Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. Menurut Gouda, seperti dikutip salah seorang penulis, menyatakan sadar akan kuatnya posisi Amerika Serikat dalam hubungan internasional paska Perang Dunia II. Para tokoh-tokoh politik Indonesia mencoba segala usaha untuk menarik simpatiAmerika agar mendukung kemerdekaan Indonesia. Salah satu usaha yang dilakukan adalah mengutus beberapa perwakilan Republik Indonesia ke AS. Salah seorangdiantaranya adalah Sudarpo Sostrosatomo, pemuda berumur dua puluhan berpendidikan tinggi yang pada 1949 ditugaskan untuk menjadi atase Pers di New York.

Dalam situasi itu, dengan cerdas Sudarpo membandingkan revolusi kemerdekaan Indonesia dengan revolusi Amerika melalui makalahnya yang berjudul It’s 1776 in Indonesia dan menyebarkannya kepada para wartawan, pejabat publik Amerika, dan perwakilan internasional di PBB. Perbandingan yang terlalu dipaksakan, namun makalah tersebut cukup menarik perhatian pejabat publik Amerika yang memang selalu mengagung-agungkan deklarasi kemerdekaan Amerika pada tahun 1776.

Sedangkan di dalam negeri, para pemuda nasionalis melakukan aksi coret-coret di spanduk dan tembok-tembok kota dalam bahasa Inggris, mereka tak asal corat-coret, melainkan mengutip kalimat-kalimat pidato tokoh kemerdekaan Amerika seperti Jefferson, Linclon, dan lain-lain. Mereka berharap coret-coretan tersebut bisa menarik simpati pasukan AS di Indonesia.

Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga menerbitkan seri perangko bergambar arsitek utama Republik Indonesia yang disandingkan dengan para tokoh kemerdekaan Amerika, antara lain perangko bergambar George Washington berada dibelakang gambar Soekarno, Hatta bersanding dengan Abraham Lincoln, dan Sjahrir yang bersanding dengan Thomas Jefferson.

Sekalipun Gouda pada kesimpulannya bertindak pesimis menjadikan Amerika sebagai “pihak yang bertanggung jawab” atas kemerdekaan Indonesia, bukti-bukti yang ia ungkapkan dalam bukunya menggambarkan ada satu bentuk besar pengharapanIndonesia kepada Amerika bagi tercapainya kemerdekaan Negara dengan mayoritas muslim ini. Menariknya, sedikit banyak “kenangan indah” ini tertutup dalam pelajaran sejarah-sejarah kita.

Aset Indonesia yang Dikuasai Amerika.

Kini setelah Indonesia dinyatakan sebagai bangsa merdeka sepanjang 65 tahun,sejatinya Indonesia masihlah dijajah. Kiprah AS memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, hanya tindakan untuk menggenapi moto bahwa “tidak ada makan siang yang gratis”.

Kita mulai dari tambang emas di ujung Indonesia. Menurut Marwan Batubara, baru padatahun 1995, Freeport secara’resmi mengakui menambang emas di Papua. Sebelumnya sejak tahun 1973 hingga tahun 1994, Freeport berdalih hanya sebagai penambang tembaga, tidak lebih. Jumlah volume emas yang ditambang selama 21 tahuntersebut tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Masih menurut Ketua KPK-N (Komite Penyelamat Kekayaan Negara) itu, Freeport mengelola tambang terbesardi dunia di berbagai negara, yang di dalamnya termasuk 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia.

Namun, sebagai hasil eksploitasi potensi tambang tersebut, hanya sebagian kecil pendapatan yang yang masuk ke kas negara dibandingkandengan miliaran US$ keuntungan yang diperoleh Freeport. Kegiatan penambangandan ekonomi Freeport telah mencetak keuntungan finansial bagi perusahaan tersebut namun tidak bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.

Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak,dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700 km).

