Rabu, 16 Juli 2014

Catatan I’tikaf 7 Keutamaan Berzikir

Catatan I’tikaf 7 : Keutamaan Berzikir

Catatan I’tikaf 7   : Keutamaan Berzikir
16 September 2009 pukul 19:43
Keutamaan Berzikir
. “Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah Taala. Mengingat akhirat, dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah Taala. Dengan tekad yang kuat, mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah seperti qiyamul lail, puasa tiga hari minimal setiap bulan, memperbanyak zikir dan berusaha mengamalkan do’a yang diajarkan pada setiap kesempatan”.(Risalatul Ta’lim, Hasan Al-Banna)
Selain shalat sebagai sarana utama berzikir kepada Allah, terdapat banyak cara berzikir yang lain dengan bacaan-bacaan yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Terdapat berbagai macam zikir yang sebaiknya dibaca setelah shalat dan bahkan di setiap waktu, keadaan, kegiatan selalu ada zikirnya. Maka setiap kader seyogianya bahkan harus mampu mengamalkan zikir-zikir tersebut.
Tidak ada alasan bahwa sulit menemukan bentuk-bentuk dan cara zikir, karena telah terdapat banyak buku yang dapat dibaca, baik yang masih berbahasa Arab maupun yang telah diterjemahkan. Namun demikian seorang kader, khususnya di bidang hadits atau bahasa Arab harus dapat menanyakan orisinalitas zikir tersebut atau maknanya, sehingga tidak terjebak kepada zikir-zikir yang tidak ma’tsur atau memiliki makna yang bertentangan dengan tauhid ahlussunnah wal jama’ah.
Agar seorang akh dapat mengerjakan zikir secara rutin, dapat memberikan berkah dan mengerjakan dengan penuh keikhlasan, maka perlu difahamkan akan: Dalil-dalil tentang berzikir, fadhilah berzikir, adab berzikir. Macam-macam zikir, cara membiasakan diri agar mencintai zikir dan melakukan zikir. Ancaman bagi yang tidak pernah berzikir dan contoh-contoh dalam berzikir.
Pokok-pokok Materi
1. Dalil-dalil tentang berzikir
2. Fadhilah berzikir
3. Adab berzikir
4. Macam-macam zikir
5. Cara membiasakan diri agar mencintai dan melakukan zikir
6. Ancaman bagi yang tidak berzikir
7. Contoh-contoh zikir
Maraji’
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi; Majmu’atur Rasail, Hasan Al-Banna..
Mukadimah
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran bagi kaum yang berfikir, yakni mereka yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring seraya berfikir tentang penciptaan langit dan bumi (kemudian berkata): Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab api neraka”.(QS. Ali-Imran:190-191)
Suatu saat ketika Rasulullah SAW tengah shalat tahajjud, turunlah ayat ini dan beliaupun menangis. Bilal yang berada di dekat Rasulullah SAW melihat beliau menangis bertanya: “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah?” “Celakalah orang yang membaca ayat-ayat ini(QS. 3:190-191) namun tidak juga mengambil pelajaran darinya”.
Digambarkan dalam 2 ayat di atas keterpaduan antara ayat qauliyah dan kewajiban mentadabburinya serta ayat-ayat kauniyah dan kewajiban mentafakkurinya. Kemudian juga antara kegiatan berzikir dan berfikir.
Rasulullah SAW sebagai pribadi mulia yang menjadi panutan digambarkan sebagai orang yang diamnya fikir (senantiasa berfikir) dan bicaranya adalah zikir (senantiasa berzikir). Beliau tidak pernah berdiam diri, melamun yang tidak berguna, melainkan diamnya selalu dengan konteks berfikir. Begitu pula bila beliau berkata-kata, seluruh kata-katanya mengandung zikir atau paling tidak mengandung muatan zikir.
Dalam QS. Ali-Imran:102, Allah Taala berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa (haqqa tuqatih) dan janganlah engkau mati melainkan dalam keadaan Islam”.
Makna taqwa yang “haqqa tuqatihi” dijabarkan dalam hadits sebagai berikut: “Allah senantiasa kau ingat (dzikrullah) dan tidak kamu lupakan. Allah selalu kau syukuri (bersyukur kepada-Nya) dan tidak mengkufuri nikmatnya. Dan Allah senantiasa kau taati dan tidak kau kufuri”.
Salah satu ciri ketaqwaan yang hakiki ternyata adalah berzikir pada-Nya di mana saja dan kapan saja. Artinya di dalam kondisi yang bagaimanapun kita tetap mengingatnya, berzikir dengan hati, akal dan lisan kita.
Zikirullah juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan. Dan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah akan mudah terperosok atau terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan.
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna ditaqdirkan Allah lahir ke dunia sebagai seorang mujtahid dan pejuang/mujahid. Ia seorang imam dalam segala hal, demikian ungkap Syaikh Ramadhan Al-Buthi. Ia juga pemimpin yang menyejarah, fenomenal, demikian ungkap Abul Hasan Ali An-Nadwi sedangkan komentar Al-Bahi al-Khuli, ia adalah sebuah gagasan yang menyimpan kekuatan. Dan Robert Jackson, pengamat asing menilai bahwa dalam diri Imam Hasan Al-Banna terkumpul kecerdikan politisi, kekuatan para panglima, hujjah para ulama, keimanan kaum sufi, ketajaman analisa para ahli matematika, analogi para filosofi, kepiawaian para orator dan keindahan susunan kata para sastrawan.
Salah satu bentuk kegenialan dan kecemerlangan Hasan Al-Banna adalah konsepnya tentang sosok-sosok rijalud dakwah (pelopor-pelopor dakwah). Bahwa dalam sosok rijalud dakwah itu terkandung konsep ulul albab yang memadukan antara unsur qalb dan ‘aql, antara unsur zikir dan fikir antara unsur keikhlasan, kebersihan hati, ketajaman analisis dan kesempurnaan pemahaman.
Oleh karena itu dalam buku Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna yang diterjemahkan oleh penerbit Intermedia, Solo sebagai Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin selain dibahas secara tajam dan jernih berbagai aspek yang krusial dan aktual, maka diulas pula masalah zikir secara lengkap dan rinci beserta contoh-contohnya.
Hasan Al-Banna memuji Rasulullah SAW sebagai sebaik-baik ahli zikir dan pemimpin orang-orang yang berzikir. Rasulullah adalah hamba yang paling mengenal Rabbnya, memiliki lafal-lafal yang indah, kedalaman makna zikir, do’a, syukur, tasbih dan tahmid di setiap waktu dan kesempatan baik zikir yang kecil, maupun zikir yang besar.
Karena Rasulullah SAW selalu berzikir di setiap kesempatan, maka jika ada pertanyaan kapankah kita berzikir, jawabannya adalah di setiap waktu dan tempat. Dan Hasan Al-Banna menuntut agar setiap a’dlo Ikhwanul Muslimin ber-ittiba’ dan berqudwah kepada sunnah Nabi dengan cara menghafal lafal-lafal zikirnya dalam rangka bertaqarrub kepada Allah.
Keutamaan Atau Fadhilah Zikir
Dalam Al-Qur’an ada begitu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Dan penjelasan tentang keutamaannya juga ada di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.
Bahkan di dalam QS. 33:35 yang berisikan ciri-ciri orang-orang yang akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dimulai dari laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, jujur, sabar, khusyu, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatannya hingga akhirnya puncak kriterianya adalah orang yang banyak mengingat Allah.
Dan di surat yang sama (Al-Ahzab) tetapi di ayat 41 dan 42, tertera jelas firman Allah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama Allah) dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.
Keutamaan zikir juga nampak dalam hadits-hadits ini, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.(Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).
Dan dalam hadits Hasan riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Yusr r.a. Ada seorang berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak ada padaku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang aku bisa berpegang teguh dengannya”. Rasulullah pun bersabda: “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berzikir kepada Allah”.
Paling tidak ada beberapa keutamaan zikrullah yang dapat disebut di antaranya ialah:
1. Memperoleh ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Iman dan kekuatan zikir serta hubungan dengan Allah menjadi stabilisator jiwa, sehingga seseorang selalu diliputi ketenangan dengan ketenteraman karena selalu ingat Allah. Seorang mukmin tak akan bergembira berlebih-lebihan, melonjak-lonjak atau terhanyut dalam kedukaan yang berkepanjangan. Seperti dalam hadits Nabi SAW: “Sungguh ajaiblah orang yang beriman. Bila diberi karunia ia bersyukur ( mengembalikannya kepada Allah) dan itu baik untuknya. Bila diberi musibah ia bersabar dan itu lebih baik lagi untuknya”.
2. Memberatkan timbangan hasanat di Yaumul Mizan. Kata Rasulullah ada ucapan zikir yang ringan diucapkan dan berat timbangan kebaikannya di antaranya ialah: Subhanallah, walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar.
3. Dijauhkan dari segala tipu daya setan dan marabahaya. Dengan seseorang rajin membaca zikir ma’tsurat misalnya di waktu pagi dan petang, maka ia terhindar dari segala marabahaya yang datang dari syaitan jenis manusia maupun jin. Tidak akan terkena terkena tipu daya setan, hipnotis, santet, pelet, dan ilmu hitam lainnya.
4. Memperoleh keberuntungan dan kemenangan.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman jika sudah ada adzan/panggilan untuk shalat Jum’at, bersegerahlah untuk zikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka jika sudah menunaikan shalat itu, bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah bagian dari karunia Allah dan berzikirlah kepada Allah banyak-banyak agar kalian beruntung/sukses”.(QS. Al-Jumu’ah:9-10)
Jadi berzikir kepada Allah banyak-banyak adalah kunci keberuntungan dan kemenangan.
5. Sebagai alat kontrol dan pengendali diri jika sudah berhasil meraih kemenangan dan kesuksesan. Dalam QS. 110, Allah berfirman: “Ketika pertolongan Allah, dan kemenangan sudah datang dan kamu lihat orang-orang berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah (Islam) keseluruhannya, maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan beristigfarlah. Sesungguhnya Ia Maha Pengampun”. Ayat itu mengingatkan kita agar tetap berzikir seandainya kemenangan sudah kita raih karena zikir akan jadi pengendali agar kita tidak lupa diri, ghurur atau takabbur.
Adab Berzikir
Menurut Imam Hasan Al-Banna di dalam buku “Majmu’atu Rasail” yang diterjemahkan menjadi Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin bab Ma’tsurat hal 272, yang dimaksud zikir bukanlah sebatas zikir ucapan saja melainkan segala sesuatu yang ada unsur taqarrub dan muraqabatullah. Oleh karena itu taubat juga dapat disebut zikir, begitu pula tafakkur, menuntut ilmu dan mencari ma’isyah yang halal. Sehingga seorang Muslim dapat berzikir di setiap waktu dan tempat sepanjang ia selalu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah.
Namun jika kita berzikir tanpa memperhatikan adab-adabnya, maka ia sekedar gumaman kata-kata yang terucap tanpa menimbulkan makna atsar, bekas dan pengaruhnya dalam jiwa.
Memang banyak ulama yang menyebut adab-adab dan tata cara berzikir, namun Hasan Al-Banna menyebutkan 5 adab yang terpenting dan paling utama untuk dijaga dan diperhatikan yakni:
1. Khusyu’ atau menghadirkan hati dan pikiran dalam memahami makna lafal yang terucap. Kemudian berusaha terwarnai oleh zikir tersebut dan berusaha menjalani maksud dan tujuannya dalam kehidupan nyata sehari-hari.
2. Merendahkan suara sebisa mungkin, dengan konsentrasi yang penuh dan iradah (kemauan) yang besar sehingga tidak terganggu atau mengganggu yang lain. Terkait dengan ini, Allah Taala berfirman,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.(QS. Al-A’raaf:205)
3. Sesuai atau seirama dengan jama’ah (baik dalam nada dan volume suara) agar tercipta harmoni dan kebersamaan, jika kita kebetulan berzikir bersama jama’ah. Usahakan agar tidak mendahului, lebih lambat atau lebih keras dari bacaan yang lain. Bahkan seandainya datang terlambat sementara yang lain sudah memulai berzikir, hendaknya kita langsung mengikuti bacaan mereka. Baru kemudian di akhir zikir, kita mengqadha’ bacaan zikir yang belum sempat kita baca. Tidak diperkenankan kita membaca yang lain dengan bacaan yang tengah dibaca jama’ah agar tidak mengacaukan bacaan yang lain dan mengganggu harmoni kebersamaan.
4. Bersih pakaian dan tempat serta memperhatikan/memilih tempat-tempat yang terhormat seperti masjid dan waktu-waktu yang sesuai. Semua itu dimaksudkan agar semakin menambah pengkristalan iradah, kejernihan hari dan ketulusan niat.
5. Mengakhiri zikir dengan penuh adab dan kekhusyu’an, menjauhi kesalahan dan main-main. Karena hal itu dapat menghilangkan faedah dan pengaruh zikir. Jika kesemua adab berzikir tersebut diperhatikan, dijaga dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah kita akan bisa mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari zikir yang kita baca. Kemudian akan terasa lezatnya di hati, menjadi cahaya bagi ruhani dan melapangkan dada agar dicurahi dengan limpahan rahmat Allah Taala.
Zikir Berjamaah
Ada banyak hadits yang mengisyaratkan disunnahkannya berzikir berjama’ah. Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk-duduk bersama (untuk) berzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengitari mereka, rahmat memayunginya, ketenangan turun kepadanya, dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya”.
Di banyak hadits juga diterangkan bahwa Rasulullah SAW, keluar untuk shalat berjamaah sementara mereka sedang menunggu sambil berzikir di mesjid. Lalu beliau memberikan kabar gembira dan tidak melarang mereka (melakukan hal itu).
Pada dasarnya berjamaah dalam segala kebaikan dan ketaatan dianjurkan bila membuahkan banyak manfaat, seperti bersatunya hati, menguatkan ikatan, menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, dan mengajarkan kepada orang awam yang belum baik bacaannya serta mengumandangkan syiar Allah Taala.
Namun berzikir berjamaah dapat terlarang jika di dalamnya terdapat hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti mengganggu orang yang sedang shalat, diselingi senda gurau dan tawa, menyelewengkan lafal, mengeraskan dan saling mengungguli atau mendahului dalam berzikir dan hal yang serupa itu. Bila terjadi hal-hal seperti itu maka zikir secara jama’i dilarang karena adanya kerusakan-kerusakan atau keburukan-keburukan. Jadi yang dilarang bukan berjama’ahnya. Apalagi jika zikir jama’ai itu dilakukan dengan lafal-lafal yang ma’tsur dan shahih, sebagaimana dalam wazhifah kubra dan sugra (zikir Al Ma’tsurat yang kita kenal, baca dan hafalkan)
Alangkah baiknya apabila para aktivis ikhwan sering berkumpul untuk membacanya bersama-sama di waktu pagi dan sore di tempat-tempat berkumpul mereka atau di masjid dengan tetap menjauhi hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Dan barangsiapa yang tidak bisa atau tidak sempat berzikir berjama’ah, hendaknya membacanya sendiri serta jangan sampai meninggalkannya sama sekali.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata: “Muawiyah keluar (menuju) sebuah halaqah di masjid. Ia bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk-duduk (di sini)?”. Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah”. Muawiyah menyanggahnya, “Demi Allah, kalian tidak duduk di sini untuk hal itu”. Mereka menjawab lagi, “Demi Allah, kami tidak duduk di sini melainkan untuk itu (berzikir)”. Muawiyah berkata lagi, “Saya tidak meminta kalian bersumpah karena ketidakpercayaanku kepada kalian. Karena tidak seorangpun di antara kalian yang setara denganku, di mata Rasulullah SAW dan yang lebih sedikit dariku dalam menukil hadits dari beliau (artinya Muawiyah merendah bahwa sahabat-sahabat tersebut jauh lebih mulia dan lebih banyak menukil hadits Nabi dibanding dirinya). Dan sesungguhnya Rasulullah SAW keluar menuju ke sebuah halaqah para sahabat seraya bertanya, “Apa yang menjadikan kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, ”Kami duduk untuk berzikir kepada Allah, memanjatkan puji dan syukur kepada-Nya, karena Dia telah memberikan hidayah kepada Islam dan menganugerahkannya kepada kami”. Rasulullah saw. bersabda, “Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ketidakpercayaanku kepada kalian. Namun Jibril telah datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat”.(HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i).
Al-‘Aadah (Pembiasaan) agar kita cinta dan senang berzikir.
Salah satu upaya agar kita cinta dan senang berzikir adalah dengan senantiasa mengingat manfaat zikir, keutamaan zikir, dan ancaman bagi orang yang tak pernah berzikir, sehingga kita senantiasa termotivasi untuk berzikir.
Selain itu kita memang harus membiasakan diri kita dan anak kita sejak dini agar selalu berzikir, sehingga setiap ayunan langkah, helaan nafas, denyut nadi dan gumaman bibir kita terwarnai oleh dzikrullah.
Seperti dalam gambaran indah saat seorang salafusshaleh yang masyhur: Abdullah Ibnu Mubarrak bersama saudara-saudaranya diajak ayahnya rihlah (piknik) sambil riyadhah (berolahraga) dengan mengendarai kuda di dataran yang luas dan dipenuhi pohon-pohon, “Hai anak-anakku lihatlah pohon di sebelah sana, bertasbihlah kalian hingga ke pohon itu”. Maka berderaplah langkah-langkah kuda-kuda Abdullah Ibnu Mubarrak dan saudara-saudaranya menuju pohon itu sementara mereka terus bertasbih.
Kemudian begitu sampai sang ayah kembali berteriak lantang, “Anak-anakku, lihat pohon yang di depan sana, ayo tahmid”. Mereka pun semua bertahmid sambil menderap kuda-kuda mereka. Berikutnya sang ayah menyuruh mereka agar bertakbir hingga ke pohon yang lebih jauh lagi dan akhirnya bertahlil hingga ke pohon yang di ujung. Subhanallah, betapa anak-anak menjadi terbiasa berzikir dengan senang hati dan penuh keridhaan.
Macam-macam zikir dan contoh-contohnya
Ada dua jenis zikir yakni zikir yang terikat waktu dan tempat serta tata cara yang baku seperti bacaan dalam ibadah shalat dan haji, begitu pula zikir sesudah shalat. Dan ada pula yang tidak tertentu bisa di waktu pagi dan petang, kapan saja dan di mana saja seperti wadzifah ma’tsurat. Makalah singkat ini dilengkapi lampiran wirid-wirid Qur’an dan keutamaan-keutamaannya serta do’a-do’a sehari-hari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dinukil oleh Hasan Al-Banna dalam Majmu’ah Rasailnya.
Khatimah
Di dalam khatimah pembahasan tentang zikir di Majmu’ah Rasail, Imam Hasan Al-Banna menegaskan bahwa wadzifah baik kubra maupun sughra yang kita kenal sebagai ma’tsurat adalah bukan wadzifah khusus untuk a’dho atau ikhwan saja, melainkan, juga untuk seluruh kaum muslimin.
Dengan harapan, zikir tersebut dapat membantu semuanya untuk taat kepada Allah dan menghindarkan mereka dari kelalaian mengingat Allah yang menyebabkan mereka mendapat ancaman Allah. Wadzifah tersebut dibaca di waktu pagi, dari Shubuh hingga Zhuhur dan sore hari dari Ashar hingga ba’da Isya., baik berjamaah maupun sendiri-sendiri.
Barang siapa sibuk dan melalaikannya, hendaknya tidak melalaikannya sama sekali melainkan tetap membacanya sebagian agar tidak terbiasa mengabaikannya.
Sedangkan wirid-wirid Al-Qur’an untuk dibaca siang dan malam juga adzkar yang lain dibaca pada waktunya yang tepat.
Akhirnya kita memohon kepada Allah agar Ia mencurahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dan juga memohon kepada Allah petunjuk-Nya agar kita tidak lalai, lupa dan malas. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. keluarga dan para sahabatnya.
Wallahu ’alam