Kejinya, untuk menutupi aksi ilegal dan korupnya, Freeport-McMoRan disinyalir telah memberi uang kepada Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI agar pertambangan mereka di Papua tidak banyak diganggu, baik oleh pemerintah maupun lembaga non pemerintah pemerhati lingkungan. Koran The NewYork Times telah melakukan investigasi berbulan-bulan untuk mengetahui masalah itu. Koran tersebut berhasil mendapatkan laporan perusahaan Freeport yangmenunjukkan, pada 1998-2004 perusahaan tambang emas dan tembaga menghabiskan dana US$ 20 juta atau sekitar Rp 200 miliar untuk personel TNI dan Kepolisian RI.

Belum lagi kita juga melihat kapitalisasi Asing yang menjajah di Indonesia, seperti Exxonmobil. Masih menurut Marwan Batubara, tokoh muslim yang getol membuka aib sumber daya Indonesia yang dikeruk AS, bahwa porsi bagi hasil Exxon dan pemerintahditetapkan sebesar 100 : 0. Artinya, pemerintah sama sekali tidak memperoleh bagi hasil, karena seluruh keuntungan produksi gas yang dihasilkan Natuna merupakan hak milik Exxon selaku kontraktor.

Alasannya, eksploitasi D-Alpha Natuna membutuhkan investasi biaya yang besar dan biaya pemisahan CO2 sangat tinggi. Sedangkan potensi penjualan gas saat itu masih rendah. Karena itu,bagian 100% keuntungan bagi kontraktor dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Lalu bagaimana dengan California Texas (Caltex) yang di Riau, entahlah betapa sumber daya bangsa ini sudah dipreteli satu persatu.

Itu baru dari segi sumber daya, dalam segi menghancurkan Islam dari akar pemikirannya, Amerika cukup getol memberi beasiswa bagi para Sarjana Muslim. Salah satunya, melalui beasiswa Fullbright. Tak hanya itu, Amerika juga mengucurkan dana untuk membangun American Corner di kampus-kampus bergengsi di Indonesia. Menyebarkan faham Demokrasi, Pluralisme Agama, Hak Asasi Manusia, Kesetaraan Gender dan sebagainya adalah proyek-proyek think-tank Amerika yang menjadi karakter dasar menghancurkan Islam dari segi yang paling vital, yakni bidang keilmuan.

Maka itu, amat wajar jika banyak mahasiswa musim yang pikirannya sudah “sakit”, berkata Usman Bin Affan seorang nepotis. Al Qur’an itu palsu dan gincu. Bahkan ada yang meragukan kenabian Baginda Muhammad SAW. Bagi mereka, Kajian Islam rasa Amerika lebih bernalar!

Bahkan ketika penulis menjadi guru di madrasah, ada survey yang dilakukan lembaga sosial ke sekolah kami untuk mengukur bagaimana tingkat penerimaan siswa terhadap multikulturalisme. Dan yang melakukan survey adalah wanita muslimah berjilbab rapat, tapi secara pemikiran sudah membarat.

Sekalipun track record sekutu-sekutu asing seperti Amerika yang telah menjajah Indonesia sekian lama, masih ada sebagian umat muslim Indonesia yang nekat memandang Pemerintah Amerika sebagai bangsa bukan rezim, bahkan sampai sekarang tetap menengadahkan tangan meminta belas kasih Obama kepada dunia Islam, hanya karena pidato Obama di Al Azhar.

Padahal Dunbar Ortiz , Professor Emeritus di Departemen Studi Etnik California State University memberikan respon atas pernyataan Obama, bahwa statement-statement Obama yang simpatik dengan Islam. Ortiz menungkapkan bahwa Amerika Serikat didirikan sebagai negara pendatang dari Eropa dengan peta dan rencana yang telah disiapkan untuk menjajah benua, memperluas 13 daerah koloni daripendirian negaranya.