Catatan I’tikaf 8 : Islamic Teaching

Catatan I’tikaf 8 : Islamic Teaching

Catatan I’tikaf 8 Islamic Teaching
1 September 2009 pukul 22:00
Islamic Teaching :
1. Knowledge of God is my Capital,
2. reason is teh Root of my Faith,
3. Love is my Foundation,
4, Enthusiasm is my Horse,
5. Remembreance of God is my Frend
6. Firmness is my Treasure
7. Soorow is my Companion
8. Science is my Instrument
9. Patience is my Mantle,
10. Contentment is my Prize
11. Poverti is my Pride
12. Devotion is my Art
13. Conviction is my Power
14. Truth is my Redeemer
15. Obedience is mya Sufficiency
16. Struggle is my Manner, and
17 My pleasure is my Prayers

Catatan I’tikaf 9 : Istighfar dan Taubat (Dr. Fadhl Ilah )

Catatan I’tikaf 9 : Istighfar dan Taubat (Dr. Fadhl Ilah )

Catatan I’tikaf 9 Istighfar dan Taubat (Dr. Fadhl Ilah )
16 September 2009 pukul 19:49
Istighfar dan Taubat
Dr. Fadhl Ilahi
________________________________________
Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan.
Pertama, hakikat istighfar dan taubat.
Kedua, dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki.
Pertama : Hakikat Istighfar dan Taubat
Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan.
“Artinya : Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”.
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahami menerangkan : “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”. (Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata ” tauba” hal. 76)
Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan : “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf”. (Riyadhus Shalihin, hal. 41-42)
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan”. Dan firman Allah.
“Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun”. (Nuh : 10)
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta”. (Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata “ghafara” hal. 362)
Kedua : Dalil Syar’i bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ta’ala. Di bawah ini beberapa nash dimaksud :
1. Apa yang disebutkan Allah Subhana wa Ta’ala tentang Nuh alaihis salam yang berkata kepada kaumnya.
“Artinya : Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuh : 10-12)
Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar:
1. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya : “Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”.
2. Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata “midraaraa” adalah (hujan) yang turun dengan deras. (Shahihul Bukhari, Kitabul Tafsir, surat Nuh 8/666)
3. Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat “wayumdid kum biamwalin wabanina” Atha’ berkata : “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian”. (Tafsir Al-Bagawi, 4/398. Lihat pula, Tafsirul Khazin, 7/154)
4. Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
5. Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata : “Dalam ayat ini, juga yang disebutkan dalam surat Hud : 3 (‘Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya’) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan”. (Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathil Tanzil, hal. 274, Fathul Qadir, 5/417)
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata : “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa menta’atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian, menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)”. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)
Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta’ala.
Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi : “Bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih 1) langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.
“Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”. (Nuh : 10-11). (Tafsir Al-Khazin, /154)
Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata : “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”.
Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan : “Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar’. (Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma’ani, 29/73). Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
“Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuh : 10-12). (Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123)
Allahu Akbar ! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar ! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai ber-istighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus mahluk-Nya.
2. Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud Alaihis Shalatu was sallam kepada kaumnya agar ber-istighfar.
“Artinya : Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Hud : 52)
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : “Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman.
“Artinya : Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu”. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51)
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan do’a. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
3. Ayat lain adalah firman Allah.
“Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Hud : 3)
Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang ber-istighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya.
“Artinya : Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu”. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma adalah. ‘Ia akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian’. (Zaadul Masiir, 4/75)
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan : “Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian”. (Tafsir Al-Qurthubi, 9/403. Lihat pula, Tafsir Ath-Thabari, 15/229-230, Tafsir Al-Baghawi. 4/373, Fathul Qadir, 2/695 dan Tafsir Al-Qasimi, 9/63)
Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata : “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan”. (Adhwa’ul Bayan, 3/9)
4. Dalil lain bahwa istighfar dan taubat adalah diantara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah 2) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka 3)”.
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada! Sekali lagi hendaknya waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.
Footnote :
1. Majadih bentuk tunggalnya adalah majdah yakni salah satu jenis bintang yang menurut bangsa Arab merupakan bintang (yang jika muncul) menunjukkan hujan akan turun. Maka Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan istighfar sama dengan bintang-bintang tersebut, suatu bentuk komunikasi melalui apa yang mereka ketahui. Dan sebelumnya mereka memang menganggap bahwa adanya bintang tersebut pertanda akan turun hujan, dan bukan berarti Umar berpendapat bahwa turunnya hujan karena bintang-bintang tersebut. (Tafsir Al-Khazin, 7/154)
2. “Barangsiapa menetapi -dalam riwayat lain- tidak meninggalkan istighfar”. Lihat, Sunan Abi Daud, 4/267, Sunan Ibni Majah, 2/339. Dan maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Ath-Thayyib Al-Azhim Abadi yaitu saat terjadinya maksiat atau adanya ujian atau ada orang yang penyakitnya terus menerus, maka sungguh dalam setiap nafas ia membutuhkan kepadanya (istighfar dan taubat). Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak”. (Hadist Riwayat Ibnu majah dengan sanad hasan shahih). (Aunul Ma’bud, 4/267)
3. Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi miliknya; Sunan Abi Daud, Abwabu Qiyamil Lail, Tafri’u Abwabil Witr, Bab Fil Istighfar, no. 1515, 4/267; Kitabus Sunan Al-Kubra, Kitabu Amalil Yaumi wal Lalilah, no 10290/2,6/118; Sunan Ibni Majah, Abwabul Adab, Bab Al-Istighfar, no. 3864, 2/339; Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabut Taubah wal Inabah, 4/292. Sebagian ahli hadits menyatakan hadits ini dha’if karena salah satu periwayatnya (cacat). (Lihat, At-Talkhish, l-Hafizd Adz-Dzahabi, 4/262; Aunul Ma’bud, 4/267; Dha’ifu Sunan Abi Daud, Syaikh Al-Albani, hal. 149). Tetapi sanad hadits tersebut dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (Lihat, Al-Mustadrak, 4/262). Dan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata : “Sanad hadits ini shahih” (Hamisy Al-Musnad, 4/55). Demikian sebagai jawaban atas apa yang dikatakan tentang salah seorang perawinya. Wallahu a’lam bish shawab.
ISTIGHFAR
“Tsakilatka ummuk,” kata ‘Ali bin Abi Thalib ketika berjumpa dengan
seorang yang berkata astaghfirullah. Ucapan itu secara harfiah berarti
ibumu pantas menangisimu atau alangkah baik-nya bila ibumu dulu kehilangan kamu. Secara idiomatis, perkataan itu diucapkan kepada orang yang berbuat kekeliruan atau menderita kemalangan. Amat mengherankan ‘Ali mengucapkan kata itu untuk orang yang membaca istighfar. Bukankah kita harus menghargai orang yang bertobat, apalagi bila yang bertobat itu bekas parampok besar atau penjarah bangsa? Kita menghardik siapa saja yang menghujat pemimpin yang sudah bertobat. Kita menganggap tidak etis atau tidak sesuai dengan norma ketimuran untuk menuntut kekayaan orang yang sudah beristighfar.
Tetapi ‘Ali menyesalkan orang yang mengucapkan istighfar. Apakah ‘Ali, yang terkenal sebagai pemimpin yang bijak, tidak etis? Dengarkan penjelasannya, “Kamu tidak tahu apa makna astaghfirullah. Astaghfirullah dimaksudkan bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi. Kata itu berdiri di atas enam topangan. Yang pertama adalah penyesalan untuk perbuatan salah yang sudah dilakukan; kedua, bertekad sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan yang salah; ketiga, mengembalikan hak-hak manusia yang sudah kamu rampas supaya kamu meng-hadap Allah dengan bersih tanpa ada satu pun kezaliman yang dipertanggung-jawabkan; keempat, kamu ganti kewajiban yang sudah kamu
abaikan sehingga kamu berlaku adil atasnya; kelima, berkenaan dengan daging tubuhmu.yang tumbuh dari rezeki haram, hilangkan daging itu dengan kesedihan sampai kulit menyentuh tulang. Setelah itu, tumbuhkan daging baru dengan rezeki yang halal; keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan pedihnya ketaatan sebagaimana dahulu tubuh yang sama merasakan lezatnya kemaksiatan. Setelah itu, ucapkanlah astaghfirullah.”
Istighfar artinya permohonan maaf kepada Allah atas dosa-dosa yang –pernah kita lakukan, baik berkenaan dengan kewajiban kepada manusia maupun kewajiban kita kepada Tuhan. Kita dengan gampang mengasumsikan bahwa istighfar adalah “pemutihan”. Dengan istighfar, Tuhan mengampuni semuanya.
Tsakilatka ummuk bila orang bisa lobs dari hukum hanya dengan sepatah kata saja. Tertipulah orang yang segera memberi penghargaan -kepada penjahat yang sudah mengucapkan patahan kata itu.
Istighfar harus dimulai dengan penyesalan. Penyesalan adalah pengakuan
-dosa dan permohonan maaf kepada pihak yang hak-haknya kita langgar. Kepada Tuhan, kita ungkapkan penye-salan dengan merebahkan diri kita di
hadapan-Nya sambil menangis. -Kepada hamba-hamba-Nya; kita harus mengaku terus terang -segala kesalahan yang kita lakukan. Kita minta maaf dengan sungguh-sungguh. Untuk tahap ini saja, betapa sedikitnya di-antara kita yang sanggup melakukannya.
Tahap yang paling berat untuk orang atau institusi yang melakukan kesalahan adalah penyesalan dengan meminta maaf. Per-nahkah kita dengar permohonan maaf dari orang-orang yang berkuasa, betapapun banyak bukti dionggokkan tentang -kesalahan mereka? Pernah, tetapi penguasa di luar negeri, menurut berita di media. Di Australia, seorang pejabat penting bunuh diri karena ia keliru menggunakan uang SPJ untuk kepentingan pribadinya. Di Jepang, seorang Menteri Perhubungan mengundurkan din karena tidak berhasil menjaga keselamatan penerbangan. Di kota-kota kecil, di seberang Atlantik, wali kota meminta maaf bila ada kerugian yang diderita warga akibat kebijakan yang salah.
Di negeri kita, ABRI segan meminta maaf bila oknum-oknumnya menculik atau melakukan kesalahan prosedur. Petugas keamanan tak pernah minta maaf bila ia gagal menjaga ke-amanan penduduk. Wali kota tak pernah minta maaf bila kebi-jakannya menyusahkan warganya. Dan presiden tak boleh kita tuntut untuk minta maaf bila pemerintahannya telah menyeng-sarakan kita.
Tahap kedua adalah tidak boleh mengulangi lagi kesalahan yang sama. Tuhan tidak akan memaafkan pemerintah Indonesia yang sesudah reformasi masih juga memberikan surat sakti untuk proyek-proyek pertambangan atau menyalurkan dana IMF secara sembunyi-sembunyi.
Pada tahap berikutnya, orang yang sudah melanggar hak orang lain harus
mengembalikan hak yang dilanggarnya. Yang sudah menjarah harta rakyat harus mengembalikan lagi semua hasil jarahannya. Yang pernah menculik harus mengembalikan orang yang diculiknya. Yang suka membodohi rakyat dengan manipulasi informasi harus memberikan informasi yang benar. Yang pernah mengadu domba harus mendamaikan lagi yang bertengkar. Yang pernah memfitnah harus merehabilitasi kehormatan orang yang terfitnah. Yang pernah merugikan orang lain harus mengganti kerugian itu.
Pada tahap keempat, para pendosa harus memenuhi kewajiban yang pernah
diabaikannya. Petugas keamanan harus melindungi rakyat setelah sekian lama mencengkeram mereka dengan ketakutan. Pemerintah harus menggunakan kekayaan negara untuk kemakmuran rakyat setelah sekian lama menggunakannya untuk memakmuran pejabat dan keluarganya. Pengusaha harus membagikan keuntungan perusahaan kepada masyarakat dengan mensejahterakan mereka setelah sekian lama menindasnya. Para perusak lingkungan harus memperbaiki lingkungan setelah lama menghancurkannya. Para pemerkosa harus mengganti segala kerugian material dan nonmaterial yang diderita korban.
Pada dua tahap terakhir; perut Anda yang kembung dari barang haram harus dikempiskan; tubuh Anda yang gemuk hasil KKN harus Anda kuruskan. Mulailah hidup de-ngan yang halal. Rasakan susahnya menjalankan kewaj-iban Anda kepada Tuhan dan kepada sesama manusia setelah Anda merasakan kelezatan melanggar kewajiban itu. Payahkan diri Anda -untuk berkhidmat kepada rakyat karena jabatan Anda setelah Anda merasakan kesenangan memanfaatkan fasi-litas itu. Setelah semua tahapan ini Anda lalui, barulah Anda mengucapkan astaghfirullah.