Ortiz melanjutkan bahwa Amerika Serikat telah dilahirkan pertama kali sebagai kekuatan penjajah. Wilayahnya yang sangat luas diperoleh dengan cara menduduki, mengokupasi, dan memerintah dengan cara menghancurkan lebih dari 300 suku bangsa yang merupakan penduduk asli. Amerika juga memaksa ratusan hingga ribuan penduduk Missisippi Timur keluar dari kampung halamannya, mengumpulkan mereka berdesak-desakan di wilayah yang ditinggali suku Indian di Oklahoma.

Amerika dengan rakusnya menganeksasi separuh wilayah Meksiko. Memaksa orang-orang Afrika menjadi budak yang menggarap lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas. Dalam abad pertamanya, Amerika memperoleh wilayah dengan carapenaklukan, menciptakan dasar ekonomi untuk industri Kapitalisme yang kemudian mendominasi dunia. Dan hingga kini, di tengah keterpurukannya Amerika tetaplah negara penjajah sejati.

Bangkitlah Indonesia, Harapan Itu Masih (Belum) Ada.

Dengan terpuruknya bangsa ini, kita harusnya sadar. Indonesia memiliki potensi besarmenjadi negara maju dengan fondasi akhlak Islam yang senantiasa bersyukur atas limpahan kekayaan yang diberikan oleh Allah SWT. Lihatlah betapa kayanya negeriini. Lebih dari 70 persen atau tiga belas juta jenis tumbuhan dan satwa di dunia hidup di hutan tropis Indonesia.

Negara yang memiliki 515 jenis mamalia alias binatang menyusui (urutan kedua di dunia, hanya kalah tipis dari Brazil), 39 persennya endemik Indonesia atawa tidak dapat dijumpai di negara lain. Negara paling kaya dengan jumlah jenis burung-sebaran-terbatas yang terbanyak di dunia, dan 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di negeri kita.

Memiliki sekitar 1.400 jenis hanya dapat disaingi oleh Brazil. Di bidang kelautan, Indonesia memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan laut Indonesia Indonesia merupakan salah satu pusat kekayaan karang dan ikan di dunia.

Negara itu adalah negara terkaya dengan lebih dari 38.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi alias tumbuhan yang memiliki akar-batang-daun yang jelas dapat dibedakan. Dengan 477 jenis dan 225 di antaranya endemik, Indonesia memimpin dalam kepemilikan jumlah jenis palem di dunia.

Tidak hanya itu, bahkan Indonesia digadang-gadangkan sebagai benua Atlantis yanghilang dalam buku Prof. Arysio Nunes Dos Santos yang menggemparkan, “Atlantis The Lost Continents Finally Found”. Benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari yang Kuasa.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia, yakni Neandertal dan Cro-Magnon. Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia. Indonesia pula yang diceritakan oleh Perjanjian Lama sebagai tempat Gunung Ofir (terletak di Sumatera), yang menjadi lokasi Abu Hiram mengambil emas untuk dipersembahkan kepada Nabi Sulaiman dalam upaya membangun Istana emasnya.

Pertanyaannya kenapa bangsa besar ini justru jatuh terpuruk? Kenapa bangsa yang kaya dan diberkahi Allah ini seperti termaktub dalam Surat Al Anbiya ayat 81 justru menjadi ladang atas turunnya murka Allah. Kalau kita tanya, bencana apa yang tidak ada di bangsa ini. Hampir semuanya ada.

Permasalahannya, penulis rasa cukup penting. Tidak lain, tidak bukan bahwa kehancuran Indonesia diawali dengan tidak bersyukurnya kita atas nikmat dan berkah yang sudah Allah turunkan. Umat Islam yang justru bahu membahu mengusir penjajah, justru kini dimusuhi, diburu, dibunuh, dan diberangus haknya, lagi-lagi atas dalih terorisme yang lagi-lagi hasil pesanan kilat Amerika yang mesti dihantar dengan cepat oleh jongos-jongos bangsa ini.