Catatan I’tikaf 10 Du’a MUHASABAH

Catatan I’tikaf 10 : Du’a MUHASABAH

Catatan I’tikaf 10 Du’a MUHASABAH
16 September 2009 pukul 19:53
MUHASABAH
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab oleh Allah SWT” (Umar bin Khotob)
Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah SWT. Alhamdulillah pada saat ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berkumpul ditempat ini untuk bersama-sama mengevaluasi amal-amal kita selama hidup di dunia. Apakah banyak amal salehnya atau amal salahnya.
Saudarakau !
Berbahagialah bagi yang memiliki kelembutan hati dan selalu berusaha melembutkan hati, karena Allah Maha Lambut dan menyukai kelembutan. Berbahagialah puyla bagi orang yang mencintai keindahan karena Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.
Ayat-ayat Al Qur’an adalah pelembut hati, penggetar jiwa, penggelora semangat.
Saudaraku, untuk lebih khidmatnya acara ini, marilah kita simak bberapa ayat suci Al Qur’an : Surat Al Hasyr ayat 18-20
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang yang beruntung”.
Saudaraku!
Setiap kita tentu saja ingin terus mengokohkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan takwa yang sebenar-benarnya. Karena itulah yang dikehendaki Allah sebagaimana firmannya dalam Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 102:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya: dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Salah satu cara yang harus kita lakukan untuk memantapkan ketakwaan kita kepada Allah adalah dengan melakukan muhasabah/evaluasi diri.
Apakah amal-amal kita lebih banyak yang sholeh atau yang salah, apakah amal kita bernilai ibadah atau tidak, apakah amal kita diterima Allah atau tidak.
Hidup di dunia merupakan upaya untuk mendapatkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk mengarungi kehidupan di akhirat yang bahagia dan kekal abadi selamanya.
Saudaraku, sebelum kita mengevaluasi diri kita, marilah terlebih dahulu kita minta ampun kepada Allah dengan bersama-sama membaca istighfar 3 kali.
Astaghfirullaahal adzim 3x
Ya Allah, ampunilah hambamu yang hina ini, yang selalu sombong kepadaMu, padahal kami ini sesungguhnya adalah seorang hamba yang lemah dan kecil bila dibandingkan dengan kekuasaanMu. Setiap hari, setiuap jam bahkan setiap detik yang seharusnya kami selalu mengingatMu. Namun apa yang kami lakukan ? Kami malah lebih melupakanMu dan selalu mementingkan duniawi. Ya … Allah ampuni kami.
Engkau begitu pemurah memberikan segala nikmat kepada kami yang tidak terhitung jumlahnya. Tapi ya Allah….!!! Kami malah tak pernah mensyukurinya, bahkan terkadang kami menyalahkanMu jika derita menimpa kami, padahal itu adalah karena kebodohan kami semata.
Ya Allah ….!!!
Betapa besar dosa yang telah kami lakukan. Kami sering melalaikan bahkan meninggalkan perintahMu tapi disisi mlain kami malah melanggar laranganMu.
Ya Allah….!!!
Kami sering melalaikan bahkan meninggalkan sholat, kami lebih sering jalan-jalan, ngobrol yang kesemuanya itu membuat kami lupa akan kewajiban kami kepadaMu.
Ya Allah…!!!
Kami sering mempertontonkan aurat kami sampai kami tidak merasa malu bila tubuh kami dilihat oleh orang banyak. Astaghfirullahal adzim.
Telinga ini ya Allah, hanya kami pakai untuk mendengarkan musik yang hingar bingar yang jauh dari mengingatMu. Telinga ini juga kami pakai untuk mendengar omongan yang tidak bermanfaat yang seharusnya tidak kami dengar. Telinga ini jarang kami gunakan untuk mendengar lantunan ayat-ayatMu, mendengar kebesaran dan kekuasaanMu.
Mata ini juga Ya Allah! Kami pakai untuk melihat liku-liku dan aurat para wanita yang seharusnya tidak boleh kami lihat. Padahal Engkau menciptakan mata ini adalah untuk melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaanMu. Tapi ya Allah, kami mengingkari akan kebesaran ciptaanMu.
Ya Allah…!!! Mulut kami sering kami pakai untuk membicarakan orang lain, bergunjing, berghibah sudah merupakan hal biasa yang kami lakukan, kami buka aib orang lain, bahkan dengan mulut ini kami mencaci dan memaki orang tua kami sendiri yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, dan menyayangi kami. Padahal kami sadar ya Allah, jangankan mencaci-makinya berkata Ah…. saja tidak boleh. Tapi ya Allah… kami sering mengucapkannya. Mulut ini jarang kami gunakan untuk berdzikir menyebut dan mengagungkan namaMu ya Allah dan membaca ayat-ayatMu yang suci.
Hati ini ya Allah, sudah dipenuhi oleh sifat iri, dengki, hasad dan dendam terhadap saudara kami sendiri. Hati ini sudah dipenuhi oleh noda dan dosa yang membuat hati kami menjadi keras bahkan lebih keras dari batu, bahkan pintu hati kami tertutup sehingga kami tidak bias menerima nasihat orang lain dan sulit menerima hidayah dan petunjukMu. Padahal nasihat itu adalah dalam rangka mengingatkan kami, dalam rangka mengingatkan kami kepadaMu.
Ya Allah…!!! Kami jarang memuji kebesaranMu, kami malah lebih sering memuji diri kami sendiri dan ingin dipuji orang lain. Kami sering beramal tapi hati kami tidak ikhlas.
Ya Allah ! Engkau telah banyak melimpahkan nikmat dan kasih saying kepada kami dan sudah sepantasnya kami bersyukur kapadaMu.
Al Qur’an surat An Nahl (16) ayat 104-109.
Ya Allah,
Hari-hari kami banyak terlewati tanpa mampu mempersembahkan sesuatu untukMu, tak pernah kami mengingatMu dengan baik. Hari-hari berlalu dalam kegiatan yang sia-sia dan tanpa arti. Kami terlalu silau dan terpedaya dengan kehidupan dunia.
Saudaraku,
Sesungguhnya desah napas telah terhitung, jumlah detik telah ditetapkan. Kian hari sisa napas kian berkurang detikpun kian habis. Sebodoh-bodohnya manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia. Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang diberi napas dan napasnya dibuang sia-sia, diberi waktu dan dihabiskannya sia-sia. Demi Allah! Kian hari kian dekat dengan saat perpisahan, namun perhitungan akan teramat berat, hisab akan menjadi nyata.
Saudaraku,
Jangan pernah biarkan napas dan waktu tersia-sia. Allahlah setiap napas dan detik yang kita tuju.
Ya Allah! Saat ini, detik ini dan di tempat ini, dengan hati yang kotor dan wajah yang bertabur dosa. Kami hadir untuk merenungi hari-hari kemarin, hari-hari yang telah kami lalui. Mangingat kembali dosa yang telah kami lakukan, mengingat kembali amal-amal kami yang tak Engkau ridhoi. Hal ini kami lakukan semata-mata agar senantiasa kami mendapatkan ridhoMu, agar diakhir usia kami nanti kami akan mendapatkan kebaikan. Agar pada hari pertemuan kami denganMu nanti merupakan hari terbaik bagi kami.
Ya Allah! Zat yang Maha Tahu dengan isi samudra, Yang Maha Tahu dengan jumlah dedaunan, Yang Maha Tahu dengan apa yang ada di bumi dan di langit. Kami sangat takut dengan azab dan murkaMu, kami sangat takut untuk berdiri dihadapanMu, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kami.
Saudaraku,
Jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah suatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah hilangnya keberanian untuk mengarungi kehidupan. Karena dibalik liku-liku kehidupan itu tersimpan hikmah yang dalam bagi para perncari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari dan mengarungi samudra kehidupan.
Al Qur’an surat An Naml (27) ayat 74-75
Artinya:
“Dan sesungguhnya Tuhan engkau mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka dan apa yang mereka lahirkan. Tiada sesuatupun yang ghoib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.
Saudaraku,
Ayat yang tadi merupakan suatu sentuhan ayat yang seharusnya bermakna disetiap kalbu seorang mukmin. Tersentuhkah kita ? Tergetarkah hati kita ? Setiap langkah kita dalam pengawasan Allah! Sudahkah kita merasa diawasi oleh Nya? Sudahkan kita menjadikan diri kita sebagai hamba Allah? Manjadikan diri kita sebagai abdi Allah? Sudahkan seluruh waktu kita, hari-hari kita untuk Allah?
Mana buktinya jika kita mengakui akan adanya Allah ?
Mana buktinya jika kita cinta semata-mata karena allah ?
Mana amalan yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah ?
Mana harta kita yang diinfakkan di jalan allah ?
Mana waktu kita yang kita luangkan untuk bekerja mancari ridho Allah ?
Mana tenaga yang kita keluarkan untuk berjuang di jalan Allah ?
Kami tahu ya Allah……
Engkau ada di sini, dihati kami, bahkan ada dalam aliran darah kami. Kau ada disetiap tempat. Engkau selalu mengawasi kami. Engkau selalu mengawasi perbuatan kami.
Ya Allah Ya Robbi, yang menguasai hari pembalasan. Astaghfirullahal adzim.
Ampunilah segala dosa dan kelalaian kami ya Allah.
Ya Alah!
Ketika adzan berkumandang, disaat orang bersujud kepadaMu, disaat orang bersimpuh memohon ampunanMu, disaat orang menangis dihadapanMu.
Kami sibuk dengan dunia kami, kami mengabaikan seruanmu, kami terlena oleh megahnya dunia, kami sering mengabaikan sholat, kami sering mengabaikan perintahMu, Bahkan semakin jarang kami membaca kitabMu yang menjadi pedoman hidup kami.
Betapa kami rasakan lemahnya iman di dada kami. Godaan syetan laknatullah semakin menjerumuskan kami. Dunia merayu kami mengajak tuli pada asmaMu. Harta, gelar, pangkat membuat kami melupakanMu.
Alangkah nestapa jalan di tengah kegelapan. Bagai dalam lorong gua yang gulita. Setiap langkah penuh dengan keraguan dan ketakutan, dari waktu ke waktu hanyalah kecemasan. Alangkah indahnya berjalan diatas cahaya, setiap langkah begitu mantap, setiap bahaya mudah dijauhi, setiap duri mudah dihindari.
Berbahagialah orang yang selalu rindu dengan hidayah, dan berbahagialah orang yang selalu diselimuti dengan hidayah dan selalu mendapatkan cinta dari Allah.
Al Qur’an surat Ali Imron (3) ayat : 185
Artinya :
“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Saudaraku,
Tanpa kita sadari pintu mati akan datang kepada kita dengan tanpa diduga-duga. Pintu mati itu tak ada yang tahu kapan akan menjemput kita. Mungkin setahun lagi, sebulan, seminggu, sehari, satu jam atau mungkin beberapa saat lagi, wallahu ‘alam tak ada yang tahu pasti. Jika saatnya tiba giliran malaikat maut akan menjemput kita. Siap tidak siap, mau tidak mau terpaksa atau tidak kita harus menerimanya. Tak ada yang bisa menundanya walau hanya sedetik.
Pada saat ruh telah terpisah dari jasadnya… Kemudian tersiarlah khabar kematian kita. Tubuh kita terbujur kaku. Penyesalan sebesar apapun tak ada guna. Harta sebanyak apapun tak akan menolong… Pangkat setinggi apapun tak dapat membantu.
Kemudian kita ditangisi…..dimandikan….. dikafani… disholatkan… dan dikuburkan diliang lahat yang sempit, sangat gelap. Lalu ditimbunkan tanah kejasad kita dan semuanya pergi meninggalkan kita.
Saudaraku,
Tinggallah kita sendiri di dalam kubur. Kemudian datanglah malaikat penjaga kubur menanyakan kepada kita tentang amalan kita.
Malaikat bertanya siapa Tuhanmu? Sanggupkah kita menjawabnya? Sementara di dunia ini masih saja kita menuhankan harta, kedudukan dan hal selain Allah, masih banyak perintah Allah yang kita langgar dan kita lalaikan. Bagaimana dengan sholat kita? Puasa kita? Zakat kita? Apabila kita tidak mampu menjawabnya, maka malaikat akan memukul kita.
Kemudian malaikat bertanya kembali Siapa Nabimu? Mampukah kita menjawab Muhammad Nabi kita? Sementara kita masih mengabaikan teladan-teladan yang diberikannya. Kita masih memilih idola-idola selain Rasulullah. Kita masih susah menahan hawa nafsu kita. Kita masih mengumbar aurat. Masih sulit menebarkan salam. Kepada anak yatim belum sepenuhnya menyantuni. Jika kita tidak menteladani Rasulullah pasti kita tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat tersubut. Maka malaikat akan kembali menimpakan pukulannya kepada kita. Astaghfirullahal adzim.
Kemudian malaikat menanyakan kepada kita Apakah imammu? Mampukah kita menjawab Al Qur’an? Sementara kehidupan kita sangat jauh dari al Qur’an. Sudahkan kita dapat membacanya dengan baik dalam usia setua ini? Sudahkan kita berusaha mempelajarinya, memahaminya dan mengamalkannya? Apabila kita jauh dari Al Qur’an, maka dipastikan kita tidak akan mampu menjawab Al Qur’an adalah imam kita. Kembali malaikat akan memukul kita dengan pukulan yang lebih dahsyat.
Saudaraku,
Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan kembali amalan yang telah kita kerjakan selama ini. Kewajiban kita terhadap orang tua kita yang telah melahirkan, merawat, membesarkan dan menyayangi kita. Sudahkan kita berbakti kepada keduanya? Sudahkan kita membahagiaknnya walau hanya dengan menggoreskan senyum dibibirnya? Atau apakah kita malah menyakitinya, membuat mereka bersedih, menangis dan menyusahkannya? Adakah perbuatan kita yang menyakiti hati keduanya? Sudahkan kita meminta maaf kepada keduanya? Sudah setua ini usia kita pernahkan kita membuat mereka bahagia?