Dari dulu praktik mental-mental penghianat atas tahta dan kuasa sudah berlangsung cukup lama. Ini menjadi kuat aromanya ketika dialektika Jakarta Charter sedang hangat-hangatnya. Dhurodin Mashad, dalam bukunya Akar Konflik Politik Islam Di Indonesia, mencatat, bahwa Piagam Jakarta yang dirumuskan melalui perdebatan panjang, dibatalkan hanya karena usulan satu orang asing: Kaigun Jepang! Singkatnya Opsir Kaigun adalah tokoh yang memberitahu Hatta akan lepasnya Indonesia Timur yang dihuni kaum Kristiani jika masih ngotot mempertahankan Islam sebagai dasar negara.

Apa yang terjadi, tokoh-tokoh bangsa yang notabene muslim tapi sekular itu, dengan sigap melakukan perubahan Piagam Jakarta dengan waktu yang sangat singkat: 15 Menit. Padahal betapa panjangnya pertarungan wacana antara Tokoh Islam melawan Tokoh Nasionalis ituyang rasanya tidak pantas dihancurkan dalam waktu belasan menit. Inilah benih-benih mental pengkhianat bangsa yang notabene sudah berlangsung pada detik-detik kemerdekaan bangsa. Belum jika dihitung pengkianatan dan dusta Soekarno kepada Daud Beureuh yang menjanjikan Aceh sebagai daerah kawawsan syari’at yang lagi-lagi dimentahkan oleh Soekarno.

Oleh karenanya, kita harus Ingat bahwa lawannya syukur adalah kufur. Kekayaan alam yang sedemikian berlimpahnya ini malah membuat kita lalai dan lebih memilih jalan pintas untuk mencapai kekayaan. Bangkitlah Indonesia harapan itu masih belum ada jika kita tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya fihak yang patut kita sembah.

Ingatlah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Lalu teguran Allah bagi hamba-hambanya yang tidak bersyukur “Bukankah Dia (Allah) yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan Menghilangkan kesusahan dan Menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml, 62).

“Satu hal yang amat saya tegaskan di sini adalah keharusan kita untuk kembalikepada Islam. Islam yang benar. Islam yang menyeluruh yang mengembalikan dirikita – sebagaimana yang dulu pernah terjadi – menjadi sebaik-baik ummat yangpernah dihadirkan untuk seluruh ummat manusia.  Tanpa kembali kepadaIslam, maka nasib yang akan kita alami, sungguh amat mengerikan, dan masa depanpun akan demikian gelap gulitanya.” (Dr. Yusuf Qaradhawi, Mengapa Kita Kalah di Palestina?

Wallahu a’lam
*penulis aktif di Kajian Zionisme Internasional

Mencari Makna "Krisis"  by : Abdullaah Muadz


” Begitu Jelas kerusakan yang terjadi didaratan dan dilautan, yang smua itu disebabkan oleh ulah tangan manusia, maka sengaja Kami timpakan siksa dari sebagian akibat perbutan mereka, agar mereka mau kembali kepada Allah SWT.”   ( Surah Ar-Ruum (30) ayat : 41 )

Menjelang kejatuhan Soeharto hingga hari ini kata ”Krisis” terus dikumandangkan. Berbagai seminar diskusi dan workshop telah digelar. Sampai kepada Presiden pun membentuk team penanggulangan krisis. Tetapi ternyata kita makin terpuruk, makin mundur kebelakang. Jangankan untuk bisa menyelesaikannya, mengerti arti krisis saja masih harus dipertanyakan.

          Apakah Mereka yang sering bicara krisis, sampai berbusa itu mulut, sudah mengeri apa arti krisis?. Apakah sudah terinternalisasi dalam jiwa dan hatinya. Apakah kita siap membangun negara ini dengan paradigma krisis. Apakah kita siap menyusus APBN dan APBD dengan asumsi bahwa negara kita sedang Kere.