Saudaraku,
Tahukah kita bagaimana keadaan mereka saat ini? Bahagiakah mereka atau bersedihkah?
Pernahkah kita bayangkan kedua orang tua kita saat ini sedang bersedih karena ulah anak-anaknya? Pernahkah kita bayangkan hidup mereka penuh derita karena perbuatan anak-anaknya?
Pernahkah kita bayangkan bahwa kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia sedang berjuang untuk menjawab pertanyaan malaikat utusan Allah tentang keimanan dan amalannya ? Pernahkah kita membayangkan keduanya sedang berada dalam kegelapan, kesempitan diliang kuburnya?
Pernahkah kita bayangkan keduanya sedang mendapat siksa para malaikat utusan Allah?
Pernahkah kita mendoakan mereka untuk meringankan siksa kuburnya?
Pernahkah…??? Pernahkah…??? Wahai saudaraku?
Allahu Robbi! Ampunilah segala dosa hambamu ini ya Allah !
Ya Allah, Ya Robbi!
Lindungilah selalu mereka berdua. Sayangilah mereka. Bahagiakanlah selalu mereka berdua sebagaimana mereka telah membahagiakan kami waktu kecil. Betapa besar jasa mereka pada kami ya Allah. Sebagian darah dagingnya telah menempel ditubuh kami. Air susunya telah kami hisap. Keringatnya telah kami peras. Sungguh dengan segala yang kami milikipun tak dapat kami membalas jasa keduanya, ya Allah. Sedangkan selama ini kami terlalu sibuk dengan urusan kami sendiri, terlalu sibuk dengan dunia kami, terlalu sibuk dengan anak, istri dan suami kami. Sampai sepenggal doapun seringkali kami lupa untuk mengucapkannya.
Ya Allah, ya Rohman ya Rohiim!
Limpahkanlah kebahagiaan kepada orang tua kami di dunia dan di akhirat. Ampunilah dosanya, terimalah amal salehnya, ringankanlah siksanya, tunjukilah mereka selalu ke jalanMu yang lurus.
Dan jika kita lihat kembali kewajiban kita terhadap anak, istri atau suami kita. Sudahkan kita berikan hak suami/istri kita dengan baik? Sudahkan kita tunaikan kewajiban kita dengan baik? Pernahkah kita menyakitinya? Sudahkan kita meminta maaf kepadanya? Sudahkan kita lindungi keluarga kita dari api neraka?
Sudahkah? Sudahkah wahai saudaraku?
Astaghfirullahal adzim. Ampunilah kekhilafan hambamu ini ya Allah.
Dan jika kita lihat tetangga, saudara atau teman-teman kita. Sudahkah kita tunaikan hak-haknya? Sudahkah kita saling menasihati? Sudahkah kita berbuat amar ma’ruf nahyi munkar? Atau malah kita berbuat kemunkaran, menyakitinya, menyimpan dendam, kebencian, iri, dengki dan keburukan lainnya? Jika Ya, sudahkan kita meminta maaf kepadanya. Ingat saudaraku! Allah tak akan mengampuni dosa kita terhadap orang lain jika kita tidak meminta maaf kepadanya.
Wahai Allah, yang Maha Menguasai segala sesuatu.
Sesungguhnya kami bermohon kepadaMu untuk selalu mencintaiMu, mencintai orang-orang yang mencintaiMu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepadaMu melebihi cinta kami kepada diri kami sendiri, keluarga kami, dan melebihi apapun yang kami cintai di dunia ini.
Untuk itu saudaraku,
Marilah mualai saat ini kita bangkit dari keterlenaan kita, kita laksanakan apa yang menjadi perintah Allah, kita tinggalkan apa yang menjadi laranganNya, kita ikuti keteladanan Rasulullah teladan yang suci.
Saudaraku, Marilah kita panjatkan doa kehadhirat Allah, berniat untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah lalu, dan kita berharap Allah mendengar dan mengabulkan doa kita.
Robbana ya Tuhan kami
Kami telah menyiksa diri
Bila tidak Kau ampuni tak Kau sayangi
Jadilah kami orang yang merugi.
Wahai Tuhan kami yang Maha Agung….
Jadikanlah cinta kami kepadaMu melebihi kecintaan kami kepada selainMu.
Ingatkan selalu kepada kami akan tujuan Engkau menciptakan kami.
Arahkan kami kepada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat
Ya Allah
Junjungan hati orang beriman,
Terimalah ibadah kami
Terimalah sholat kami
Terimalah sedekah kami
Terimalah puasa kami
Terimalah dzikir kami
Terimalah amal sholeh kami
Maafkan jika ibadah kami tercampur dengan riya’
Ampunillah jika amal saleh kami tidak dengan seluruh keikhlasan kami.
Ya Allah yang Maha Pengasih
Janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa mengingatMu
Janganlah Engkau meninggalkan kami jika kami lalai mengagungkanMu
Janganlah Engkau biarkan kami jika kami terperangkap dalam nikmatnya dunia
Jangan Engkau timpakan beban dan cobaan yang tidak sanggup kami memikulnya.
Allahmma ya Allah
Maksiat yang kami lakukan tidaklah untuk menentangMu
Bukan pula karena mengabaikan siksaMu
Ataupun menentang hukumMu
Tetapi semata-mata karena kebodohan dan kelemahan diri kami yang mudah terjerat oleh hawa nafsu
Kasihanilah kami karena kelemahan kami ya Allah
Ya Allah ya Rohman ya Rohiim
Penuhilah kalbu kami dengan cinta dan rasa takut kepadaMu
Dengan keyakinan dan keimanan kepadaMu
Serta dengan rindu dan rasa takut berpisah dengan Mu
Bimbimlah kami agar kami dapat meningkatkan akhlak dan ibadah kami
Bantulah kami agar kami menjadi orang yang senantiasa mensyukuri nikmatMu
Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun
Ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami,
Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sejak kami masih dalam kandungan
Periharalah mereka sebagaimana mereka telah memelihara kami dengan penuh kasih sayang
Cintailah mereka sebagaimana mereka mencintai kami
Berilah mereka petunjuk sebagaimana mereka telah mengajari kami
Dan lindungilah mereka dari gannguan makhluk Engkau sebagaimana mereka membela kami bila kami dizhalimi
Ya Allah
Kami sadar cepat atau lambat kami pasti kembali kepada Engkau dengan meninggalkan harta benda dan semua yang telah kami miliki
Meninggalkan anak-anak yang kami cintai
Kami sadar bahwa kami akan menghadapi sakaratul maut
Pada saat itu bantulah kami agar kami dapat mengingat engkau ya Allah
Bantulah kami agar kami meninggal dalam khusnul khotimah
Ya Allah yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat
Satu padukan hati mereka, perbaiki keadaan mereka
Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuhMu dan musuh-musuh mereka
Ya Alalh
Berilah pertolongan dan kemenangan kepada para mujahid di Palestina, Afganistan, Chechnya, Kashmir, Moro, Patani, Ambon, Aceh, Poso dan dimanapun mereka berada
Ya Allah
Laknatilah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasihMu
Ya Allah cerai-beraikan kesatuan mereka
Hancur leburkan kekuatan mereka.
Wahai Roob
Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa api neraka. Amin

Selasa, 13 Mei 2014

Do’a Munajat Seorang Pemimpin

Do’a Munajat Seorang Pemimpin

Yaa Allah yang Memiliki Kekuasaan dan Kerajaan, Perkenankanlah Hambamu pemegang jabatan berdo'a dan bermunajat memohon petunjuk dan ridho Mu
Kalaulah Jabatan itu bukan amanah dan tanggung jawab, maka cabutlah ia dari pundakku sekarang juga... yaa Allaah..
Jika menolak jabatan itu tidak termasuk berkhianat, maka cabutlah Jabatan ini dari pundakku dengan secepatnya Yaaa... Allaah..
Jika karena jabatan ini menimbulkan gesekan dan merusak ukhuwwah kami yg begitu mahal nilainya, maka cabutlah Jabatan ini dari ku yaa Allaah
Jika karena jabatan ini banyak saudaraku yang terluka, tersakiti, merasa terzholimi, maka cabut jabatan ini dari pundakku yaa Allaah.
Jika Jabatan menjadikan diriku orang yg lupa diri, ada yg merasa disingkirkan, maka cabut jabatan ini dari pundakku secepatnya yaa Allah
Jika karena jabatan ini ada yg meresa dikhianati, disakiti, dizhalimi, disingkirkan, maka cabut segera dan jangan Engkau berikan lagi padaku
Jika Jabatan dirasakan sbg Kursi Empuk yang Nyaman, maka cabut ia secepatnya dari pundaku dan jangan Engkau berikan lagi kepadaku yaa Allaah.
Jika karena jabatan ini ada yg sulit tidur, bertebaran ghibah dan fitnah, berserakan sampah, maka cabut jabatan ini sekrang juga yaa Allaah.
Jika Jabatan ini bisa menjerumuskan saya jadi tukang fitnah, ghibah, menuduh, menyingkirkan, menyakiti, menzholimi maka cabut jabatan ini segara dariku. Yaa Allaah.
Jika jabatan bisa dijadikan alat untuk mencari keuntungan pribadi, materi, duniawi, maka cabut Jabatan ini dan jangan Engkau kembalikan lagi padaku yaa Allaah.
Yaa Allah jika Jabatan ini membuat aku bangga, punya harga diri dan kehormatan, maka cabutlah sekarang juga, jangan Engkau kembalikan lagi.

Hati hati memilih Kata

Fenomena masyarakat kita saat ini dengan mudahnya mengungkapakan kata-kata tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Boleh jadi mereka belum tahu soal ini, atau karena sebab spontanitas atau karena hal itu sudah dianggap lumrah dan biasa.
Kata “lumrah” atau “biasa” ini terjadi dan yang paling kuat pengaruhnya adalah lingkungan. Tentunya bahasa lingkungan cakupannya sangat luas, ungkapan di tetangga, sekolah, majalah, koran, televisi dan media lainnya. Ini semua sangat mempengaruhi kata “ungkapan itu, sudah biasa!”.
Karena sering diungkapkan, sering didengar, sering ditulis atau bahkan disaksikan orang banyak dan bahkan terus diulang-ulang, akhirnya semua kita ‘dipaksa’ untuk mengatakan, “sudah biasa!”.
Dalam kesempatan ini saya tidak akan berbicara, perkataan yang dilarang dalam islam, seperti fitnah, ghibah (gunjing), namimah (adu domba), dusta dan lainnya yang sudah sangat banyak tulisan-tulisan ini berserakan di mana-mana. Namun, judul “Fiqih berkata-kata” ini adalah boleh jadi jarang dikaji, terlupakan atau dianggap sepele oleh sebagian orang. Atau bahkan cenderung perkataan yang sejatinya dibenci, namun terlanjur dianggap biasa!
Seorang ulama besar Ibnul Qoyim menjelaskan hal ini dalam kitabnya “Zadul Ma’ad” dengan sub judul, “Ungkapan dan perkataan yang sangat dibenci Rasulullah Saw”. sebagai berikut,

Pertama, jauhi kata “sial” atau “binasa”
Sering kita mendengar atau membaca ungkapan seperti ini,
“Ah, sial, sungguh hari ini saya sial” atau
“Mampus kamu, makanya harus ...” atau
“Wah celaka ini, kita gak bawa .... “
Kata “sial”, “mampus”, “celaka”, “binasa” dan yang serupa dengan itu sangat dibenci Rasulullah Saw. beliau bersabda,
 “Apabila mengatakan hal itu, maka mereka akan binasa.” (HR. Muslim)

Kedua, hati-hati ungkapan kesombongan
Dalam Islam boleh dan dituntut untuk berjiwa besar, optimis dan memiliki cita-cita besar. Namun ingat, hati-hati dengan kata-kata “Ini hasil pemikiran saya”, “ini gagasan dan ide saya”, “ini hasil jerih payah saya”, “ini karena kepintaran saya” dan ungkapan lain yang maknanya sama.
Ungkapan ini sama halnya dengan tokoh angkuh dahulu kala. Firaun, Qarun dan Iblis. Ungkapan Firaun misalnya, “Mesir adalah kerajaan saya!”
Atau kita simak ungkapan Qarun, “Ini karena atas dasar ilmu yang saya miliki!”.
Atau kata congkak yang dilontarkan Iblis saat itu, “Saya lebih baik dari manusia!”
Tentu, betapa buruk akhir hidup mereka. Kata-kata mereka sebagai penyebab malapetaka tak terkira. Mereka binasa dengan cara yang tak terlukis dengan kata-kata.

Ketiga, hindari kata-kata vulgar
Selama masih bisa menggunakan kata kiasan atau perumpamaan dan maknanya bisa pahami dengan bahasa kiasan itu adalah lebih baik. Adalah al Quran dengan gamlang menjelaskan hal ini.
Seperti di tulis seorang ulama bernama Imam Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar, dalam bukunya “Metapora al Quran” (al Amtsal fil Quran). Sebut misalnya dalam al Quran dikatakan,
“Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al Baqoroh: 187) 
Al Quran tidak secara vulgar mengatakan hubungan suami isteri. Namun menggunakan perumpamaan “pakaian”. Mereka adalah “pakaian” bagi kamu.

Keempat, takutlah dengan sumpah selain nama Allah
Dimasyarakat sering kita mendengar, “sumpah pocong” dan lainnya selain menyebut nama Allah. Termasuk mengatakan “Jika kamu melakukan hal ini kamu Yahudi atau Nasrani” adalah harus kita hindari. Atau kata-kata “Demi bintang sagitarius”, “demi tuhan” dan lainnya. Takutlah dan menjauhlah dari sumpah seperti ini!

Kelima, untuk para ulama, ustadz dan guru berhati-hatilah!
Kebiasaan yang buruk adalah para ulama, ustadz atau guru kalau di tanya terus tidak bisa menjawab mereka merasa malu. Hingga akhirnya mereka menjawab petanyaan-pertanyaan tersebut ngasal dan hanya bersifat apologis. Padahal hal tersebut bukanlah aib. 

Misalnya ungkapan, “Allah telah menghalalkan ini dan itu” atau “Allah telah mengharamkan ini dan itu” padahal itu masuk kedalam permasalahan ijtihad. Atau ungkapan “ini dalil quran dan as sunnah”, padahal hal itu adalah tambahan atau perkataan dan lintasan pikirannya saja.
Betapa banyak orang-orang yang terjerumus kedalam dua fenomena ini, ia telah merusak agama dan kehidupan dunia.
Demikianlah diantara yang perlu dihindari dari perkataan seperti ini. Allah Swt berfirman,
“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 26)

Perkataan yang buruk diibaratkan dengan pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, pohon itu tidak bisa tetap tegak sedikitpun. Tidak ada akar, ranting atau buah yang segar. Tidak ada daun dan tidak bisa dipanen. 

Secara nalar yang sehat perkataan buruk seperti itu, tulisan dan ucapannya tentu rugi dan amatlah rugi. Lebih baik bersama dengan sebaik-baik perkataan daripada sibuk dengan perkataan buruk seperti itu. Berkatalah yang baik, atau kalau tidak bisa lebih baik diam!
Semoga bermanfaat.
Sumber: Zadul Ma’ad karya Ibnul Qoyim dengan subjudul “Fi Hadyihi Sholallohu’alaihiwassallam Yukrohu An Tuqol”

Sabtu, 10 Mei 2014

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لا تغضب ولك الجنة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”
Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’
Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,
الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,
إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,
يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039] Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)