          Ternyata  semua masih dipertanyakan. Kalo kita lihat gaya hidup dan prilaku masyarakat sehari-hari tidak mencerminkan sedikitpun bahwa kita sedang krisis. Yang antri beras bisa pegang HP, yang di Tenda pengungsian masih bisa joged. Begitu juga acara-acara di Televisi kita lihat sama persis dengan negara-negara maju, bahkan lebih glamour dan lebih norak dari negara yang sudah maju.
          Jadi yang perlu kita sepakati lebih dahulu adalah benar atau tidak sih kita sedang krisis...? Kok yang beli BMW bisa Indent, Real Estate laku keras, villa mewah kaya kacang goreng, jual motor di tenda pinggir jalan sama dengan jual pecel lele, apalagi yang jual HP cukup dengan lapak-lapak. Mall-mall, ITC tumbuh subur kaya jamur dimusim hujan. Sekali lagi apanya yang krisis…?

          Melihat pemandangan itu sepertinya negara kita sudah sangat makmur dan sudah sangat maju..??? apa sebenarnya terjadi pada bangsa ini. Disisi lain orang sedang banyak yang teriak-teriak krisis. Jadi apa yang krisis..? diamana krisis itu ada...? kaya apa sih sebenarnya kalo kita sedang krisis.. dan pertanyaan lainnya.

          Aneh tapi nyata kita sering mendengar berita orang yang antri beras miskin, bahkan sampai ada yang mati terjepit, ada antri minyak tanah, ada sudah biasa makan tiwul dan gaplek, ada yang sudah sering makan nasi aking, seorang petani bisa makan dengan lauk pauk hanya tiga gari setelah panen. Setelah itu biasa makan dengan sambal dan lalapan. Bahkan baru-baru ini kita mendengar seorang ibu dan seorang anak meninggal karena kelapran di Sulawesi Selatan, lumbungnya padi. Angka kelaparan, busung lapar, kurang gizi terus bertambah. Bellum lagi pengemis, pengamen, copet, pencurian, perampokan dan  sebagainya ada dimana mana.

     Dalam kondisi kere seperti ini kita melihat pola tingkah laku anak bangsa dengan gaya hidupnya yang tidak sama sekali mencerminkan bahwa negara ini sedang krisis.

          Lebih jelas lagi bisa kita lihat dalam penyusunan APBD dan APBN, sama sekali tidak mencerminkan negara kita sedang krisis. Inefisiensi masih terus ada. Anggaran untuk simbol kemewahan, ceremonial, gagah-gagahan, pamer gengsi, atribut upacara, sampai kepada proyek fiktif masih terus berlangsung. Bisa kita banyangkan jika anggaran sepak bola berpuluh kali lipat dari pada anggaran Kesra. Ada daerah anggaran sepak bola 17 miliyar sementara anggaran Kesra 100 Juta. Ada juga sepak bola 7 miliyar anggaran pembinaan UKM (Usaha Kecil Menengah) Cuma 25 juta..??? Alhamdulillah sekarang sudah ada Keputusan Mendagri tetang penggunaan APBD.

          Rupanya banyak pejabat yang nyaman, kerena sudah merasakan nikmatnya berpuluh-puluh tahun kebobrokan negara ini. Sebaliknya mereka merasa terancam jika terjadi reformasi yang sesungguhnya, mareka takut terhenti kenikmatannya kalau negara ini menjadi lebih baik. Sehingga bagaikan narkoba, dipakai terus makin membayakan, ditinggalkan susah karena sudah kecanduan. Atau pepatah mengatakan "Mengambil kesempatan dalam kesempitan".

Perlunya Diagnosa Tuntas

          Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi krisis ini, mulai dari wacana sampai pada tindakan nyata. Tapi sangat disayangkan masih bersifat Arifisial, Belum sampai kepada yang lebih subtsansial. Seringkali kesalahan dimulai dari diagnosa yang tidak tuntas, baru menemukan gejala sudah disebut penyakit. Misal seseorang batuk, itu gejala penyakit, bukan nama penyakit, penyakitnya mungkin saja atsma, radang tenggorakan, TBC dan lain lain. Begitu juga panas dingin itu bukan penyakit. Penyakitnya mungkin demam, flu, typus dan sebagainya.

          Kalau sudah ditemukan penyakit dengan tepat baru bisa dicari obat yang pas buat penyakit tersebut. Begitu juga nasib bangsa yang sedang sakit seperti sekarang ini butuh diagnosa yang mendalam, sampai ketemu pangkal persoalannya, atau akar masalahnya. Baru nanti di tentukan kebijakan dan tindakan apa yang tepat untuk menanggulanginya.

          Sebagai contoh kemacetan lalu-lintas yang sering terjadi terutama di Jabodetabek, sebagian besar kesalahan ada pada perencanaan dan tatakota, tapi  yang sering disorot biasanya polisi atau kedisiplinan masyarakat. Ambil kasus Depok, jalan Margonda yang cuma 4 Kilometer didirikan 6 buah pusat keramayan dan perbelanjaan setingkat Mall atau ITC. Belum lagi yang menengah dan toko kecil memenuhi kiri kanan margonda raya. Polisi mana yang sanggup mengatasi dampak kemacetannya. Tetapi mengapa tidak ada yang mempersoalkan tatakota.

          Begitu juga kalau kita bicara korupsi, selalu saja yang jadi sorotan penegakan hukum. Siapa pejabat penegak hukum yang belum pernah mencicipi Kue Korupsi Negara..?. Kalau ada berapa jumlahnya...? Berapa perbandingan antara aparat penegak hukum yang dianggap masih bersih dengan jumlah kasus yang antri untuk diselesaikan. Ada yang berpendapat kita mulai dari menyeret koruptor kelas kakap dulu. Kalau begitu kita butuh penegak hukum berkelas Paus atau Hiu setidak-tidaknya. Harus disiapkan aparat yang bermental baja, berhati malaikat, berkacamata yang sanggup menyensor deretan angka nol dalam gepokan uang, sehingga tidak gemetar ketika mlihatnya.  Akhirnya belunder lagi.

Jarang sekali dibahas mulai dari akar budayanya. Sampai acara ruatanpun masih dipertahankan bahkan dilestarikan, padahal jelas-jelas ritual sogok dan KKN, Irrasional, karena kita disuruh takut dengan tokoh fiktif dalam dongeng yaitu Batarakala. Kita diancam kalau punya anak tunggal laki-laki, anak kembar, di tengahnya laki-laki dan sebagainya. Supaya selamat dari ancaman kita harus mempersembahkan sesuatu dengan acara ritual ruatan.

          Sekarang kita tidak hanya sedang berhadapan sistem yang bobrok, tetapi juga kita behadapan dengan sebuah budaya peradaban serta peradigma yang sangat buobrok. Maka seharusnya tindakan dan kebijakan yang dibuat mengarah bagaimana merubah kultur dan budaya. Harus memikirkan perangkat apa yang harus dipersiapkan merubah budaya yang sudah seperti ini. Bukan kebijakan yang tambal sulam, jangka pendek apalagi kebijakan prgamatis untuk modal bertarung pada pemilu yang akan datang.

          Belum terlihat figur-figur yang betul-betul serius memperjuangkan nasib rakyat dan bangsa. Yang paling menonjol sekarang ini adalah perlomba’an untuk mempersiapkan pemilu demi pemilu. Persaingan untuk mendapatkan kursi-kursi empuk dan basah. Perebutan sarana-sarana penunjang untuk mendokrak suara. Sampai pada melirik bokong-bokong bahenol untuk diajak ngebor dipanggung kampanye agar bisa menyedot massa yang lebih banyak.